Kisah Ihsania, Siswi Islamic International School di ajang GYS Singapura 2022
Gurusioners yang baik hati, berikut ini kisah yang dikirim kepada saya tentang pengalaman seorang murid sekolah dari Islamic International School (IIS) kepada saya. Ayuk disimak bersama kisah yang dikemas dengan gaya bahasa anak remaja. Salam.!
***
"Kalian mau nggak ke Singapura?"
Wushh.. pertanyaan itu muncul di kala sebelum pengumuman pemenang Inotek 2022 di umumkan. Pertanyaan ini sekaligus menjawab konstan rundingan kecil dengan Ms Immas, tepat sebelum tawaran ini datang. Ingin seketika menjawab iya, tapi pikulan tanggung jawab ini harus saya dan team tuntaskan terlebih dahulu.
Pemenang INOTEK-pun di umumkan, setelah euphoria kemenangan kami rasakan. Tawaran tadi kembali terngiang -ngiang. Tapi membayangkan betapa berat proses persiapannya saja membuatku sempat mengurungkan niat. Bagaimana tidak, untuk persiapan lomba INOTEK saja saya dan teman teman harus menjelma layaknya tukang-super dadakan.
Beberapa hari berlalu, tawaran itu hampir melebur diantara tugas dan jadwal pelajaran yang begitu tidak berperi-kesiswaan hingga 1 notif whatsapp masuk. Poster berisi informasi tindak lanjut dari tawaran ke Singapura. Global Youth Summit ke Singapura.
Gejolak di dalam dada benar benar bergemuruh. Lantaran keinginan membalas dendam atas beberapa kegagalan yang kualami 3 tahun terakhir. Jika bisa di hitung jari selama saya SMA sudah tertolak sekitar 5 program youth summit ke luar negeri, tapi kali ini tawaran itu datang sendiri. Jadi bagaimana bisa saya menolak tawaran ini? Tapi sebuah perjalanan tidak akan berkesan jika tidak ada banyak penghalang.
Beberapa hari setelah terkirimnya poster itu, Saya dan beberapa teman di panggil ke ruang HOD. Tepat sekali, kami di kumpulkan untuk merundingkan GYS tersebut mulai dari perlombaan, persiapan dan biaya. Beberapa kali saya senggol bahu Awa dan Caca, teman seperjuanganku, untuk sekedar memastikan akankah mereka akan mengikuti perlombaan ini.
Sampailah saya di puncak kebimbangan berangkat atau tidak. Saya tak mau memaksakan kehendakku sendiri karena di sini jelas peran ibu dan bapak terlibat. Ku putuskan untuk mengambil izin pulang ke Kediri, jarak yang terbentang mengharuskan saya untuk pulang, karena kalau hanya lewat telpon istilahnya tidak marem (nyaman).
Diskusi Panjang dengan orang tua membuahkan fatwa, tidak berangkat. Memang sudah diniati Lillah apapun hasilnya, saya pun merangkak tidur dengan sedikit rasa sedih di hati. Sebelumnya Saya sudah menelpon Caca dimana di Magetan sana ia mengabariku bahwa tak akan ikut dengan segala pertimbangkan yang memang sudah tak tergoyahkan.
Esok pagi ketika selesai jamaah subuh ibu merangkulku dengan air wajah bahagia, dan berbisik “kakak berangkat ya ke Singapura, ibu usahakan begitu juga kakak harus mengusahakan benar kesempatan ini. Rasa campur aduk seketika mengerubungi seluruh tubuhku, top to toe. Tak di sangka sangka sifat pantang menyerah dari Mr Gebya bisa meluluhkan hati kedua orang tusaya. Terimakasih Pak!, mohon maklum mungkin saya belum sempat menyampaikan ini hehe.
Pikiranku langsung melenggang jauh membayangkan betapa asyiknya nanti ketika saya bisa benar benar berangkat kesana. Tapi lagi lagi harus ada perjuangan panjang untuk mencapai hal yang mana tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Di tambah cerita cerita seru yang tak bosan bosan saya dengarkan dari Ms. Hira ketika berbincang bincang mengenai betapa hebatnya negara kecil di ujung sana.
Di technical meeting pertama saya tak bisa hadir karena badanku sudah tak bisa lagi menahan lelah beberapa bulan terakhir. Jadi Awa siap sedia mengabariku dari sekolah. Ada perubahan di bagian tim, karena mengharuskan berisi 3- 4 orang, sementara tidak adanya Caca membuat Wonder Women team hanya menyisakan saya dan Awa sebagai yang tercantik dari keseluruhan team dari GENZIIS.
