Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengenal Rizki Ainuna, Mengikuti Jejak Gurunya ke Universitas Nagasaki
selfdesigned dokpri

Mengenal Rizki Ainuna, Mengikuti Jejak Gurunya ke Universitas Nagasaki

Oleh ; E.A. Wahyudiono

Rasanya sesuatu banget untuk menuliskan kisah ini. Perasaan haru, bangga, salut, gembira dan lainnya tercampur aduk menjadi satu dalam hati diri ini. Bagaimana tidak, baru-baru mendapatkan kabar dan surat juga dari Rizki Ainuna W. Alumnus SMA Negeri 1 Magetan, bahwa dia mendapatkan beasiswa per 1 Oktober 2021 untuk melanjutkan Fakultas Teknik, Jurusan Water and Environmental Engineering, Program Masternya di Universtas Nagasaki, Jepang.

Saya mengenal sosok Rizki Ainuna sejak masih masih berada di bangku SMA. Gadis cantik kelahiran tahun 1997 dengan zodiak Sagitarius yang berhobi travelling ini adalah anak yang pendiam, sedikit pemalu namun selalu bersungguh-sungguh dalam belajar dan aktif berorganisasi. Tidak heran, selepas masa SMA di Magetan, dia langsung diterima di Universitas Airlangga, Surabaya.

Begitu wisuda online program Sarjana-S1 (Undergraduate Program), dia sudah ditawari untuk aplikasi beasiswa S-2 ke Jepang dan setelah melalui perjuangan dan serangkaian tes akademis dan TOEFL  yang membuatnya jatuh bangun, akhirnya dia dinyatakan lolos dengan beasiswa Monbukagakuso (MEXT) dan kampus penempatannya adalah Universitas Nagasaki di Pulau Kyushu, pulau besar paling selatan dari wilayah Jepang.

Mendengar hal itu, Saya sebagai gurunya merasa bangga luar biasa tak terkira. Akhirnya ada satu murid saya yang ada dan bisa menapak tilas pengalaman saya sebagai gurunya saat menempuh study di Universitas Nagasaki, kampus yang sama dengan beasiswa yang sama pula. Lucunya, Asrama mahasiswanya juga sama, yaitu di Nishimachi International House di Nichimashi, wilayah kota sebelah barat Kota Nagasaki. Lokasi Nishimachi terletak dekat dengan hypocenter (Titik Jatuhnya bom atom) dan hanya ditempuh 10 menit bersepeda dari asrama.

Selama baru tiba di Jepang, dia harus menjalani prosedur karantina selama 15 hari di Tokyo karena pandemik Covid-19 masih belum berakhir. Kesempatan masa tunggu itu, saya selalu berkomunikasi dan memberikan arahan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di Jepang agar tidak terjadi kejutan budaya (Shock Culture Understanding) pada dirinya seperti kasus saya dulu.  Terkadang, saya juga memberikan kursus bahasa Jepang secara online untuk hal-hal yang bersifat sangat penting dalam proses membangun komunikasi demi lancarnya Rizki menempuh study lanjutnya di ChoDai (Nama lain dan singkat dari Nagasaki University berdasarkan huruf kanji awalnya).

Rizki merasa terbantu saat dia sering berlatih mengikuti TOEFL (Test of English as Foreign Language) selama belajar di SMA, sehingga sekali tes, dia dinyatakan lolos dan berhak mendapatkan beasiswa sebesar 144.000 Yen. Jika dikurskan ke dalam rupiah, kira-kira sebesar Rp.15.000.000. Beasiswa itu sudah sangat berlebih karena termasuk beasiswa tertinggi di Jepang. Apalagi tanpa membayar biaya kuliah alias gratis sampai dia lulus.

Dalam suratnya, Rizki merasa sangat beruntung dan berterima kasih atas dukungan dari kedua orang tuanya, juga para dosennya di Universitas Airlangga, serta para gurunya di Smasa Magetan. Salah satunya adalah Ibu Riris Ratnasari, guru agama Islam, semasa di SMA sangat mendukung penuh padanya. Hal itu dilakukan karena ibu Riris sendiri juga pernah berkesempatan untuk mengikuti program Short Course di Australia pada awal tahun 2016 dan menjadikan motivasi bagi beliau untuk mendorong para muridnya menjadi lebih hebat daripada gurunya.

Saya yakin, kelak Rizki Ainuna juga akan mengharumkan nama  SMA Negeri 1 Magetan, dan Universitas Airlangga sebagai almamater yang mengantarkannya menjadi sosok yang akan dan selalu menginspirasi adik-adik kelasnya di Sekolah untuk mengikuti jejaknya. Saya sampaikan bahwa banyak alumni Universitas Nagasaki yang menjadi orang hebat. Sebut saja, Prof. DR. Yusli Wardiatno, M.Sc., yang sekarang menjabat sebagai Atase Pendidikan di KBRI Tokyo, Jepang. Juga, Prof. DR. Abdul Jabarsyah Ibrahim, MS.c., Mantan Rektor Universitas Borneo, dan sekarang Rektor Universitas Kaltara.

Rizki Ainuna sudah mengikuti jejak saya sebagai gurunya, juga teman sekelasnya saat di SMA, yaitu Mohammad Alfian Gumelar, yang saat ini sedang menempuh program Master (Daigakuin) juga di Keio University, Jepang. Bagaimana agar bisa memperoleh beasiswa untuk belajar ke luar negeri sebenarnya sangat mudah. Semua tinggal tekad dan minat serta keberanian untuk mengembangkan kemampuan diri.

Jika ada anak yang ingin belajar ke Universitas baik di Jerman, Jepang, Korea, Italia, Inggris atau Negara lainnya dengan atau tanpa beasiswa, Silakan untuk jangan ragu dan menghubungi saya. Semoga kisah dari sosok Rizki Ainuna W., ini bisa memberikan motivasi pada para murid yang saat ini sedang belajar di SMA 1 Magetan, dan juga murid dari sekolah lain tentunya.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post