Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Di Balik Badai Ada Mentari

Tantangan Hari ke-43

#TantanganGurusiana

Pagi di kabutnya subuh aku menyusuri jalan setapak. Kiri kanan ditumbuhi semak dan rumput-rumput liar. Suara kodok terdengar sahut bersahutan. Tak terbesit sedikit pun rasa takut kalau ada bintang berbisa ingin menganggu. Aku terus berjalan menuju barua tempat pemandian umum desaku. Maklum masa itu belum ada namanya sumur atau pun kamar mandi di rumah penduduk, termasuk rumahku.

Setiap pagi ember kecil lengkap berisi peralatan mandi ditemani handuk lusuh aku bawa setengah berlari ke barua demi mendapatkan antrian pertama untuk mandi. Telat sedikit saja bisa- bisa aku terlambat pergi ke sekolah. Dinginnya pagi tak pernah kuhiraukan apalagi ketika sumber mata air langsung menguyur tubuh, air itu terasa hangat. Mungkin itulah yang membuat aku betah mandi di barua.

Perjuanganku sebelum berangkat sekolah sejauh 3 kilometer lengkap sudah Sebab sebelum berangkat aku harus mengambil dagangan dulu di rumah tetangga. Bakpao salah satu cemilan masa itu menjadi teman setiaku menapaki jalan penuh kerikil demi mencapai cita-cita. Tiba di sekolah teman-teman langsung menyerbu daganganku. Satu persatu bakpao yang kubawa ludes. Belum jam istirahat biasanya bakpao sudah tidak bersisa.

Saat jam pelajaran berlangsung tak pernah aku lewatkan sedetik pun. Kalau masih bisa ditahan aku tidak akan izin ke luar. Aku selalu menyimak apa yang disampaikan guru. Mungkin karena itu hingga membuat aku mampu meraih juara di kelas. Nasibku memang tak seberuntung teman-teman yang lain. Aku tinggal bersama ibu dan dua adikku. Ayah sudah tiada sejak aku duduk di kelas 4.

“ Salma selamat ya, kamu memang anak pintar. Kamu satu-satunya siswa yang lolos di tigkat nasional dari provinsi kita,” ujar Bapak kepala sekolah usai upacara bendera.

“ Tidak sia-sia usahamu Salma selama 4 bulan ini kamu berlatih terus menerus siang malam hingga meraih juara olimpide matematika,” Bu Ani walikelas sekaligus pelatihku ikut memberi selamat.

Kabar bahagia itu aku tumpahkan bersama ibu dan dua adikku Salim dan Ali. Ibu sampai meneteskan air mata terharu sekaligus bangga dengan prestasi yang aku raih. Dua adikku masih duduk di kelas 4 dan 1 SD juga ikut senang melihat aku tersenyum bahagia.

“Kalian bertiga adalah harta paling berharga dalam hidup ibu, ibu banting tulang kerja keras demi kalian. Kebahagian kalian adalah kebanggaan buat ibu. Salma putri ibu yang luar biasa, meski engkau masih kelas 6 tapi bantuanmu sungguh melebihi usiamu. Ibu bersyukur sekali dianugerahi buah hati yang rajin dan pintar-pintar seperti kalian semua anak-anakku ,” ibu merangkul kami semua.

Ibu wanita tegar dan penyabar yang pernah aku jumpai di dunia ini. Sejak kepergian ayah beliau tak pernah mengeluh. Meski profesi beliau sebagai buruh cuci keliling namun beliau tak pernah malu dan gengsi. Pekerjaan apa pun beliau lakukan asalkan halal. Demi menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Ayah sudah meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu aku tak tega melihat ibu banting tulang sendiri. Adik-adikku juga butuh uang. Sering kami tanpa uang jajan berangkat ke sekolah. Untung bos bakpou ku baik. Kami bertiga selalu dikasih bakpao satu seorang sebelum berangkat sekolah.

