Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Rian Viki Fredy Vriatna, Guru Bahasa Indonesia Penggemar Anime Naruto dari SMAN 1 Magetan
Rian, guru Bahasa Indonesia. (Dokpri)

Rian Viki Fredy Vriatna, Guru Bahasa Indonesia Penggemar Anime Naruto dari SMAN 1 Magetan

Ada sosok guru baru pria kelahiran Kota Ngawi pada tanggal 23 Oktober 1989 dan bertugas di SMAN 1 Magetan sebagai bagian dari proses regenerasi guru di sekolah favorit tersebut.

Nama lengkapnya adalah Rian Viki Fredy Vriatna, M.Pd dan sering dipanggilan 'Rian' sejak kecil. Uniknya, karena beliau suka film anime Naruto sejak masa SMAnya dulu, para sahabatnya sering memanggilnya Mas 'Naruto' bahkan oleh anggota keluarga besarnya termasuk ibundanya sendiri.

Asli dari Desa Patalan, Kecamatan Kendal, Ngawi, sebuah desa yang di kelilingi hutan jati, tetapi sekarang bertempat tinggal di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, karena mengikuti mantan pacarnya dulu yang sekarang sudah menjadi istrinya.

Pak Rian merupakan alumnus dari SMA 2 Magetan pada tahun 2008. Hebatnya, beliau langsung menempuh dua kampus untuk program sarjananya (S1) , yaitu di program S1-PBSI di IKIP PGRI Madiun, dan S1-PGSD di Kampus Modern Ngawi.

Pada tahun 2022, beliau melanjutkan pendidikan program pasca sarjananya (S2) di UNIPMA dengan mengambil jurusan PBSI agar linier dengan ijazah yang dipergunakannya saat mengikuti tes CPNS guru (Calon Pegawai Negeri Sipil) .

Sejak kecil hobinya adalah membaca dan memancing. Dua hobi yang dilakukan bila saat memancing, dia selalu membawa buku untuk dibaca dipinggir sungai atau kolam. Nah, saat masih menjadi murid SMA, hobinya bertambah satu, yaitu menonton anime versi Jepang.

Mengaku baru mempunyai satu istri yang bernama Nur Sri Mastutik dan berprofesi sebagai perangkat desa. Saat ini, keluarga bahagia Pak Rian telah dianugerahi dua anak dan alhamdulilah, perempuan semua.

Anak pertama bernama Queenza Azahra Afrin Vriatna yang biasa dipanggil Ara, dan anak keduanya bernama Hafsah Afrin Vriatna dengan panggilan kesayangan, Aca.

Bila ditanya kenapa menjadi guru, beliau secara jujur mengatakan bahwa itu adalah cita-citanya sejak kecil. Meskipun dalam hatinya juga pernah ingin menjdi seorang polisi. Hanya karena saat SMA pernah mengalami operasi usus buntu (Apendik), akhirnya mimpinya berubah haluan dengan menjadi seorang guru.

Semua keluarga besarnya sangat mendukung karena banyak yang berprofesi sebagai pendidik seperti kedua orang tuanya. Tidak heran, setelah lulus kuliah, beliau pernah mengajar di PAUD Kurleb selama 2 tahun, yaitu di PAUD Melati yang didirikan oleh ibundanya.

Mengajar di PAUD sejak tahun 2008-2010. Selain itu dia juga pernah mengajar di SD. Uniknya, tidak hanya di 1 SD, tetapi ada 3 Sekolah Dasar, yaitu SDN Gayam 1 di tahun 2008-2014, SDN Patalan 4 pada tahun 2010-2016 dan SDN Patalan 1 di tahun 2014-2018.Pada tahun 2018, Pak Rian mengikuti tes CPNS guru dan dinyatakan lolos dengan penempatan unit kerja pertamanya di SMAN 1 Kawedanan, Magetan.

Semua itu berkat 2 ijazah yang dimilikinya, yaitu ijazah untuk guru PGSD dan PBSI. Sampai pada tahun 2022, beliau dimutasi ke sekolah yg lebih dekat dengan rumahnya , yaitu SMAN 1 Magetan, sekolah favorit yang penuh dengan anak berprestasi.

Kesannya selama mengajar di SMASA, "Amazing!, sekolah besar, sekolah favorit, sekolah dengan segudang prestasi, sekolah dengan guru yg sangat berkompeten dan handal".

Pak Rian berkomitmen untuk akan selalu belajar dan terus belajar agar bisa seperti para guru seniornya yang telah berhasil menghasilkan para siswa berprestasi.

Pesan beliau pada muridnya, "Teruslah maju dan jaya serta ukir generasi yang hebat berprestasi agar pendidikan di Indonesia bisa lebih maju".

Dalam penutupnya, beliau juga mengaku mendapat kesulitan dengan murid saat ini terutama dalam hal Literasi. Disadari atau tidak, Literasi di Indonesia sangat kurang dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang sudah maju.

Hal lainnya, juga sudah dirangkumkan materi berbentuk file word/Pdf, dan di-share di group kelas, namun saat pembelajaran Bahasa Indonesia, rata-rata hanya 2 atau 3 anak yang menjawab sudah membuka dan membacanya sedangkan murid lainnya menjawab belum di setiap kelas yg beliau ampu.

Murid sekarang lebih sering membuka Handphone daripada buku. Parahnya mereka suka nge-game atau scroll TikTok daripada belajar. Itu adalah tantangan terbesar Pak Rian untuk meningkatkan minat literasi para muridnya di masa depan.

Menurutnya pribadi, dengan berliterasi kita semua bisa berprestasi, dan dengan begitu, para murid akan bisa dengan mudah meraih mimpi kelak untuk benar-benar terwujud.

Oh iya! Selain sebagai guru ASN, Pak Rian juga punya bisnis lain, yaitu tempat LKP (Lembaga Keterampilan dan Pelatihan) dengan nama "Rumah Pintar Ara" yang berdiri pada tahun 2016.

Meskipun akhir-akhir ini jumlah pesertanya menurun karena berbagai faktor terutama karena kesibukkan tugas dan urusan keluarganya serta berkurangnya minat belajar para murid.

Selamat mengabdi yang terbaik pak Rian!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post