Kekosongan tersebut otomatis di isi oleh Bro Khalid dan Bro Dullah. Menyisakan hari hari berikutnya dengan kesibukan mulai dari putar otak agar si Orbit bisa di bawa terbang, juga inovasi pembaharuan, di lanjut dengan tiada hari tanpa artikel tentang SDGS, suara bor, panasnya solder, nasi goreng larut malam, candaan-candaan garing karena kelelahan juga sambatan sambatan yang terus menemani hari hari kami selama menjelma jadi tukang-super untuk kedua kalinya, tapi kali ini tukangnya lebih international nih!.
Oh iya belum lagi tentang performance yang harus kami bawakan untuk acara di hari ke-tiga, hmm terdengar sangat asyik bukan? Keseharian menjabat sebagai super-tukang.
Ada cerita menarik di balik mini-orbit yang akan kami presentasikan di Singapura nanti, salah satunya adalah nempil melamin. Cerita ini berawal ketika Saya dan team kesulitan menemukan bahan cover untuk si mini orbit karena akrilik terlalu rapuh dan mahal.
Akhirnya saya dan Ms Indah memutuskan untuk menjelajahi seluruh toko bangunan yang ada di kota Magetan. Sebenarnya saya dan Ms Indah sudah beranggapan toko bangunan pasti sudah tutup karena menjelang malam.
Apa salahnya berusaha? Pikirku. Benar saja, semua toko bangunan yang kami lihat di Google Maps sudah tutup, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke sekolah lagi. Di tengah perjalanan dengan penuh harap saya tetap memantau sekitar jalan, barangkali ada yang masih buka.
Mata saya menangkap sesuatu tapi bukan toko bangunan, tapi ada keyakinan bahwa mungkin rumah ini bisa bantu. Saya menepuk pundak Ms Indah dan mengatakan bahwa kami melewatkan sesuatu yang mungkin bisa membantu.
Di karenakan jalur ini satu jalur, saya dan Ms Indah harus putar arah dulu kembali ke jalan besar. Sampailah saya di rumah itu, rumah berisi banyak gerobak. Yaps! saya merasa bahwa tukang buat gerobak pasti punya pasokan bahan yang mungkin bisa jadi cover si mini orbit entah itu triplek atau apapun itu. Turunlah saya dari motor dan langsung menuju ke rumah tersebut yang sepertinya sudah tidak ada orang.
Untung saja seorang bapak bapak keluar sambil membawa kunci dan bertanya akan tujuanku datang kemari. Kujelaskan se jelas mungkin dan mengharapkan bantuan dari bapak tersebut. Beliau tersebut langsung menawarkan sebuah melamin, katanya sudah tidak terpakai.
Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan dan segera menanyakan tentang harga yang harus saya bayarkan. Tapi sungguh baik hati bapak ini, beliau memberikannya dengan cumacuma. Saya jadi semakin yakin bahwa ketika Allah berikan satu kesulitan maka Allah sudah siapkan beribu ribu jalan keluar tinggal ikhtiar dan sabarnya kami saja. Dapat bahan cover bagus, gratis pula, Alhamdulillah.
Memasuki minggu kedua, kami mulai sibuk untuk mempersiapkan segala keperluan berkas dan tentunya nyawa kami semua yaitu, passport. Kiriman paket yang berkali kuterima berisi surat surat penting yang harus saya bawa ketika mendaftarkan diri untuk membuat passport.
Lagi lagi jarak rumah membuat saya berkali kali harus menerima kiriman paket, karena tidak mungkin saya harus pulang ke rumah. Perdramaan membuat passport pun di mulai. Ms dan mr benar benar ingin kami berangkat dengan meminimalisir hambatan jadi kami harus benar benar teliti dan sat set untuk segala keperluan.
Bolak- balik ke kantor imigrasi karena layanan di Mall Pelayanan Publik tidak bisa memenuhi keinginan kami. Di tambah lagi Bro Yahya yang harus membayar denda karena sudah menghilangkan passportnya, hadeh. Setelah drama pembuatan passport di lanjut drama persiapan performance.
Saya dan Awa memang tak banyak terlibat di bagian performance tapi kami bekerja di balik layer seperti menyiapkan barang barang seperti kostum dan beberapa hal lain. Ms dan Mr sangat bekerja keras untuk persiapan sesempurna mungkin demi mencegah hal hal tak terduga terjadi ketika hari-H nanti. Tak lupa Latihan presentasipun juga kami lyakan.
D-Day
Seluruh koper sudah siap hari itu, dan juga sudah di timbang dan di check list seluruh isinya dengan kertas yang di bagikan Mr Geb. Koperku terlalu berat, untungnya Ms Indah, Bro khalid dan bro chandra dengan senang hati memberikan ruang kopernya untukku.
