Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Reny Nurlaili, Guru SMAN 1 Magetan Melawat Ke luar Negeri sebagai Kado Ultahnya
Reny Nurlaili di Petronas Tower Malaysia. Dokpri

Reny Nurlaili, Guru SMAN 1 Magetan Melawat Ke luar Negeri sebagai Kado Ultahnya

Sebentar! Membaca judul artikel di atas, mengapa bisa mendapat kado ke luar negeri bagi seorang guru saat berulang tahun?

Begini, Guru cantik yang dianugerahi dua anak ini bernama lengkap Reny Nurlaili Septiana dan biasa dipanggil “Bu Reny” oleh rekan guru lainnya atau oleh para muridnya. Dilahirkan pada bulan September tahun 1987 di Kota Magetan, Jawa Timur.

Saat ada tugas lawatan kerjasama pendidikan ke Negara Singapura dan Malaysia, ternyata juga bersamaan akan hari dan tanggal dengan keberangkatannya ke luar negeri. Jadi, tidak salah bila kita menyebutnya bahwa terbang ke negeri Jiran itu merupakan kado terindah dalam hidupnya.

Apalagi sosok guru cantik dengan lesung pipit di pipinya yang pemalu ini ternyata juga berhobi traveling dan kuliner. Lengkaplah sudah karena semua saling mendukung aktivitasnya.

Mau tahu lagi? Ibu Reny ini merupakan guru bahasa Inggris dan dulunya adalah murid saya di SMA pada tahun 2005. Sangat membenci mata pelajaran bahasa Inggris, namun sekarang justru menjadi guru di sekolah yang sama dengan saya dengan bidang studi yang sama pula. Aneh, kan?

Jadi, dia adalah murid saya, sahabat saya,junior saya dan juga guru saya. Mengapa saya katakan guru saya? Itu karena saya juga banyak belajar pada perjuangannya dan keikhlasannya dalam mensyukuri nikmat Allah SWT.

Anak bungsu dari empat bersaudara ini adalah putri dari Almarhum Pak Muhajir, seorang ustadz yang kondang di Kabupaten Magetan yang juga seorang ASN dengan jabatan pengawas sekolah madrasah di bawah Kementerian Agama.

Kakak perempuannya pernah menyelesaikan studi program doktor di salah satu Universitas di Brisbane, Australia dan beliau itu merupakan motivasi terbesar bagi Reny untuk selalu belajar lebih giat. Dari empat bersaudara, dua di antaranya telah menjadi seorang pendidik dan pengajar.

Secara tidak langsung Reny dan para kakaknya telah meneruskan perjuangan almarhum ayahandanya sebagai guru yang membanggakan demi mencerdaskan anak didik yang merupakan generasi penerus bangsa ini di masa depan.

Pertama kalinya bertugas ke luar negeri, naik pesawat terbang, dan berada di Negara tetangga merupakan anugerah yang selalu disyukuri oleh ibu Reny. Sampai-sampai, kursi saya yang dekat jendela pesawat diminta tukar olehnya hanya demi bisa mengabadikan momen dan melihat pemandangan indah ciptaan Allah SWT.

Saya yang sering bertugas ke negara lain, menjadi malu karena terkadang lupa bersyukur akan nikmat Allah SWT seperti karakter mulia yang dimiliki oleh ibu Reny yang meskipun naik pesawat terbang saja sudah dianggap anugerahNYA yang luar biasa.

Guru yang sangat ramah pada anak didik ini, saking bahagia dan terharunya sampai sulit menjelaskan dengan kata-kata betapa budaya dan bahasa serta way of life orang di Negara lain ternyata sangat berbeda dan menjadikan satu inspirasi serta motivasi bagi dirinya untuk menjadi seorang pendidik sejati.

Satu hal yang dirasa sedih oleh ibu Reny adalah saat pulang, ternyata bagasi kopernya menjadi lebih gemuk dan dompetnya menjadi lebih tipis dibanding sebelum berangkat. Hal itu pasti bisa kita tebak, ternyata bagi beliau, menahan diri untuk tidak menjadi shopaholic itu tidaklah mudah.

Dari banyak kasus, ternyata ibu Reny juga tidak lolos dengan mudah di imigrasi saat berada di Negara lain. Sistem komputer imigrasi masih belum bisa terkoneksi otomatis dan terpaksa, scanning wajah dan sidik jari secara manual harus dilakukan. Dampaknya, hal itu membutuhkan waktu yang lumayan lama juga.

Karena saya sering bepergian ke luar negeri dan juga di paspor saya banyak cap atau stempel imigrasi, sistem komputer segera mengenali dokumen saya sehingga tidak ada satu menit semua urusan lancar bagi saya namun tidak bagi guru yang baru pertama bertugas ke luar negeri.

Ada satau hal yang membuat ibu Reny takjub. Itu adalah perilaku orang saat berjalan, baik di Singapura maupun di Malaysia. Mereka semua berjalan cepat dan tidak bicara satu sama lain atau melihat androidnya. Semua fokus pada dirinya dan juga sekitarnya. Itu pasti karena mereka sangat menghargai waktu agar tidak terbuang sia-sia.

Belum lagi kebersihan kota dan daerah yang dilewati oleh ibu Reny disamping masyarakatnya yang ramah dan bisa menjaga toleransi. Sering mereka menyapanya, namun rasanya ada Lost in Translation antara ibu Reny dengan orang Malaysia meskipun sama-sama menggunakan bahasa Melayu.

Masalah pasti banyak terjadi saat berada di luar negeri, namun Ibu Reny mampu menemukan solusi secara cepat dan mengatasinya agar tidak terdampak gagap dari apa yang kita sebut dengan istilah “Kejutan budaya atau Shock Culture” bila berada dan tinggal di Negara orang lain.

Catatan Ibu Reny di Malaysia, September 2024

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post