Pernah suatu siang ibu menerima tamu seorang laki-laki. Kami melihat ibu duduk berhadap-hadapan, namun ibu tampaknya tak banyak bicara. Kebetulan kami bertiga baru pulang sekolah.

“Tuan itu anak-anakku baru pulang sekolah, mohon beri saya waktu untuk berpikir,” hanya itu kalimat yang aku dengar dari ibu. Laki-laki itu berlalu sesekali menatap tajam ke arahku. Kenapa dia menatapku seperti itu, siapakah dia tanyaku dalam hati. Ibu berusaha melempar senyum ke arah kami seolah tidak terjadi apa-apa. Namun tampak dipaksakan. Aku yakin ibu sedang memendam sesuatu.

“ Siapakah orang itu ibu, rasanya baru kali ini kami melihatnya,” entah mengapa kami kompak bertanya. Seolah-olah dikomondokan, Wajah ibu tampak sedikit berubah, gigi ompongnya terlihat lebih jelas, karena geli menawan tawa mendengar pertanyaan kami serentak.

“Sudahlah kalian ganti pakaian gih, habis itu makan dulu. Ibu tadi sudah masak kesukaan kalian.”

Ibu betul-betul wanita tangguh yang pandai menyimpan rahasia, pikirku. Ia mampu berakting sangat baik di depan buah hatinya, agar mereka tidak cemas melihat kondisi ibu mereka. Setelah selesai makan ibu mengajakku ke dapur. Adik-adikku sudah berangkat mengaji.

“ Laki-laki yang Salma lihat bersama ibu tadi adalah mamakmu kakak tertua ibu tapi beda ayah. Selama ini ia merantau, sejak pergi baru kali ini ia kembali ke kampung kita ini.”

Penjelasan ibu mengundang pertanyaan bagiku. Mengapa ia kesannya tidak mau tahu dengan keluarga adiknya sendiri termasuk aku dan dua adikku. Masih terbayang di mata bagaimana ia menatap kami dingin seakan tidak ada hubungan darah sama sekali tanpa mau tegur sapa.

“Lalu apa yang ia lakukan di sini ibu?” ujarku.

Terasa berat lidah ibu menyampaikannya. Aku berusaha meyakinkan ibu agar mau bercerita.

“Mamakmu itu mau mengambil rumah yang kita tinggali ini. Ia ingin menjual rumah ini karena ia tidak ada lagi uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Katanya kita sudah bertahun-tahun menikmati warisan nenek, sekarang giliran dia,” ujarnya ke ibu.

Butiran-butiran bening mengalir deras di pipi ibu yang mulai keriput. Tak sanggup beliau menyelesaikan kata-kata. Aku rangkul ibu dan kubawa ke pelukkanku agar beliau tenang.

“Jika ia ambil rumah ini, kita mau tinggal dimana lagi Salma...,” tangisan ibu pecah. Aku berusaha tegar, menenangkan ibu agar suara ibu lebih jelas.

“Kita tidak punya apa-apa lagi Nak. Hanya rumah ini satu-satunya harta yang kita miliki. Tak ada tempat lagi bagi kita untuk berteduh,” tangisan ibu semakin menjadi-jadi. Aku biarkan ibu menumpahkan semua rasa yang beliau risaukan.

“Ibu tenanglah, tuhan tidak akan diam, Allah maha melihat dan maha tahu dengan semua makhluknya. Ibu jangan terlalu cemas. Anak-anak ibu akan siap membantu meringankan beban ibu. Dari pada kita selalu ditekan oleh mamak, bagaimana jika sebaiknya kita rundingkan dulu dengan pengulu kita Datuak Majo Kayo,” aku beranikan diri bicara ke ibu.

Malam Jumat aku dan ibu memberanikan diri menemui Datuak Majo Kayo. Jarak rumah aku dengan hunian Datuak Majo Kayo tidak begitu jauh sekitar 20 menit jika menaiki ojek. Akhirnya kami menceritakan semua kejadian yang menimpa kepada sang Datuk. Berharap mendapatkan pembelaan dari pengulu kami tersebut. Ternyata harapan kami pupus sudah. Datuk tempat mengadu sudah dibutakan matanya. Jawabannya sungguh melukai perasaan dua orang perempuan itu.

