TANPAMU IBU ' Tagur H - 10 '
Sejak berusia 6 tahun, Mira sudah tidak tinggal dengan kedua orang tuanya, dan tinggal dengan kakaknya. Kakak Mira tinggal di lain kota dengan orang tuanya itu, dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan. Terkadang sang ibu sesekali mengunjungi Mira untuk melepas rindu dan ketika sang ibu akan kembali pulang Mira menangis merajuk minta ikut pulang dengan sang ibu, namun sang ibu tidak mengindahkan itu dengan tekad bahwa Mira kecil bisa berkehidupan lebih baik dan berhasil dalam pendidikannya. Dan Mira kecilpun dimasukan sekolah oleh kakaknya ke Madrasah Ibtidaiyah dekat dengan rumah tempat tinggalnya itu. Dalam bergaul Mira selalu riang dan disenangi teman temannya , meskipun setiap ibunya datang berkunjung masih selalu menangis meraung raung ingin ikut dengan ibunya pulang, tanpa peduli dirinya sudah sekolah di tempat kakaknya itu, dan ibunya memang tidak ada niat untuk membawa Mira pulang dengannya.
Mira tumbuh menjadi gadis kecil, umurnya sudah sampai 10 tahun kelas 4 di Madrasah Ibtidaiyah dan Mira bisa mengikuti sekolahnya dengan baik, bahkan di setiap pembagian rapor nilai Mira tidak mengecewakan bahkan selalu masuk peringkat kelas. Kegiatan eskul diikuti Mira di sekolah , Mira aktif di kepramukaan dari kelas 2 Mira sudah menjadi anggota pramuka siaga dan di kelas 4 menjadi anggota penggalang. Lomba pramuka sudah sering Mira ikuti untuk mewakili sekolahnya, dengan berbagai kemenangan di raihnya.
Suatu hari setelah shalat maghrib seperti biasa Mira pergi mengaji bersama dengan teman - temannya, sampai shalat isya berjamaah di tempat mengajinya itu , setelah pulang mengaji Mira selalu pastikan belajar dan mengerjakan PR sampai selesai. Ketika akan berangkat tidur, tiba -tiba datanglah saudara dari kota tempat ibu Mira tinggal dan mengabarkan bahwa Ibunya sudah tiada tadi setelah magrib, Mira menangis memanggil nama ibu terus menerus, terbayang oleh Mira kecil wajah ibunya dan terakhir bertemu dengan ibunya Mira minta ikut pulang dan dengan tegas dan nada tinggi ibunya melarang Mira ikut dengannya, ternyata ini ya Allah kenapa ibu melarangnya ikut pulang, ibunya akan pergi selama -lamanya meninggalkan dirinya guman hati Mira. Sambil menangis Mira dengan kakaknya bersiap siap untuk berangkat pulang menuju tempat ibunya tinggal. Tangisnya tak henti hatinya begitu pedih tapi tak bisa berontak, ibunya tak bisa bangun kembali, ibunya tak bisa hidup lagi, sepanjang perjalanan pulang terus deras mengalir airmata Mira.
Sesampainya di rumah Mira sudah mendapati rumahnya dalam keadaan terang benderang, ramai banyak tetangga berada di sana, turun dari mobil langsung Mira berlari sambil memanggil ibu, berlari tak menghiraukan orang sekitar memghalanginya, langsung dipeluknya jasad ibu yang terbaring kaku dengan erat, rasa tak ingin dilepaskan oleh Mira. Bapak, dan kakak kakak Mira berusaha menenangkan dan membujuk Mira untuk tidak menangis dan melepas pelukan ibu, karena tak lama lagi ibu akan diselenggarakan untuk dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah itu ibu akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Setelah melalui rangkaian acara pelepasan ibu, sepanjang itu Mira berada di samping sang kakaknya dan sambil tak henti memanggil dan menyebut ibunya, "sudahlah Mira jangan menangis kita harus mengikhlaskan ibu pergi , biar ibu tenang di sana " , ucap kakak sambil memeluk Mira, ketika Mira menyaksikan jenazah ibunya diturunkan untuk dikebumikan. "Ya Allah jaga ibuku" ucap bibir Mira lirih.
Padang, 26 / 10 / 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
