Euis Nurjanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PARUIK AYAM ' Tagur H - 44 '

PARUIK AYAM ' Tagur H - 44 '

Setelah selesai menjemur kain, Ceu Inah rehat sejenak menghilangkan lelah, setelah bergulat dengan cucian yang agak banyak dikerjakan sehari ini. " Mencuci tanpa mesin cuci cukup melelahkan", desah hati Ceu Inah sambil mengelap keringat yang mengalir di dahinya, dengan ditemani secangkir teh manis, yang tanpa di sadari telah berhasil di sruputnya sampai tak tersisa. "Alhamdulillah berkurang lelah hari ini", guman hati Ceu Inah, sambil beranjak ke dapur untuk berbenah yang lainnya lagi.

" paruik ayaaam!, paruik ayaaam! " berulang ulang terdengar sayup sayup oleh Ceu Inah dari dalam dapur, bergegas keluar untuk memastikan apa itu, karena sedikit aneh terdengar di telinga Ceu Inah, mengingat Ceu Inah baru beberapa hari tinggal di tanah Minangkabau ini, jadi dari bahasa masih belum hapal dan banyak tidak mengertinya. Ceu Inah berusaha mencari sumber suara itu, setelah dilihat keluar ternyata suara itu sudah menghilang dan tak terdengar lagi. Dalam hati penasaran, apakah itu???, pertanyaan yang sulit dimengerti oleh Ceu Inah untuk mengartikan "paruik ayam" itu apa, Ceu Inah berusaha mengartikan satu satu per kata "paruik = perut" dan "ayam = ayam", kalau disambungkan jadi "perut ayam", "kok ada yang jualan perut ayam dijajakan keliling?", analisa Ceu Inah yang semakin bingung, " gak mungkinlah jualan seperti itu ", dalam hati Ceu Inah penuh penasaran.

Keesokan harinya Ceu Inah sengaja menunggu di depan rumah untuk membuktikan rasa penasarannya itu dengan " paruik ayam" yang kemarin di dengarnya. Tidak berapa lama tiba tiba terdengar sayup sayup teriakan " paruiiik aaayaaamm, paruikk aaayaaammm ", berulang ulang terdengar, Ceu Inah keluar dari pagar rumah sengaja untuk mencegat sang penjual paruik ayam. Dari balik gang tiba tiba muncul gadis kecil, menjunjung wadah di atas kepalanya sambil berteriak "paruik ayaaammmm, paruik aayaaammm". "Beli dek" kata Ceu Inah penuh penasaran tak sabar ingin segera melihat seperti apa "paruik ayam" itu. Gadis kecil itu segera menurunkan wadahnya dan terbelalak mata Ceu Inah melihat isi dalam wadah itu " ya Allah ini mah atuh gemblong ", kata Ceu Inah sambil tersenyum geli, sungguh di luar dugaan sebelumnya, ternyata paruik ayam di Minang kalau di kampungnya di sunda disebut dengan gemblong. Sungguh Indonesia kaya dengan bahasa yang beragam.

Padang, 29/11/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post