Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Baby Boomers  Y Gen  X Gen  Millenial Gen  Z Gen (Part 3-Tamat)
selfdeigned by canva

Baby Boomers Y Gen X Gen Millenial Gen Z Gen (Part 3-Tamat)

Part 3# Tamat

Generasi Millenials, dalam istilah lainnya adalah Y Gen, dilahirkan antara tahun 1980 sampai dengan 1995 mempunyai pola pikir bahwa pendidikan merupakan prioritas yang utama dalam kehidupan ini untuk mendapatkan perubahan taraf hidup ekonomi menjadi lebih baik.

Mereka berfikir praktis dengan bekerja sambil menyelesaikan perkuliahannya. Memasuki sekolah ikatan dinas atau militer. Begitu ada pekerjaan yang menawarkan jenjang karir, mereka akan merasa stabil dalam penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka mempunyai waktu untuk mengembangkan hobinya.

Hobi yang mereka lakukan semata untuk menghilangkan tingkat stress yang mudah terjadi pada anak di Gen Y ini. Banyak faktor yang menjadi penyebab stress. Lapangan pekerjaan yang menjadi semakin terbatas, tingkat resesi ekonomi, situasi politik yang berubah cepat, juga memicu penundaan untuk segera memasuki dunia pernikahan. Paling berat adalah tekanan ‘Kalimat” pada dirinya untuk “Harus Sukses” dari orang tuanya yang berasal dari Generasi Baby Boomers dan Generasi X.

Sedangkan anak saya yang kedua, termasuk dalam kelompok Generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1996 sampai dengan 2019. Mereka semua adalah anak-anak murni era globalisasi yang didengungkan oleh generasi sebelumnya. Para Z Gen ini, sangat bebas dalam mengembangkan pola pikirnya. Mereka tidak mau terkukung dalam kehidupan paternalistik (Berpola, tersistem dan teratur).

Pikiran mereka selalu optimis menatap masa depan, berorientasi pada dunia global, menerima apapun keragaman budaya. Jika Anda tahu, mereka yang ada di generasi ini liburan, kuliah, shopping dan travelling ke dalam dan luar negeri adalah hal biasa. Sungguh tipe eksplorer yang mencari kepuasan diri dalam pekerjaan, pendidikan atau hal lainnya. Mereka sangat menikmati hidup dan bersenang-senang.

Penampilan diri adalah wajib hukumnya bagi para Z Gen. Mereka bisa dengan santainya pindah dari satu pelerjaan ke pekerjaan lainnya tanpa beban. Para orang tua dari generasi sebelumnya, sebut saja Gen X seperti saya, hanya berusaha untuk memahami pola pikir mereka, tetapi akan menjadi konflik yang berkepanjangan dalam keluarga apalagi orang tua mereka masih di Generasi Baby boomers (Feodal, Otoriter dan Patternal). Pemaksaan kehendak adalah pemicu konflik.

Mereka yang berada di Z Gen ini, terutama di negara maju dan modern, enggan untuk memasuki dunia militer. Seperti ulasan di atas, bahwa generasi ini produk dari globalisasi sehingga mereka mengutamakan ‘kenyamanan’ dalam bekerja. Tidak heran, untuk memperkuat jajaran militernya, semua anak muda di beberapa negara maju harus mengikuti Program Wajib Miiter (General Issue-GI).

Hebatnya, orang tua dari generasi X dan dan awal generasi Y yang mempunyai anak di kelompok Generasi Z, selalu berusaha untuk memberikan dukungan dalam bentuk apapun demi memberikan kesempatan pada mereka di generasi Z agar segera bisa mandiri secara ekonomi. Semua itu dilakukan semata karena perasaan kasih sayang yang berlebihan (Overprotective).

Mereka tidak ingin anak-anak di generasi bawahnya hidup menderita seperti generasi sebelumnya. Bayangkan saja, mereka yang ada di generasi Baby Boomers, Kata ‘Piknik, Jalan-jalan atau refreshing, apalagi shopping’, adalah hal tabu. Semua pengeluaran harus ditekan, termasuk untuk konsumsi. Mereka memilih untuk mengalahkan dirinya dengan hidup super hemat.

Terakhir, yang perlu diantisipasi terutama dalam hal pekerjaan, adalah anak-anak di generasi Alpha. Anak yang lahir susulan di akhir 2005 sampai dengan sekarang. Hati-hati, orang tua mereka bisa jadi ada di Generasi X, seperti saya meskipun umumnya mereka milik dari generasi Y , bahkan lebih parah dari anak generasi Z juga. Bila anak dari Generasi X, itu artinya buah kegagalan dari Program Keluarga Berencana atau menganggap dirinya sudah tidak produktif (Menopouse).

Nah, akhirnya kita bisa mengambil kesimpulan dalam kasus Kayo, kenapa pola pikir antara dirinya dan kedua orangtuanya selalu berjalan berbeda arah dan tidak bisa saling memahami dalam menyikapi perspektif kehidupan ini.

Tamat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post