Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Serendah Inikah Kemampuan C-1 Anak Didik Kita?
Gambar Scrernshot dari video papa.grot.Tik Tok

Serendah Inikah Kemampuan C-1 Anak Didik Kita?

Menjelang memasuki usia pensiun ini, ada satu hal yang mengusik hati ini saat melihat potongan video yang dikirimi oleh seorang sahabat guru dari sekolah yang sama dari tempat kami mengajar.

Beliau meninta pendapat saya karena merasa sangat prihatin dengan apa yang ditunjukan oleh para siswa-siswi dari salah satu SMA di tanah air. Hal itu bisa diperhatikan dari seragam mereka, yaitu putih abu-abu.

Setelah melihat potongan video yang diunggah di aplikasi Tik Tok, papa.groot, ternyata memang benar adanya bahwa kemampuan anak didik yang diberi pertanyaan oleh pewawancara, sangatlah rendah untuk kemampuan koginitif level C1, yaitu Daya Ingat sesuai teori Taxonomi Bloom.

Padahal pertanyaan yang diberikan sangatlah mudah, yaitu bisa menyebutkan tiga atau empat nama negara di Eropa. Jawaban yang keluar justru mengatakan Indonesia, Australia, Amerika dan parahnya memunculkan negara Vietnam, Philipina dan lainnya negara di Asia Tenggara.

Bila benar mereka menjawab akan diberi Dua Ratus Ribu Rupiah. Saya juga tidak tahu tujuan dari adanya video di Tik Tok semata demi mencari sensasi, hiburan atau memang untuk menunjukan betapa rendahnya kualitas anak didik pada generasi Z saat ini.

Bila dicari apa yang salah dalam proses spirit of learning mereka? Bisa jadi learning by concept, learning by doing atau learning by involving mereka ada yang terputus seperti tidak munculnya atau rendahnya minat baca pada anak didik yang padahal iqra ( bacalah) adalah pintu masuknya ilmu.

Bila untuk kemampuan kognitif atau pengetahuan terendah saja, C1, yaitu daya ingat, bagaimana dengan C2 : Pemahaman, C3 : Melakukan, C4 : Analisa, C5 : Evaluasi dan terakhir C6, yaitu menciptakan? Bisa Anda bayangkan sendiri selanjutnya kualitas anak didik kita di masa depan.

Padahal Slogan Kurikulum Merdeka sudah digaungkan dan dilaksanakan, namun rasanya belum bisa diukur tingkat daya serap kemampuan siswa selain meningkatnya perasaan senang berada di sekolah karena merasa merdeka belajar yang dimaknai bebas untuk tidak belajar saja.

Semua aspek di Taxonomi Bloom di atas seharusnya ada pembiasaan agar spirit of learning anak didik meningkat. Hal itu sesuai dengan teori pendidikan Pavlov dari Rusia dengan Behaviourisme-nya agar otak mereka terbiasa dan terlatih dalam menerima transfer of knowledge.

Mungkin saja, saya sudah terlalu tua untuk menjadi guru bagi anak yang berada di generasi milenial atau gen Z ini. Seperti ada Age gap atau jurang pemisah dalam proses mengajar dan mendidik mereka untuk menjadi hebat di era Indonesia emas tahun 2045.

Sudahlah, saya juga bukan guru penggerak karena faktor diskriminasi usia yang dibatasi hanya sampai usia 50 tahun dan setelahnya dianggap guru yang tua yang yang harus meng-upgrade sendiri keilmuan yang dimiliki agar tidak tertinggal.

Hanya menanti awal bulan November 2024 adakah perubahan yang mencerahkan di dunia pendidikan di tanah air setelahnya.

Salam dari Kota Magetan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post