ANAK MANDIRI IBU HARUS TEGA
Anak Mandiri: Ibu Harus Tega
*
Pernahkah Ibu melihat anak yang sudah tumbuh remaja, tetapi belum mandiri? Hal itu terjadi karena pembiasaan atau pola asuh yang kurang tepat. Ibu (orang tua) kurang tepat menempatkan perhatian dan kasih sayang.
*
Semua pasti pernah melihat atau mengalami, anak menangis tidak mau masuk sekolah karena tidak ingin berpisah dari Ibunya. Solusi yang sering terjadi, Ibu masuk kelas menemani anak belajar. Sebenarnya hal itu tak perlu dilakukan bila anak sudah diajarkan kemandirian sejak dini. Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar mandiri dan berani, sejak dini?
*
Berdasarkan buku Positive Pushing, orang tua harus memberi kesempatan kepada anak. Ibu juga harus memberi sejumlah kebebasan agar anak menjadi dirinya sendiri dan menjalani dunianya atas keinginannya. Tumbuhkan keyakinan pada dirinya, bahwa dia juga bisa.
*
Untuk membangun kemandirian dan keberanian pada anak, kita perlu tega. Sembunyikan rasa dan keinginan melayaninya dalam segala hal. Berikut beberapa cara sederhana melatih sikap mandiri anak sejak dini.
*
1. Beri Anak Kepercayaan
*
Ibu perlu memahami bahwa seorang anak tidak akan bisa melakukan sesuatu jika tidak diberikan kesempatan. Karena itu, berilah kepercayaan pada anak untuk melakukan apa yang ibu tugaskan. Beri anak waktu dan bersabar mengikuti prosesnya. Ibu harus tega melihat tangan kecilnya letih mengulangi sampai bisa. Ibu harus tega melihatnya lelah atau sedikit bingung.
*
Ibu bisa memulai dengan memberikan jam khusus belajar tertentu atau menyusun tertentu. Percayalah anak akan mengikutinya dan melakukannya dengan baik. Biarkan anak melakukan dengan gayanya. Jika hasilnya kurang sempurna, tetap beri apresiasi. Dengan demikian, anak merasa diakui dan dipercaya.
*
2. Biasakan Anak Berpikir Kritis dan Logis
*
Biasakan anak berani berpendapat. Jika ada hal yang menurutnya tidak sesuai, anak harus mengkritisinya. Jangan marah ketika anak complain dan tak boleh ragu untuk meminta maaf terhadap anak.
*
Biasakan anak berpikir logis atau masuk akal. Ibu cukup mengarahkan dan memantau anak dalam menyelesaikan masalah.
*
3. Dorong Anak Mencoba Hal Baru
*
Keluar dari comfort zone awalnya memang mengkhawatirkan. Namun jika anak tidak mencoba hal baru, kemampuannya sulit berkembang. Mulailah dengan memberikan informasi seputar kegiatan baru tersebut. Beri tahu hal yang menyenangkan dari aktivitas tersebut supaya anak tertarik. Sebaiknya ajak melakukan trial terlebih dulu untuk mengetahui suasananya. Pastinya, ia butuh waktu untuk beradaptasi.
*
4. Jangan Katakan Anak tidak Bisa
*
Jauhkan anak dari kata-kata, “Kamu tidak bisa, Nak." "Itu sulit, Nak." "Kamu tidak boleh bermain itu!"
*
Tahukah Ibu, hal itu akan membuatnya rendah diri dan tidak percaya pada kemampuannya. Ibu sebaliknya mendukung usaha anak walau tidak sempurna. Hargai usahanya dan berusahakah mempercapaiannya.
*
5. Perkuat Ikatan Hati
*
Hampir semua anak di dunia ini suka diperhatikan dan dimanja orang tuanya.Ada beberapa anak yang tidak bisa mengekspresikan keinginan itu. Namun, curahan kasih sayang yang tulus akan membuat anak merasa aman dan nyaman.
*
Ia merasa keluarganya menerima dan mengakuinya. Walau ia melakukan kesalahan, keluarganya masih tetap menerimanya. Bahkan, membantu dan mendukung anak memperbaikinya. Ikatan hati yang kuat antara orang tua dan anak inilah yang membuatnya mandiri dan berani menghadapi hal-hal baru.
*
Muara Bulian, 04052026





Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
