Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Setinggi Tiang Jemuran
DOKPRI

Setinggi Tiang Jemuran

Jian adalah pelajar yang pintar. Bakat pun mungkin bisa ditebak hanya dengan kebiasaan kebiasan yang dia lakukan dengan atau tanpa disengaja. Hobi dia jelas tidak tetap dan selalu berganti sesuai film apa yang sedang dia tonton, aneh bukan?

Jika ditanya apa mimpinya dari kecil, dia pasti bakal menjawab mau jadi orang kaya saja. Tidak bertele tele. Namun dibenak orang lain pun juga bertanya, jadi orang kaya yang bagaimana?

Keseharian Jian jelas hanya bersekolah, tidur, bermain dan diulang berkali kali sampai tiba waktu dimana ujian sekolah dilaksanakan. Jian hanya bersikap biasa saja seolah tidak ada getaran karena sedang dilaksanakannya ujian sekolah, melainkan dia malah memainkan gawainya dengan santai dan membuat balon dari permen karet yang dikunyah sedari tadi karena dia tau dia pasti akan menjadi siswa dengan nilai rata rata paling tinggi.

Guru yang sedang mengawasi jelas jengkel, guru tersebut langsung merebut gawai Jian dari genggamannya. Jian pun mengernyit,

"Kenapa bu?"

Bu guru tersebut dengan wajah penuh amarah menjawab dengan lugas dan tegas bahwa Jian telah membuat dia kesal karena sedari tadi hanya terfokus kepada permen karet dan gawainya bukannya mengerjakan soal.

“Masih nanya? kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan ini tidak sopan dan tidak beretika? apakah hal tersebut pantas bagi seorang murid? ingat Jian, hidup tanpa etika itu sama saja seperti menyesatkan diri"

Jian hanya membuang muka acuh dan menghiraukan guru dia. Karena guru tersebut sangat kesal, jadi dia hanya meninggalkan Jian.

Jian berpikir apakah menjadi orang kaya harus menaati peraturan yang rumit? atau harus menjadi murid yang sopan? apakah menjadi orang kaya harus duduk diam saat pelajaran di kelas? Jian mulai berpikir dan bertanya tanya apakah hal tersebut berdampak pada bisa atau tidaknya dia menjadi orang kaya.

Namun jian tetap berada di jalan yang dia ambil, dia tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Seperti dugaannya, Jian mendapat nilai rata rata paling tinggi di sekolahnya. Jian pun langsung menjanjikan diri dia bahwa dia akan menjadi orang kaya di masa depan.

Setelah ujian dilaksanakan dan jian pun dinyatakan lulus, dia masuk di Universitas favorit dalam negeri dan lulus dengan sebutan cumlaude. Hidup enak yang dia damba dambakan dari kecil akhirnya sudah dia capai, dan menjalani hidup dia sebagai orang kaya yang angkuh seperti angannya dulu.

Namun setelah sekian lama Jian menjalani kehidupan manisnya tersebut, dia baru sadar bahwa apa yang dikatakan guru dia itu ada benarnya, hidup tanpa etika itu sama saja seperti menyesatkan diri.

Sekarang dia terduduk di lantai paling atas di rumah susun kumuh di Jakarta sambil memakan mie goreng dengan segelas air putih di sampingnya. Ia sadar bahwa hidup itu tidak melulu harus menjadi yang paling teratas, dan etika itu seperti pegangan jemuran yang rapuh, jemuran tersebut membutuhkan penyangga agar tetap berdiri. (NAZ-SIN 10 EA MGT 51123)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post