“ Sudah sewajarnya, mamakmu itu meminta haknya Salma. Sudah berpuluh tahun dia di rantau. Sekarang ia ingin menikmati masa tuanya di kampung apa salahnya?. Kalian terima saja dengan senang hati,” ujarnya santai.

Ucapan Datuak Majo Kayo sungguh tindak menimbang kondisi dan keadaan kami. Perasaan kecewa terasa tercekat namun tak mampu di utarakan. Kami pulang membawa kesedihan yang amat dalam.

Kemana lagi akan mengadu tiada yang peduli dengan nasib keluarga aku. Rumah siapa yang akan dihuni lagi jika rumah peninggalan nenek diambil mamak itu aku membatin.

“Sudahlah ibu, jangan menanggis lagi. Mungkin ini yang terbaik buat kita. Semoga tuhan memberi pertolongan buat kita semua,” aku berusaha menenangkan ibu lagi.

Seminggu kemudian ketika aku dan adik-adiknya sedang membantu ibu memasak di dapur terdengar suara orang mengetuk pintu. Aku dan seisi rumah cemas dan sangat kuatir jangan-jangan itu mamak Khaidir. Bebarapa minggu ini tiada kabar dari mamaknya tersebut. Mungkin inilah hari mereka akan ke luar dari rumahnya ucap Salma dalam hati. Ia bergegas membuka pintu.

“Assalamamualaikum,” suara laki-laki itu membuat dadaku turun naik menahan nafas yang semakin sesak. Tanganku gemetar, aku raih gagang pintu memberanikan diri untuk membukanya.

“Apakah ini rumah Salmawati, sang juara olimpade nasional ?” tanya laki-laki tinggi itu.

“Benar, saya orangnya. Bapak siapa dan ada keperluan apa ke sini?” aku mengamati laki-laki itu lebih dekat.

“ Ananda berhak mendapatkan bonus dari Bapak Gubernur sebuah rumah atas prestasi yang sudah mengharumkan provinsi di tingkat nasional,” ia menyodorkan satu buah kunci raksasa. Aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar tersebut. Ibu dan adik-adikku berlarian ke luar menuju aku dari tadi berdiri mematung.

“ Apakah benar yang Bapak sampaikan itu ?” tanya ibu lagi. Seorang wanita berpakaian dinas rapi berjilbab coklat menganggukkan kepalanya tanda bahwa semua itu benar adanya.

“Kami dari dinas Provinsi ditugaskan oleh Pak Gubernur agar bertemu langsung dengan putri ibu, beliau mengundang agar Salma dan keluarganya dapat hadir pada malam anugerah besok di gedung gubernur, Bu,” ibu itu menjelaskan panjang lebar.

Ternyata kepala sekolah aku juga ikut serta dengan rombongan itu tapi ia sengaja sembunyi dulu karena ingin membuat kejutan buat Ku dan keluarga. Akhirnya aku dan keluarga baru yakin. Langsung sujud syukur atas rezki yang diterimanya.

Beberapa hari setelah aku dan keluarga bersiap-siap akan pindah ke rumah baru tersebut, mamak Khaidir datang menagih janji ke ibu. Dengan senang hati aku dan ibu memberikan hak mamak tersebut. Mamakku itu tidak menyangka kalau kemenakannya ini barusan mendapatkan hadiah rumah. Awalnya ia tidak peduli dengan adik dan keponakkannya sendiri sekarang sikapnya berubah 360 derajat. Bibirnya mulai tersenyum meski dipaksakan apalagi setelah mendengar Aku memeroleh prestasi. Ia semakin sering mengunjungi aku, adik-adik dan keponakkannya itu.

TAMAT

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post