Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Di Balik Prahara Ada Berkah

Karya . ERNAWATI, S.S

Tantangan hari ke-7

#Tantangan Gurusiana

Pagi ini Ayu ditugaskan mengawas ujian nasional di salah satu SMA. Dua puluh dua tahun yang lalu di sekolah ini ia pernah ditempa dan diasah selama tiga tahun, hingga ia diterima di perguruan tinggi favoritnya. Lama sekali perempuan berparas lembut ini tidak menginjakkan kaki di kampus ungu ini. Ini kali kedua ia kembali sejak tamat. Pertama waktu melegalisir ijazah untuk melengkapi bahan CPNSnya.

Bahagia rasanya Ayu bisa menghirup udara pagi di sekolah itu. Meski sudah berbeda dari sekolahnya dulu, namun kenangan itu masih segar di ingatannya. Zaman putih abu-abu ketika rambut masih dikepang dua. Salah satu ruang kelasnya dulu sudah rata diganti dengan gedung pencakar langit. Ayu memandang sekeliling. Ia pernah bercanda bersama teman-temannya di tempat itu kala jam istirahat.

Kini sebuah taman bunga tertata rapi dengan desain minimalisnya siap memanjakan mata. Jejeran batu-batu kali berwarna hitam putih menambah mata enggan untuk berhenti menatapnya. Semarak bunga beraneka warna mempercantik tempat itu.

Jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB. Ayu bergegas menuju posko ujian nasional kira-kira 200 meter lagi baru sampai. Ia cemas sekali, takut terlambat. Pukul 06.45 WIB seharusnya ia sudah duduk di ruangan panitia ujian. Sebenarnya ia malu jika terlambat. Ia percepat langkahnya setengah berlari. Awalnya Ayu berniat mau berselfi dulu di taman tersebut tapi waktu sudah semakin dekat, terpaksa ia urungkan dulu niatnya.

“Pak, posko ujian nasional sebelah mana,?” tanyanya ngos-ngosan. Bapak itu mengangkat telunjuk diikuti gerakkan bibirnya menunjuk ke arah pohon yang rindang itu.

“Di sana Buk, tepat di bawah pohon cemara itu ,” jawabnya. Tinggal tiga langkah lagi Ayu tiba di depan pintu. Ayu tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sejenak ia ambil nafas lagi lalu berusaha berjalan tenang.

“Assalammualaikum, Pak. Bagaimana kabarnya ?” sambil menjulurkan tangannya ke arah laki-laki tegap yang berdiri di dekat pintu. Lelaki itu mebalas jabat tangannya agak lama sambil menatap dalam ke arah wajah Ayu.

“Mungkinkah ia lupa,” Ayu membathin sendiri. Bibir Bapak berkulit bersih itu bergerak mengeja nama Ayu dengan suara berbisik.

“Alhamdulillah ingatan Bapak masih tajam ya,” ujarnya. Lalu Ayu salami wanita paruh baya yang dari tadi tersenyum menyambut kedatangannya. Perempuan itu sangat ia kenal. Jabat tangannya terasa begitu hangat sehangat kasih sayang ibu kepada anaknya. Senyuman merekah berdua pun pecah menambah cairnya suasana.

“Silakan duduk Ayu, kursi itu dari kemarin sudah menunggu mu,” goda Bu Atik bercanda, membuat seisi ruangan tertawa.

“Pak Edi, masih ingat dengan Ayu teman MGMP kita ini?” Bu Atik menunjuk ke arah Ayu. Bapak berkacamata itu sejenak diam kelihatan dari jauh kerut keningnya naik turun. Ayu tersenyum ke arahnya, menunggu jawaban dari bibirnya.

“Tentu masih ingat, Ibu Atik,” jawabnya pendek. Lalu ia duduk di kursi bagian paling depan didampingi oleh wakil kurikulum tanda akan dimulai acara pembukaan.

“ Bapak, Ibu pengawas silakan dicicipi makanan yang sudah tersedia, lima menit lagi ujian nasional akan dimulai. Pengawas nanti masuk ruangan sesuai daftar yang sudah tersedia,” ujar lelaki itu sambil sesekali melempar senyum ke hadirin.

“ Ibu mau ke ruangan ? silakan bawa map ini,” ujar waka kurikulum sambil menyodorkan map plastik berwarna merah ke arahku

“ Oh. Ya.. maaf jadi lupa Bu, soalnya terburu-buru, terimakasih banyak, ibu sudah mengingatkan” jawabku malu. Bapak kepala ikut memperhatikanku ia tersenyum kecil sambil mengangguk-angguk. Segera Ayu berlalu dari hadapan mereka bergegas menuju ruang ujian.