Setelah itu kami melsayakan do bersama dan pembekalan dari Mr Puji. Beliau menyampaikan bahwa kami tidak hanya pergi untuk perlombaan tapi juga untuk belajar banyak hal dan membawanya Kembali ke sekolah, hatiku mantap menjawab Iya.
Kami berangkat bersama sekolah tetangga tentunya jadi lebih ramai. Tiba di bandara, untuk pertama kalinya saya masih tidak percaya bahwa doa yang kulantunkan sedari kecil akan benar benar menjadi nyata, bismillah.
Seluruh proses mulai dari imigrasi dan segala pengecekan berjalan lancar karena usaha keras kami sebelumnya, lagi lagi alhamdulillah. Sesekali Pak Eko datang untuk menanyakan keadaan kami, ingin ku jawab lebih baik dari sebelumnya pak, berkat pak eko saya dan teman teman bisa mendapat kesempatan ini. Terima kasih pak eko.
Jantungku berdegup kencang saat saya mulai masuk kedalam pesawat, memang agak ndeso kesannya tapi tidak masalah memang begitu adanya, tak habis habis saya mengucap syukur dan membaca serapalan doa.
Sebelum pesawat take-off ms memastikan bahwa saya akan baik baik saja. Alhamdulillah perjalanan pertama berjalan lancar walaupun sedikit mual, ndeso ha ha. Sesampainya di Bandara changi, lagi lagi saya di manjakan dengan megah dan rapinya bangunan tersebut.
Kami di jemput menggunakan mini bus, yang pastinya bukan sumber kencana. Selama perjalanan saya tak melihat satupun kemacetan atau bahkan mungkin tiang tiang listrik yang hampir roboh dan juga jalan berlubang, benar benar nihil.
Sesampainya di hotel kami di bagi perkamar 2 orang, yups saya senang ketika mendapat jatah sekamar dengan Awa, nomor 03-335. Saya di perkenalkan dengan Habri yang akan menjadi tourguide kami. Di lanjut dengan istirahat, ngomong ngomong di hari pertama ini ku benar benar merasakan apa yang namanya jetlag, juga perbedaan waktu yang sama sekali belum pernah kualami.
Day 1
Mungkin karena kecapekan saya dan Awa bangun sedikit kesiangan. Akhirnya saya buru buru untuk bersiap diri dan segera turun untuk sarapan, pagi itu sedikit mendung tapi menambah kesan nyaman di tempat baru. Oh iya semalam kami makan di tempat uncle Hussain, tapi pagi ini kami mencoba sarapan yang lain.
Setelah itu di lanjut dengan acara, saya terlupa membawa payung. Jadi saya merepotkan Awa karena harus memayungiku. Jarak gedung acara tidak jauh hanya jalan tidak sampai 5 menit. Saya sedikit nerveous tapi harus tetap terlihat ready menghadapi semua ini.
Pembukaan acara berjalan lancar bahkan luarbiasa sampai akhirnya kami di bagi perkelompok dan berkenalan satu sama lain. Oscar, Aldi, Salwana, dan beberapa kenalan lain. Pembagian mrt-card, wow! untuk pertama kalinya saya punya kartu seperti ini, LOL.. Selanjutnya adalah pengenalan peraturan untuk lomba di esok hari.
Huft berat rasa di pundakku. Setelah itu makan siang, saya dan Awa membeli makan seporsi berdua karena belajar dari semalam yang tak habis untuk menghabiskan porsi makan disini, begitu juga porsi minumnya. Kusarankan untuk take away saja, mubadzir brodie, kami kaum eman eman xiixiixi.
Setelah rentetan acara yang asyik sekali kami langsung pulang ke hotel lagi untuk bersiap bertempur. Masing masing dari kami sudah sibuk dengan prototype masing masing, si orbit sedikit mengambek, mempersulit kami dan membuat kami hampir menyerah di penghujung malam, tapi untungnya bisa di atasi bersama. Kami tidur larut malam, dengan wajah wajah kelelahan berharap esok masih ada harapan.
Day 2
Lagi lagi saya kesiangan, perbedaan waktu membuat saya sedikit kesulitan. Tak lupa sarapan dulu dan saya segera mengirimkan beberapa pesan ke Ibuku dan juga Ibu Nyai. Tak minta doa supaya menang tapi meminta doa supaya lancar dan berkah seluruhnya.
Saya berjalan sambil membawa beberapa hand-out dan peralatan orbit. Kami harus bolak balik hotel- geray karena banyaknya peralatan yang tertinggal, belum lagi drama hilangnya tas bro Rafli yang berisi seluruh surat penting, firasatku mengatakan ada di tempat makan, tapi bro Rafli bilang tidak ada di sana yasudah seperti rafli yang ku kenal dari SMP, wajah seriusnya bukannya membuatku khawatir atau tsayat tapi malah ingin tertawa, tapi suasana tak memungkinkan.
