Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kue Ulang Tahun
Sumber image dari pinterest.com

Kue Ulang Tahun

Pemandangan pagi hari di dapur rumah sederhana itu cukup berantakan. Beberapa alat dapur dan bahan masakan terletak di sembarang tempat. Alih-alih suara burung yang menyambut cerahnya hari ini, suara mixer menutup se-isi ruangan.

Wanita yang berusia tidak kurang dari 50 tahun itu sibuk dengan kedua tangannya. Satu tangannya menakari tepung ke dalam mangkok, satunya lagi menggenggam ponsel canggih yang berisi resep dari internet.

Pagi itu adalah hari yang membahagiakan baginya, anak pertamanya yang bernama Naliya menginjak usia 17 tahun, sudah jelas bahwa ia sedang mempersiapkan sesuatu. Karena hari ini Naliya berangkat sekolah lebih pagi dan pulang larut, maka ia bisa mempersiapkan kejutan dengan waktu lebih lama.

Di tengah kericuhan suasana dapur, anak laki-laki dengan seragam sekolah biru dan putih itu menghampiri ibunya. “Apa yang ibu masak pagi ini hingga dapur sangat berantakan?” Arza, melontarkan pertanyaan. “Menyiapkan sesuatu.” Ibunya membalas seadanya. “Baik kalau begitu aku berangkat sekolah dulu, bu.” Arza, putra keduanya itu pamit sambil menyalami tangan ibunya yang penuh tepung. Kembali ia melanjutkan aktivitas dapurnya.

Kini wanita itu berpindah kesibukan di ruangan lain, namun suara microwave yang berbunyi setelah beberapa menit membuatnya bergegas mengeluarkan isi didalamnya. Aroma yang dipancarkan sungguh sangat lezat langsung dapat dirangsang oleh indra penciuman. “Akan aku simpan di kulkas, untuk ku hias nanti.” Katanya.

Kembali ia pada kesibukan kedua nya hari ini, menjahit segumpal kain bewarna merah menjadi gaun. Sudah menjadi hobinya, lihai saja tangannya menarik jarum jahit sesuai dengan pola baju yang ia tentukan. Gaun yang ia jahit sendiri itu hadiah khusus untuk Naliya pakai di ulang tahun ke-17 nya. Wanita itu menjahit dengan bahagia bisa terlihat dari senyum simpul di wajahnya.

Sudah terlewat beberapa jam setelah ia sibuk, kini dapur sudah bersih dan rapi kembali. Bahkan ia juga sudah menyulap ruangan tengahnya dengan sangat cantik. Gemerlap lampu hias dan balon-balon membuat senang mata yang memandang.

Tipikal ibu yang menjadi idaman banyak orang, ia mempersiapkan semua ini untuk ulang tahun anaknya. “Saatnya mengeluarkan kue yang sudah aku hias.” Wanita itu berseru kemudian tangannya lincah menata kue diatas meja dan menambahkan lilin dengan api menyala diatasnya. Kue tiga tingkat itu telah siap untuk menyambut Naliya. Di meja itu terlihat pula kotak dihiasi pita yang tidak lain adalah berisi gaun merah yang telah ia jahit tadi.

Suara ketukan pintu membuat cepat kepalanya menoleh dan dengan cekatan membukakan pintu. Naliya berdiri didepan. “Selamat ulang tahun putriku Naliya!” Seru wanita itu sambil memeluk erat anaknya. Naliya membalas pelukan ibunya tercinta. “Ayo masuk nak, dan tiup lilinnya.” Ia menuntun Naliya untuk masuk.

“Ibu sudah membuatkanmu kue ulang tahun impianmu, dengan selai coklat dan tiga tingkat, benar kan?” “Ibu masih ingat dengan rinci kue ulang tahun yang kau inginkan sejak dulu.” Naliya yang mendengar itu berlinang air mata dan hanya membalas sepotong kata “Terima kasih bu.” Pelukan hangat menyusul perkataanya.

10 menit setelah pelukan itu adalah acara tiup lilin, berlangsung bahagia dan mengharukan. Kue tiga tingkat itu juga sudah dipotong. “Ini adalah hadiah dari ibu untukmu Naliya, ibu jahit dengan tangan ibu sendiri, pakailah.” Ujar wanita itu sembari menyodorkan kotak hadiah pada Naliya.

Arza sudah datang tidak lebih dari lima menit yang lalu mengamati perilaku ibunya. “Mengapa Ibu melakukan ini?” Ibunya seketika langsung menoleh ke arah Arza yang berdiri dibelakangnya. “Apa maksudmu? Mari sini Arza, kau telah melewatkan acara tiup lilin. Dari mana saja kau baru pulang?.”

Ruang tengah minimalis itu lengang sejenak, hingga Arza menjawab, “Dari membersihkan makam kak Naliya, bu!.” Mendengar kalimat itu, ibunya hanya menatapnya nanar dengan redup mata yang kosong.

Malam itu seketika menjadi bisu, hanya udara dari pintu yang sedikit terbuka mengisi ruangan, tak ada kata yang keluar dari mulut wanita itu. “Kak Naliya sudah pergi bu, ia sendiri yang menginginkannya. Menurutnya mati lebih baik daripada harus hidup dengan penyakit.

Ibu sudah berusaha merawat kakak tapi ia tidak melihat itu dan memilih pergi. Sudahi semuanya bu. Ibu kelelahan, sekarang ayo Arza bantu minum obat dan beristirahatlah.”

Dengan berat Arza melanjutkan perkataannya, memecah keheningan dengan mengingatkan memori benang merah pada ibunya. Arza telah menghentikan malam haru ibunya yang sedang merayakan ulang tahun Naliya, sendirian. (N22P30 EA7 MGT131123)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post