Di Mana Posisi Guru di Orkestra Musik Diferensiasi?
Masih berhubungan dengan topik yang diunggah di platform media online para guru tanah air, **(censored)** yang berjudul "Serendah Inikah Kemampuan C-1 Anak Didik Kita?", ulasan berikut ini juga membahas pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Nah, apa sebenarnya yang dimaksud Pembelajaran Differensiasi itu sehingga setiap guru di tanah air harus memahami dan mampu menerapkannya untuk memberikan pelayanan pada anak didik.
Jika mengacu pada beberapa penjelasan, diferensiasi itu sebenarnya dapat disimpulkan pada satu strategi guru dalam mengajar dengan melihat bakat, minat, kemampuan kognitif dan psikomorik anak didik berikut mengetahui gaya, cara dan metode belajarnya masing-masing.
Saat guru sudah memahami hal itu (C2), selanjutnya bagaimana menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas ( C3) dan menganalisa permasalahan yang muncul selama kegiatan ( C4) hingga memberikan evaluasi akan ketercapaian dari penguasaan materi pada anak didik yang beragam di kelas (C5) sesuai taxonomi Bloom.
Bila dianalogikan sebagai sebuah Orkestra, musik akan terdengar indah saat semua harmonisasi mengalir pada tempat dan waktunya di dalam ruang musik anak didik yang memegang alat musik yang berbeda sesuai minat dan bakat mereka masing-masing.
Nah, pertanyaan selanjutnya, di manakah posisi guru di dalam orkestra kelas agar mereka bisa dilayani sesuai kompetensinya?
Bila sebagai Kondektur atau pengarah musiknya, itu artinya semua guru harus bisa menguasai semua alat musik yang berbeda tersebut. Wow, betapa supernya profesi guru bila benar begitu!
Kementerian Pendidikan adalah pencipta lagunya dan dikirim ke guru melalui nada di Not angka atau balok. Dalam hal ini, sosok kepala sekolah adalah conductor yang memimpin sebuah okestra musik sekolah agar dimainkan dengan irama yang indah.
Guru dalam ini, sebetulnya bertugas sebagai tool man-nya, yaitu seseorang yang bertugas men-transpose semua kunci nada agar berbunyi sama meskipun kunci nada dasar setiap alat musik dari setiap siswa berbeda kunci karena perbedaan kemampuan mereka.
Biarkanlah murid yang memegang gitar bermain kunci nada C, untuk pemegang bass dengan kunci G, untuk biola dengan kunci D dan lainnya sesuai keterampilannya, namun di-transpose oleh guru menjadi satu kunci nada yang sama sesuai kunci yang tertulis di naskah not balok atau angkanya.
Bila diabaikan oleh guru, bayangkan saja harmonisasi dan keindahan suara musik yang dihasilkan dari pembelajaran diferensiasi.
Pastilah akan ada dishamoni okestra atau bahkan disassembled orkestra yang berarti kelas yang tidak menghasilkan pengetahuan apa-apa karena ketidakadanya kompetensi guru dalam memaknai pembelajaran diferensiasi itu sendiri.
Magetan, Oktober 2024
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