Disela menunaikan tugas negara pikirannya tidak mau lepas dari kejadian pagi tadi. Tatapan itu selalu bermain-main di pelupuk mata. Teman satu ruangannya seolah-olah tidak mau menganggu kesibukkan Ayu menulis. Dia juga asyik dengan hayalannya sendiri. Apalagi dalam tata tertib pengawas tidak diperbolehkan mengobrol dan bersuara. Jadi mereka berdua asyik dengan pikiran masing-masing. Sesekali mereka tetap melepas senyum saat beradu pandang.

Bel panjang berbunyi sebanyak tiga kali tanda ujian sudah berakhir. Semua peserta ujian bergegas ke luar ruangan. Begitu juga dengan mereka, seluruh siswa mengumpulkan kertas buramnya sambil pamit pulang. Kebetulan hari itu ujian mata pelajaran matematika.

“Assalammualaikum Ibu” ujar mereka satu per satu berlalu sambil mencium tangan mereka. Senang rasanya berada di tengah-tengah peserta didik yang santun dan ramah, ucap Ayu dalam hati. Ia ingat masa ia sekolah dulu.

***

Sebelum pulang kami juga bersalaman sambil mencium tangan guru satu persatu termasuk tangan Pak Edi salah satu guru muda waktu itu. Beliau pernah jadi walas Ayu selama satu tahun, ketika ia masih duduk di kelas satu.

Ketika Ayu naik kelas dua, guru yang terkenal tegas itu pindah tugas, ia tidak tahu kemana pindahnya. Rasanya waktu itu seluruh siswa kelas 1 IPA bersedih. Entah kapan akan berjumpa lagi dengan lelaki tampan dan penyayang itu. Ayu mendengar kabar Beliau dipindahkan ke luar kabupaten, namun tidak diberi tahu mutasinya kemana.

Sejak saat itu Ayu kehilangan kontak dengan beliau sampai Ayu tamat SMA. Apalagi waktu kuliah tidak pernah lagi terdengar kabar tentang beliau. Mungkin juga karena kesibukkan. Ketika sedang menunggu akan diwisuda, ia diminta mengajar di salah satu SMK di kota P. Menurut kabar, Ayu orang pertama yang direkomendasikan pihak jurusan untuk posisi tersebut. Jelas ia terima karena kebetulan memang ia berasal dari daerah tersebut.

Mulai saat itu Ayu bergabung dalam kegiatan MGMP B. Indonesia SMA di daerah kelahirannya itu. Kegiatan tersebut pernah dilaksanakan di sebuah gedung pertemuan. Lima belas menit acara dimulai tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, spontan semua mata melihat ke arah sumber suara. Ayu asyik mengisi absen, ia lagi fokus pada lembaran daftar hadir tersebut.

“Assalammualaikum Bapak Ibu, maaf saya terlambat,” suara itu sudah tidak asing di telinganya. Ayu mengangkat kepalanya melihat ke sumber suara.

“Aaah, Masyaallah. Betulkah yang ku lihat” batinnya. Ia kucek matanya berulang kali. Ia cubit pipinya , terasa sakit ternyata ia tidak bermimpi. Lalu Ayu pindah duduk ke depan biar lebih jelas wajah pria itu. Tidak salah lagi pikirnya sejenak, beliau itu guru terbaiknya. Beliau banyak membantunya hingga Ayu bisa seperti sekarang.

Ayu anak pertama dari lima bersaudara, adik-adiknya masih kecil-kecil. Dua orang adiknya duduk di kelas 2 SMP dan kelas 1 SMP. Dua orang lagi masih SD kelas 4 dan kelas 2. Ayahnya seorang buruh tani sedang ibu sudah sakit-sakitan beberapa tahun ini. Beliau hanya bisa duduk, itu pun sebentar saja karena terserang penyakit stroke. Semua pekerjaan ayahnya yang melakukan.

Sepulang sekolah baru Ayu dapat membantu meringankan beban ayahnya. Ia ingat waktu itu ayah belum ada uang untuk membayar SPPnya, sedangkan ujian semester akan segera dimulai. Sementara ayah belum mendapatkan pekerjaan. Akhirnya semua beban hidup yang ia alami bersama keluargnya terpaksa ia ceritakan kepada Pak Edi sebab beliau wali kelasnya.

“ Yu, kamu harus ujian biar Bapak yang mengurus keuanganmu ke Bendahara Komite,” ujar pria penyayang itu, sambil menyodorkan kartu ujian pada Ayu. Tidak itu saja beliau sering ke rumah untuk mengantarkan makanan. Kadang Ayu dibawa serta bersama motornya. Belum sempat Ayu membalas budinya ternyata beliau sudah dipindah tugaskan.