Setelah beberapa waktu, nini cantik datang menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi lalu dia mengatakan turut prihatin dan memberikan permen jahe. Setelah itu sesi perlombaan di mulai saya harus bolak balik ke kamar mandi karena mules, nerveous maszeh.
Suasana menjadi sangat tegang dan melelahkan, benar memelelahkan. Setelah presentasi sampai performance kami sudah melsayakan yang terbaik. Hari itu saya yakin bahwa ada faktor-faktor lain yang akan memepengaruhi hasil kami, tapi persiapan dan usaha akan sangat membantu dalam penanganan masalah itu sendiri. Congratulation! untuk teman teman MAGIC you guys deserve the thropy.
Malam harinya, kami pergi mencari makan ke Bugis Street. Tepat seperti yang sudah ms hira ceritakan, seluruh hal di sini benar benra tertata rapi dan serba cepat.
Day 3
Saya bangun dini hari, tapi bedanya kali ini saya bersemangat walaupun sangat lelah. Hari ini acara outdoor, kami akan pergi ke Somerset Festival. Di sana saya mencicipi beberapa jajanan dan juga mengunjungi sebuah stand yang luar biasa keren, yang membuat keren adalah banyak orang berpartisipasi di sini.
Mencicipi wine halal, ice cream lavender, menulis di stand love ourself. Teman teman sangat antusias disini. Setelah lelah mengitari seluruh stand yang ada, kami akan pergi ke destinasi selanjutnya, yaitu Sentosa Beach. Disini saya dan teman teman sudah mulai terbiasa berjalan cepat dan juga terbiasa menaiki MRT.
Sesampainya di sana, Saya merasa layaknya sedang berada di film film barat yang sering saya lihat. Finally, saya bisa mencicipi pengalaman ini. Menonton layer lebar di pinggir pantai dengan banyak mobil van yang di gunakan untuk piknik. Selanjutnya Ms dan Mr ingin mengajak kami menaiki sky ride, karena budget kami minim kami harus turun naik bis bukan go car.
Tapi tak masalah bagiku, yang penting masih bersama sama. Menonton sunset terbaik sepanjang masa, kami duduk duduk sambil bercengkrama menikmati sunset. Beberapa dari kami segera pergi ke pantai untuk mengejar moment. Saya dan Awa tak mau kalah.
Setelah puas mengambil foto, saya menghela nafas panjang karena kami di haruskan untuk pulang. Seperti biasanya, di sini untuk pulang dan pergi ke suatu tempat kami berjalan dan menggunakan mrt. Sesampainya di hotel kami segera tidur eh tak juga, kami pergi ke sevel (seven eleven) untuk mendapatkan beberapa snack dan tentunya mie instan.
Day 4
Di hari terakhir kami mengunjungi Garden By the Bay dan kampung Arab untuk membeli oleh oleh. Banyak terjadi di sini, moment moment yang sampai sekarang saya simpan. Mulai dari mengerjakan form tugas tentang pengamatan yang harus kami lsayakan di Garden By the Bay, melihat teman teman kegirangan thrifting sepuasnya dan secara cuma cuma, keributan membeli oleh oleh dan terakhir pulang dengan badan dan kaki sangat lelah.
Akan tetapi kami harus tetap berberes untuk kepulangan esok hari. Berat memang untuk meninggalkan tempat ini tapi mengingat kembali ada tanggung jawab yang harus di selesaikan dengan begitu thank you Singapore, I’m coming Tanah Air.
****
Pengalaman selama di Singapura adalah sebuah perjalanan yang tidak akan habis untuk di ceritakan. Lingkungan baru, kebiasaan baru dan juga hal hal yang saya pelajari dan alami di sana, akan menjadi bekal saya untuk bersiap ke perjalanan selanjutnya.
Beribu- ribu terimakasih yang mungkin belum sempat saya sampaikan ke pada ibu dan bapak, IIS PSM tercinta yang telah memberikan kesempatan ini untuk saya.
Juga Ms dan Mr yang selama ini membimbing dan mendampingi kami terkhusus Ms Indah, Ms Immas, Mr Gebya, teman teman yang sangat asyik dan humble, Ms N, Pak Eko , Ms Hira, Uncle Husain, seluruh yang terlibat dalam perjalanan luar biasa dan tentunya keluarga pondok yang tak ada habisnya mendoakan dan men-support saya dan juga teman teman yang terus membersamai saya.
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
