Waspadai Anak didik yang bertipe Lane Hogger
Sebentar, Sebelum mengulas tentang isi artikel ini lebih lanjut, Anda tahu apa yang dimaksud dengan istilah Lane Hogger itu?
Istilah itu sebenarnya dipakai untuk sebutan bagi pengemudi yang berjalan dengan kecepatan statis pada lajur jalan dinamis yang tidak sesuai peruntukannya di jalan raya. Biasanya, Lane hoggers ini bisa ditemukan di jalan tol ( tax on location) atau jalan utama yang menghubungkan antar kota.
Kita semua tahu, sering kita temui ada dua atau tiga lajur pada jalur mobil di jalan raya untuk satu sisi jalan yang dipisahkan oleh pagar, garis kuning atau putih dan bahkan beton sebagai separator jalan ( pemisah arah arus jalan). Lajur paling kanan dari jalur adalah untuk kecepatan tinggi karena mendahului kendaran lain, prioritas pejabat negara, untuk situasi emergency dan peruntukkan lainnya dengan tetap di bawah batas kecepatan yang ditentukan.
Jika anda sebagai pengemudi tentu akan merasa jengkel bila ada kendaran yang berjalan merayap dan pelan di lajur kanan yang padahal di depannya sama sekali tidak ada kendaran lainnya alias kosong. Semestinya, bila berjalan santai dan pelan, ambil saja lajur sebelah kiri. Gara-gara, Lane hogger ini, banyak kecelakaan terjadi di jalan raya utama atau tol.
Apa hubungannya Lane Hogger dengan anak didik?
Sebagai guru, kita tentu tahu bahwa sebenarnya ada anak didik kita yang bertipe lane hogger juga. Bisa jadi saat berada di kelas atau sekolah. Jika begitu, selanjutnya dimana letak komplikasinya?
Begini, ada satu anak yang cerdas di kelas menjadi lane hogger karena berjalan cepat di lajur (kelas) lambat. Sebaliknya, ada anak yang kurang dalam kemampuan koginitif, juga bisa menjadi lane hogger saat berada di kelas aksekerasi atau kelas SKS ( Sistem Kredit Semester). Guru harus menunggu beberapa anak yang lambat dalam penguasaan materi. Disadari atau tidak, beberapa anak yang lainnya juga akan merasa terganggu karena harus belajar materi pelajaran yang mereka anggap terlalu mudah atau sama terus menerus.
Belum lagi bila ada anak bermasalah dalam tanda kutip disebut nakal misalnya, yang bila boleh diibaratkan sebagai mobil, dia mengemudi di antara dua lajur dan tepat di tengah garis separator jalan. Siswa, atau mobil yang kiri juga mobil di sebelah kanan, tidak bisa melaju lebih cepat dalam penguasaan materi pelajaran. Ini yang dimaksud anak didik tipe Lane Hogger tersebut. Semua akan berpotensi menjadi masalah pada diri mereka, murid yang lainnya, juga bagi gurunya.
Penulis tidak bermaksud membandingkan anak didik dengan mobil secara nyata, namun kita semua tahu bahwa setiap mobil itu berbeda kapasitas mesinnya (CC), kecepatannya, kemampuan dan peruntukkannya juga yang disesuaikan dengan medan jalannya. Bila boleh, murid kita juga seperti itu.
Tapi apa daya, semenjak era zonasi dalam penerimaan peserta didik baru diputuskan, adalah ibarat jalan tol untuk semua jenis kendaraan termasuk sepeda motor, dan bila perlu sepeda angin alias sepeda 'pancal' juga. Bisa ditebak, fungsi jalan tol akan menjadi sama dengan jalan raya biasa yang penuh dengan kemacetan.
Untungnya, dunia pendidikan bukanlah jalan tol untuk menggapai sukses melalui kecepatan. Bila ada anak didik yang menjadi lane hogger, itu juga biasa aja. Kita punya senjata guru yang disebut KaKaeM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) dalam penilaian kecepatan penguasaan materi pelajaran dan hebatnya lagi, semua jenis mobil sudah ditentukan bahwa kecepatan minimalnya 80 km/jam dan maksimal 100 km/jam meskipun angka kecepatan di speedometer di dasboard mobil dibuat oleh pabrik hingga 190 km/jam.
Sekarang tinggal para kepala sekolah, guru, dan karyawan sekolah, adakah dari diri mereka sendiri yang juga menjadi Lane Hogger, seperti halnya anak didik selama menjalankan proses belajar mengajar di sekolah yang melaju di jalan tol dunia pendidikan?
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
