Nilai Edukatif dalam Tahayul
Tantangan Hari ke-40
#tantanganGurusiana
Di tengah masyarakat sering ditemukan ungkapan kepercayaan masyarakat atau biasa di sebut tahayul. Zaman milenial ini banyak generasi muda yang tidak mengenal lagi ungkapan kepercayaan masyarakatnya. Padahal dalam ungkapan kepercayaan tersebut banyak terkandung nilai-nilai edukatif atau nilai pendidikan. Meskipun dunia sudah modern tidak seharusnya kita melupakan ungkapan kepercayaan tersebut agar masih bisa dilestarikan. Selain itu juga menambah wawasan bagi generasi muda sekarang bahwa nenek moyang kita memiliki peradaban dan budaya yang besar. Salah satu contoh ungkapan kepercayaan masyarakat yang perlu dipertahankan sampai sekarang ini adalah di masyarakat Lima Puluh Kota khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Misalnya tahayul tentang larangan bagi anak gadis Minangkabau, larangan bagi orang hamil, larangan bagi anak-anak dan lain sebagainya.
Ungkapan kepercayaan masyarakat atau tahayul bagi anak gadis di Lima Puluh Kota contohnya tidak boleh makan pisang kembar nanti anaknya kembar. Hal ini sebenarnya ada nilai pendidikan yang ingin disampaikan oleh orang tua zaman dahulu yakni agar para anak gadis tidak bersifat rakus atau loba. Apalagi kalau di tempat keramaian harus menjaga sopan santun dan etika makan dan dalam perbuatan serta tingkah laku.
Contoh ungkapan masyarakat yang lain adalah bagi anak-anak jangan keluar senja hari (magrib) karena bisa disembunyikan setan. Nilai edukatif yng ingin disampaikan adalah bahwa menanamkan dari kecil atau muda agar dapat menggunakan waktu sebaik mungkin. Jika waktu magrib tiba hendaklah segera ke masjid atau menunaikan sholat jangan berkeliaran lagi karena waktu itu para setan juga berkeliaran.
Jangan menunjuk pelagi nanti telunjuknya bengkok. Tahayul tersebut juga berkembang luas dikalangan masyarakat Lima Puluh Kota. Nilai edukatif yang ada dalam tahayul tersebut adalah jangan suka menunjuk atau memerintah orang lain sebab satu untuk orang empat untuk kita sendiri.
Larangan bagi orang hamil paling banyak ditemukan di tengah masyarakat seperti jangan suka mebalutkan handuk atau selendang di leher nanti anaknya terlilit tali pusar jadi susah ke luar. Tahayul tersebut bernilai edukatif agar dimasa hamil seorang wanita harus memperhatikan cara berpakaian supaya jangan membahayakan ibu dan janinnya. Jadi dapat di tarik kesimpulan apa pun tahayul yang berkembang dalam masyarakat semuanya memiliki nilai-nilai dan berguna dalam mendidik manusianya agar selamat dunia selamat akhirat. Sebenarnya penulis ingin melajutkan contoh yang lain masih banyak yang perlu diketahui. Lain waktu dilanjutkan ya...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan