Suharni, S,Pd, Guru SMAN 3 Magetan yang Bercerai dengan Kopernya
Nah, kisah berikutnya yang dialami oleh ibu Suharni, SPd, seorang guru dari SMAN 3 Magetan ini akan bisa membuat Anda bertanya-tanya dalam hati yang mungkin ikut merasa sedih, tertawa atau mungkin juga heran.
Bagaimana bisa, ibu Suharni yang akrab dipanggil dengan ‘Bu Harni’ bisa bercerai dalam tanda kutip dengan kopernya?
Tentu saja semua kemungkinan bisa terjadi selama seseorang melakukan perjalanan ke luar negeri dan bisa juga terjadi pada diri Anda. Mungkin juga terpisah dengan rombongannya atau dengan barang bawaannya seperti koper, handphone atau apa sajalah karena berbagai sebab.Termasuk juga dengan bu Harni ini.
Sepulang melawat ke Singapura dan Malaysia selepas dari Sekolah Internasional Malaka untuk kerjasama di bidang pendidikan, begitu mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta, baru diketahui bahwa koper beliau ternyata masih tertahan di Bandara Kuala Lumpur.
Hebatnya, dalam kondisi seperti itu, Bu Harni tetap terlihat santai dan bahkan tertawa lepas tanpa menunjukan ekspresi kepanikan. Dia yakin bahwa kopernya, cepat atau lambat juga akan diterimanya selama masih barang itu adalah haknya. Hebat, kan?
Bagi orang lain, mungkin akan menangis atau minimal menggerutu. Namun dengan santainya, dia hanya lapor pada petugas maskapai di Bandara dan menunggu konfirmasi.
Ternyata terbukti juga. Tiga hari kemudian, kopernya juga tiba di Indonesia dan dikirim paket oleh petugas ke alamat rumahnya di daerah Plaosan, Magetan.
Meskipun di dalamnya tidak ada barang berharga, namun souvenir untuk anggota keluarga dan pakaian gantinya yang belum dicuci terpaksa harus menunggu sampai kembali ke empunya. Bisa dibayangkan bila lebih dari seminggu, bisa menebarkan aroma yang luar biasa tentunya begitu tiba di rumah.
Untungnya, kopernya berpisah dengan dirinya setelah dalam perjalanan pulang. Kita tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi saat baru tiba di Singapura. Bisa tidak berganti pakaian selama bertugas atau dia harus membeli baju terus setiap harinya selama di luar negeri.
Guru cantik berhidung mancung yang dianugerahi suara merdu ini memang berpenampilan ceria dalam situasi apapun. Selama perjalanan dengan mobil travel di Malaka, lantunan suaranya membuat kita semua yang ada di dalam mobil terbawa suasana kegembiaraan sehingga semua perasaan lelah jadi sirna.
Guru bahasa Inggris kelahiran bulan Maret tahun 1977 ini sehari-harinya mengajar di SMAN 3 Magetan dan pengalaman di atas adalah lawatan pertama kalinya beliau ke luar negeri untuk membuka wawasan keilmuannya tentang sistem pendidikan di luar negeri.
Banyak hal yang beliau peroleh dan semua itu nantinya juga akan berguna sebagai motivasi serta tujuan beliau dalam megajar anak didiknya agar menjadi yang terbaik di masa depan.
Tidak heran dalam lawatannya, beliau mengaku takjub melihat kemewahan Changi International Airport. Terlebih, ketika menggunakan eskalator di bandara. Orang-orang yang menggunakan eskalator tertib menggunakan jalur kiri untuk berjalan pelan atau berhenti dan jalur kanan digunakan bagi pengguna yang sedang terburu-buru.
Beliau yang baru tiba pun dengan agak kaku menyesuaikan diri dan merasa tidak enak jika menghambat perjalanan orang ketika terlalu lama berada di jalur kanan.
Proses imigrasi menurutnya juga sungguh canggih karena sudah digantikan autogate dengan teknologi biometrik yang meliputi mata, wajah, dan sidik jari. Cara menggunakannya juga cukup mudah, yaitu hanya perlu memindai paspor, scan sidik jari dan foto.
Bu Harni juga menyempatkan berkunjung ke Jewel, yaitu Air Terjun di dalam bandara yang bisa kami akses secara gratis setelah keluar dari terminal.
Singapura tidak memiliki kekayaan alam seperti Indonesia. Tak punya air terjun alami maupun gunung-gunung api yang menjulang gagah. Namun mereka menciptakannya, merawat infrastruktur dan membuat wisata buatan dengan teknologi canggih mereka.
Masyarakat di sana juga sangat menghormati pada mereka yang menganut dan beribadah agama apapun. Meskipun Singapura adalah negara yang sangat kecil, Organisasi Antar agama di negara yang terletak di semenanjung ini terdiri dari perwakilan 10 agama besar dunia.
Meski tipikal pekerja keras sulit untuk digeneralisasi, menurut bu Harni, orang singapura memiliki nilai-nilai inti tertentu yang mengarah pada karakter toleransi tinggi. Mereka terkenal jujur, pekerja keras, taat hukum, dan dapat diandalkan.
Perjalanan singkat ke Singapura ini membuat beliau melakukan refleksi bahwa segala keterbatasan yang dimiliki Singapura justru membuat negara ini menjadi negara maju. Hal itu membuatnya untuk mencari tahu dan berfokus kelebihan apa yang dimiliki bangsa sendiri untuk menjadi lebih maju.
Jika dikembalikan dengan kondisi di sekolah dengan lahan yang terbatas. Maka, sama seperti Singapura berfokus pada kelebihan, peningkatan kualitas kemampuan sumber daya manusia, peraturan yang tegas namun mengayomi serta unggul dalam digitalisasi akan membuat kita akan menjadi Negara yang hebat di dalam dunia pendidikan
Catatan Lawatan ke Singapura-Malaka, Kuala Lumpur 2024

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
