Emiwati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
INOY DAN AKSARA INCUNG

INOY DAN AKSARA INCUNG

INOY DAN AKSARA INCUNG

Dongeng Karya Emiwati

Di negeri Jambi, hiduplah suami istri yang kaya raya, bersama anak perempuannya yang cantik, namun sangat lugu, namanya Inoy. Apa pun yang diinginkan Inoy, selalu dikabulkan oleh ayah ibunya.

Inoy sangat menyukai makanan kekinian, seperti Vizza, Kebab, Dimsum, dan Sushi. Hampir setiap hari ibu memasak menu varian terbaru untuknya. Ibu mencari resepnya di google, youtube, dan tik-tok.

“Ibu masak apa hari ini?’ teriak Inoy dari kamarnya.

“Menu baru pastinya,” sahut ibu, sambil melanjutkan pekerjaannya di dapur.

“Masak yang enak-enak, ya Bu!” pinta Inoy manja.

“Tentu, mari sini bantu ibu!” seru ibunya.

“Iya Bu, sebentar,” jawab Inoy yang terus bermain dengan gawainya.

Inoy sering abai dengan panggilan ibunya. Namun ibu selalu memaafkannya, membelikan semua kebutuhannya, dan membuatkan makanan kesukaannya. Hari itu, ibu memasak dimsum varian baru. Ibu menatanya dengan cantik, disertai toping keju mozarolla, saos, dan sambal racik, resep terbaru. Aromanya yang menggugah selera memenuhi seluruh rumah pengusaha sawit itu.

“Waw, sedapnya,” gumam Inoy sambil melangkah menuju dapur. “Sudah siapkah Bu?” tanyanya berselera.

“Memang Inoy tahu apa yang ibu masak?” tanya ibu sambil bergurau.

“Tidak. Aromanya beda dengan biasanya. Aromanya sedap sekali,” jawab Inoy sambil melihat ke sana, ke mari, mencari menu yang baru saja dimasak ibu.

Usai membersihkan dapur, ibu mandi. Setelah berpakaian rapi, ibu menuju meja makan di ruang tengah. Ibu menemukan Inoy sedang menyantap dimsum dengan lahap.

“Enak, Bu,” kata Inoy, sambil terus mengunyak makanan yang tersisa di mulutnya.

Ibu tersenyum, lalu melihat klakat dimsum berukuran besar, di hadapan Inoy. Ibu sangat terkejut. Klakat bambu itu kosong. Puluhan dimsum ukuran sedang ludes tak bersisa. Ibu menatap Inoy sejenak, lalu melangkah ke dapur. Ibu menghela napas panjang. Ibu sedih dan letih.

“Mengapa ibu sedih?” tanya Inoy yang tiba-tiba sudah berada di samping ibu.

Ibu diam. Ibu sangat lapar. Namun sudah tak tersisa satu pun dimsum untuk ibu.

“Mengapa Ibu menangis?” tanya Inoy merengek. “Biasanya ibu senang kalau masakan ibu aku santap. Mengapa hari ini ibu berbeda?” tanyanya pula.

Ibu tetap diam. Ibu tak berani memarahi Inoy. Ibu takut Inoy kecewa atau hatinya terluka, meski sebenarnya hati ibu tidak sedang baik-baik saja.

“Aku pergi saja!” kata Inoy merajuk, lalu melangkah keluar rumah.

Inoy tak tahu harus ke mana. Dia hanya mengikuti langkah kakinya, hingga berhenti di bawah pohon rindang di tepi Sungai Batanghari. Inoy duduk bersandar di pokok pohon besar itu. Inoy merenung. Tiba-tiba bumi berguncang, angin bertiup kencang, Inoy terlepar ke gua besar. Gua itu dipenuhi lampu. Seluruh bagian gua terang benderang.

“Ibu, dimana aku?” tanya Inoy bingung dan takut. “Aku mau pulang. Tolong aku Ibu!” rengek Inoy. Namun tak ada jawaban. Inoy makin sedih. Ia makin takut. “Ibu, aku mau keluar. Tolong aku ibu!” ujar Inoy menangis.

“Hai anak manja, mengapa Kau sampai di sini?” terdengar suara menggema, memenuhi seluruh gua.

“Aku tidak tahu. Aku mau pulang,” jawab Inoy gemetar menahan takut.

“Kau kelilingi dulu gua ini! Kau cari bambu purbakala, tanduk kerbau, tanduk sapi, kulit kayu, dan daun lontar yang ada tulisannya! Lalu kau jelaskan padaku ciri-ciri tulisan yang ada pada benda-benda itu! Cepat kerjakan!”

Inoy pun segera mengelilingi gua. Begitu menemukan bambu, ia mengamati dengan teliti. Inoy lanjut mencari tanduk kerbau dan tanduk sapi, lalu mengamati tulisannya.

“Ayo cepat! Kau harus menemukannya?” ujar suara misterus itu.

“I iya Tuan, hamba cepat-cepat,” jawab Inoy. Matanya terus mengamati kulit kayu bertuliskan mantra, yang tertempel di dinding gua. Cukup lama Inoy menemukan daun lontar, karena letaknya yang tersembunyi.

“Ayo cepat! Apa ciri-ciri tulisan pada benda-benda itu?”

“Tulisannya berbentuk garis lurus patah terpancung, melengkung, dan ditulis secara miring, Tuan,” jawab Inoy pelan. Suaranya makin gemetar ketakutan.

‘Ha ha ha, itulah Aksara Incung, aksara warisan leluhur suku Kerinci,” suara itu menggema makin menakutkan. “Ha ha ha, walau manja, ternyata kau cermat juga.” lanjutnya

“Boleh hamba pulang, Tuan?” tanya Inoy penuh harap. “Hamba rindu ibu, Tuan,” ucap Inoy memelas.

Tiba-tiba angin kembali bertiup kencang. Semua lampu padam, gua itu gelap gulita.

“Ibu aku takut, tolong aku!” jerit Inoy sambil memejamkan mata karena sangat takut. Ketika angin reda, Inoy membuka mata, dia kembali berada di bawah pohon besar di tepi Sungai Batanghari itu.

"Terima kasih, Tuhan! Telah Kau kembalikan aku ke dunia,” ujar Inoy berlutut, bersyukur. Setelah itu Inoy berlari menemui ibunya.

Keduanya berpelukan erat sekali. Mereka merasa sangat bahagia. Meski sudah kembali berkumpul lagi dengan ibunya, Inoy tak melupakan pengalamannya terlempar ke negeri asing. Inoy kini jadi orang baik. Ia sangat memuliakan ibunya, menghormati ayahnya, menghargai teman-temannya, dan gemar berbagi.

Muara Bulian, 31 Agustus 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post