Bisa Melihat tapi Buta
Kita semua pasti pernah melihat gemerlapnya bintang-bintang di langit saat malam cerah tak berawan di waktu malam. Apalagi, saat sedang berkemah atau tidur terlentang beralaskan tikar sambil memandang langit dengan ditemani keluarga tercinta.
Saya jadi ingat masa kecil di desa bila liburan tiba. Karena besar di Surabaya, menghabiskan hari libur jauh dari bisingnya kota adalah hal yang menyenangkan dan menentramkan hati. "Healing", itu istilah yang tepat untuk digunakan di zaman sekarang ini.
Biasanya, setelah makan malam, nenek selalu mengajak untuk tidur-tiduran di bentangan tikar daun pandan di teras dengan halaman yang terbuka. Halaman tanah yang paginya dipakai untuk menjemur gabah padi atau kedelai agar cepat kering.
Di malam gelap tanpa adanya aliran listrik untuk lampu rumah dan jalan desa di masa kecil saya, memandang bintang-bintang di langit adalah hiburan tersendiri. Kadang-kadang, bila beruntung akan sempat melihat komet atau 'bintang jatuh' yang terbakar secepat kilat saat memasuki atmosfir bumi. Biasanya, kita diminta menyebutkan cita-cita agar kelak bisa terkabul. Sungguh momen indah di masa kecil yang selalu diingat dan dirindukan.
Perasaan takjub dan bahagia muncul saat melihat kerlap kerlip bintang di langit di malam hari memantik rasa syukur tak terkira kepada Allah SWT karena hanya DIA, Zat Maha Pemilik dan Penguasa alam semesta beserta isinya. Mbah Tasmi, orang desa mengenal nenek saya dengan nama itu. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kelak, bila terjatuh, masihlah akan tetap jatuh atau menyangkut satu di antara para bintang-bintang!"
Itulah pesan almarhumah nenek yang selalu saya ingat sampai dengan sekarang. Masih terbayang wajahnya yang teduh dengan kerutan usia, senyum dengan gigi merah utuhnya yang rapi karena susur dan rambutnya yang lurus panjang tetap menyisakan aura kecantikkan di masa gadisnya.
Sungguh saat itu, saya masihlah buta meskipun mampu melihat. Dalam imajinasi saya, bintang itu berbentuk lancip dengan mempunyai 5 (lima) segi. Ternyata setiap kerlipan bintang itu adalah cahaya yang dipendarkan oleh satu planet akibat terpapar sinar matahari dan cahaya itu terpantulkan ke bumi.
Saya sangat buta bahwa saat itu ada jutaan bintang (planet) dan ratusan galaksi di alam semesta. Manusia, hanya mengenal dua (2) galaksi, yaitu Bimasakti, yang bumi ada di dalamnya serta Andromeda, yang kita belum mampu bepergian ke sana karena jarak jutaan tahun cahaya untuk menggambarkan waktu yang dibutuhkan bila melakukan perjalanan ke sana.
Bila di malam hari, kita mampu melihat kerlap kerlip bintang di langit, sejatinya saat itu kita sedang menikmati pendaraan cahaya bintang setelah melakukan perjalanan ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu dan baru tiba di bumi saat malam di mana kita sempat melihatnya. Hal itu terjadi terus menerus namun kita semua para manusia masih enggan merenung akan rahasia Illahi dibalik semuanya.
Buta akan ilmu, buta akan makna kehidupan di alam semesta, buta akan tujuan kita diciptakan Allah SWT ke dunia yang tidak kekal ini dan seterusnya lagi. Kilauan cahaya keduniawian telah membutakan mata dan hati kita yang menganggap bahwa semua kehidupan ini terjadi karena kebetulan saja. Bila demikian, itulah kita yang sesungguhnya, yaitu bisa melihat tapi buta.
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
