Wanita Cerewet dan Batu Akik Pria
Saya ingin mengeluh kepada para pembaca, dan lucunya, banyak juga para pembaca yang mempunyai "hobby" aneh, yaitu "mengeluh" juga. Disadari atau tidak, terkadang ada beberapa orang ditakdirkan untuk selalu mengeluh. Dalam bahasa akrab di kita adalah "cerewet" atau "rewel" untuk istilahnya.
Apa pun selalu dikeluhkan. Entah itu udara, makanan, pekerjaan, tetangga, suami, anaknya dan semuanya lah untuk singkatnya. Herannya, mereka yang suka mengeluh atau cerewet itu tadi didominasi oleh kaum hawa. Jika Anda sebagai kaum hawa, tidak setuju, itu juga sah-sah saja karena memang belum ada penelitian yang valid dan reliable akan hal itu.
Para ibu atau kaum hawa menjadi cerewet itu menunjukkan banyak hal yang bersifat positif dan negatif dalam dirinya. Bisa aja karena beban hidup, punya sifat perfeksionis, perasaan cinta yang berlebihan (possesif) atau perasaan was-was dan selalu khawatir berlebihan. Sambil mengomel pun, sering bisa meledak tangis dan derai air matanya.
Bagaimana dengan pria?
Biasanya, kaum laki-laki jarang mengeluh atau mengomel. Jika marah, benci, tidak nyaman atau sedih, mereka cenderung untuk untuk tetap diam dan berusaha menguatkan hati dan jasmani saat banyak mendapat tekanan hidup ini. Bahkan sudah banyak yang lupa bagaimana rasanya menangis dengan berbagai alasan dan penyebabnya. Bisa karena malu, harga diri dan lain sebagainya.
Saya tidak bermaksud membela kaum Adam melalui artikel ini, namun hanya memberikan gambaran bahwa sebetulnya para pria pun juga sama menderitanya dengan kaum wanita. Laki-laki cenderung menahan dan menerima perasaan derita dirinya. Sedangkan kaum hawa cenderung melepaskan beban derita melalui kalimat verbal dan kita menyebut mereka "ibu atau istri cerewet".
Sering suami hanya diam saja dalam kasus ini sehingga dikatain oleh orang lain sebagai sosok suami takut istri ( ISTI). Padahal kita tahu hal itu tidak lah benar. Bisa jadi suaminya sangat sabar dan penyayang, mungkin, istrinya saja yang terlalu berani pada suami.
Kaum Adam cenderung diam saat banyak tekanan hidup dan melepaskannya dengan aktivitas seperti memancing, touring, traveling dan hobby diam lainnya seperti memelihara burung kicauan, burung dara aduan atau mengoleksi batu akik. Dalam hal, karena terlalu sering "memendam beban hidup", banyak para kaum Adam yang menderita sakit. Coba saja diamati, prosentase panjang usia, kaum hawa akan unggul. oleh karena itu, banyak nenek yang masih menikmati hidup dengan cucu dibandingkan para kakek dalam masyarakat.
Saat sakit, kaum Adam justru lebih memercayai khasiat batu akik daripada ke dokter. Itu juga mengherankan saya. Para pria tahu bahwa ada 12 jenis warna batu akik di dunia . Pria percaya bahwa bila batu akik itu dicelupkan dalam segelas air selama beberapa saat dan kemudian diminum, akan berkhasiat mengobati semua penyakit dalam tubuh mereka dan menjadi "gagah perkakas" kembali seperti anak remaja.
Suatu malam, saya tersenyum mendengar obrolan para pria yang lari dari omelan istri di rumahnya, dan mereka berkumpul di komunitas pecinta kopi di "BeCe Cafe". Salah satu dari mereka bertanya apakah saya penggemar batu akik dan percaya akan khasiatnya. Saya pun menjawab bahwa saya BUKAN penggemar batu akik tapi percaya akan khasiatnya. Hal itu membuat yang hadir di Cafe itu menjadi tertarik untuk menanyai saya.
Akhirnya, saya jelaskan bahwa saya tidak punya cincin batu akik, tapi saya pernah diberi batu akik warna hitam oleh seseorang yang tidak saya kenal. Para teman saya yang terdiri dari para bapak yang berada disitu ada yang menanyakan, apakah saya pernah mencoba menyelupkan batu akik warna hitam tadi ke dalam segelas air dan merasakan khasiatnya.
Dengan jujur dan sedikit malu, akhirnya saya mengaku pada mereka semua yang menunggu jawaban akan pertanyaan mereka dengan wajah yang penasaran dan tidak sabar. " Alhamdulillah, saya sudah merasakan khasiat dari segelas air yang di dalamnya saya celupkan batu akik warna hitam tadi, yaitu ternyata bisa menyembuhkan sakit haus dan dahaga di kerongkongan saya. Manjur dan keren, kan?".
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
