Raisya Niil Nabila, Murid SMAN 1 Magetan, Juara 1 Menyemai Literasi Kabupaten
Di balik halaman-halaman buku yang sering kali dianggap sunyi, tersimpan sebuah dunia yang telah lama menjadi sahabat setia bagi seorang gadis muda yang hadir di dunia pada 3 September 2007, asal Bandar Lampung, yang bernama Raisya Niil Nabila.
Tahun 2025 menjadi saksi ketika ia berhasil menyabet gelar Duta Baca Kabupaten Magetan, sebuah capaian yang bukan lahir dalam semalam, melainkan ditempa oleh dedikasi sejak usia belia.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Raisya sudah akrab dengan buku. Ia tidak hanya membaca, tetapi juga menuliskan kisah-kisah kecil dari sudut pandangnya sendiri.
Kecintaannya pada literasi membuatnya kerap mengikuti lomba menulis, membuat cerita pendek, artikel, fiksi mini, hingga mendongeng. Tidak heran akhirnya dia mampu pulang dengan menggondol gelar juara.
Perjalanan Raisya tidak selalu mulus. Ada saat-saat ketika tulisannya dipandang remeh atau karyanya luput dari penghargaan. Namun, justru dari luka-luka kecil itu Raisya belajar tentang kesabaran dan ketekunan.
Gadis yang cerdas ini memercayai bahwa setiap huruf yang ia tuliskan adalah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar. Dukanya mungkin sesaat, tetapi sukanya abadi. Terutama ketika ia mampu melihat senyum orang-orang yang terinspirasi oleh karyanya.
Raisya bukan sekadar penikmat literasi, ia juga sosok yang konsisten menorehkan prestasi. Berbagai kompetisi literasi tingkat kabupaten maupun provinsi, bahkan nasional pernah ia menangkan.
Capaian demi capaian itulah yang mengokohkan langkahnya hingga ia diberikan amanah untuk menjadi Duta Baca Kabupaten Magetan 2025, dengan judul karya 'Semburat Cahaya di Sela Aksara'.
Ada beberapa tahap yang dilalui Raisya hingga meraih gelar Duta Baca, yakni tahap pertama adalah membuat esai dan setelahnya diambil 60 dari 90 peserta. Lalu, tahap kedua adalah tes tulis, dan dalam tahap ini diambil 10 peserta untuk melanjutkan perjuangan ke babak final.
Pada saat grand final, Raisya menyampaikan orasi literasi yang berisi visi misi serta program mengenai kegiatan literasi. Dalam tahap ini pula, setiap peserta diberi pertanyaan oleh dewan juri.
Ketika ditanya apa motivasinya, Raisya menjawab dengan mata berbinar:
"Saya ingin setiap anak di Magetan merasakan betapa buku bisa menjadi sahabat terbaik. Saya ingin membuktikan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca, tetapi juga tentang membuka cakrawala, membangun karakter, dan mewujudkan harapan."
Bagi Raisya, menjadi Duta Baca bukanlah sekadar gelar, melainkan amanah untuk menghidupkan budaya membaca di tengah generasi muda. Ia ingin agar literasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar hadir dalam keseharian masyarakat.
Melalui perjalanan Raisya, kita diajak menyadari bahwa literasi adalah lentera yang tak pernah padam. Untuk siapapun yang membaca kisah ini, Raisya menitipkan pesan:
"Jangan biarkan buku berdebu di rak-rak sepi. Bacalah, sebab di setiap kata ada kehidupan. Menulislah, sebab di setiap kalimat, ada jejakmu yang abadi. Dan percayalah, literasi adalah jembatan yang akan membawa kita pada cahaya masa depan."
Raisya Niil Nabila adalah bukti nyata bahwa dari sebuah halaman sederhana, lahir ribuan langkah perubahan.
"Bukan aku yang hebat. Namun, doa ibuku yang terlampau kuat" , Itulah kalimat Raisya dalam penutupnya.
Selamat berjuang Raisya! We will be shining together!

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