“Sekarang beliau ada di depanku, sudah sekian lama tidak berjumpa, masihkah beliau ingat denganku,” Ayu membatin.

Tiba-tiba Ketua MGMP memberitahu bahwa beliau itu adalah Bapak pengawas yang baru.

“Beliau ini Bapak koordinator MGMP kita, Nama beliau Edi Kurniadi, M.Pd” ujar ketua. Senyum lepas pak Edi membahana ke seluruh peserta termasuk Ayu. Ketika matanya melihat ke arahnya tidak ada tanda-tanda beliau kenal dengan Ayu padahal ia sudah berusaha melempar senyum terindahnya ke pria itu. Ayu tidak marah bahkan tak kecewa sebab ia sadar, sejak kejadian itu sudah lebih lima tahun berlalu.

Wajah dan penampilan Ayu tentu sudah berubah. Namun beliau tetap seperti yang dulu. Tegap dan kelihatan masih segar. Meskipun usianya sudah memasuki kepala empat. Kegiatan tetap berlanjut. Ayu berniat akan menemuinya nanti setelah acara berakhir.

“ Pak, assalammualaikum. Bagaimana kabarnya. Kelihatan Bapak masih seperti yang dulu,” ujar Ayu. Beliau tersenyum tapi agak lama menatap wajah Ayu.

“ Waalaikumsalam Buk, rasanya kita sudah pernah berjumpa, tapi dimana ya ? Wajah ibu sudah tidak asing lagi bagi saya, sayang sekali namanya saya lupa,” ia berpikir sejenak mencoba mengingat-ingat.

“ Biasa itu Pak, kalau Guru lupa dengan anaknya, tapi anak tidak boleh lupa dengan Gurunya,” jawab Ayu tersenyum. Dahinya tampak berkerut.

“ Benar Pak. Guru siswanya ribuan wajarlah ia lupa namanya, tapi jika ada anak yang lupa dengan gurunya, anak tak tahu diri namanya Pak, he...he..” seisi ruangan tertawa termasuk beliau semakin penasaran.

“Sekarang Bapak baru ingat, Ayu Andarwati. Si pintar dari Banjar,” ujar beliau mantap. Ayu jadi malu ternyata ingatan Pak Edi masih bagus. Terus saja beliau memuji Ayu di hadapan teman-teman peserta MGMP. Akhirnya beliau membuka semua kenangan mereka.

Bercerita panjang lebar hingga ada dua orang guru senior merasa risih melihat kedekatan mereka. Maklum Ayu masih muda dan beliau kelihatannya juga tidak jauh berbeda. Dari sekian mata yang menyaksikan Ayu menduga, Bu Ratih kurang senang dengan bahasa tubuh yang ia tampakkan. Ia berbisik dengan teman sebelahnya sambil terus melihat ke arah mereka. Sesekali mereka tertawa kecil ke arahnya. Ayu jadi tidak enak hati. Pak Edi tetap saja berbicara dengannya menanyakan banyak hal pada Ayu mulai kabar orang tua sampai masalah kuliah.

“ Bapak tidak bisa lupa dengan tahi lalat di wajahmu. Makanya tadi bapak perhatikan wajahmu lebih dekat agar Bapak mudah mengingatnya,” ujar beliau jujur.

“ Selamat ya, sekarang kamu sudah sukses. Sebagai aparatur sipil negara, kita harus memegang amanah dan bertanggungjawab,” sambung beliau menasehati. Ayu menganggukan kepala tanda setuju dengan kata beliau.

Ayu sangat berterima kasih pada beliau berkat motivasi beliau Ayu bisa bangkit sekolah lagi, sebab karena faktor ekonomi nyaris membuat Ayu putus sekolah. Cacian dan hinaan juga pernah ia terima dari orang-orang di kampungnya, tapi berkat campur tangan beliau masyarakat sekitar akhirnya diam karena merasa segan.

Begitu besar perhatiannya kepada Ayu dan keluarganya. Beliau tak luput dari gunjingan dan fitnah. Padahal beliau guru paling iklas sepengetahuan Ayu. Tapi gunjingan di sana sini datang bertubi-tubi membuatnya harus undur diri. Bagiku mungkin itu lebih baik dari pada beliau difitnah terus menerus. Mungkin alasan itu pula beliau pindah tugas tempo hari pikirku sendiri.

Awalnya Ayu tidak terima, bahkan sudah berprasangka buruk pada lelaki berkulit bersih itu. Namun seiring waktu berlalu Ayu mendapatkan jawabannya. Beliau pindah tugas bukan karena menghidari keluarganya. Ternyata beliau diangkat sebagai CPNS ujar salah seorang sahabatku yang masih punya hubungan keluarga dengan beliau.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post