Perempuan Tangguh (Bagian 02)
Tantangan Hari ke-34
#TantanganGurusiana
“Tuan itu anak-anak baru pulang sekolah, mohon beri saya waktu untuk berpikir,” hanya itu kalimat yang aku dengar dari ibu. Laki-laki itu berlalu sesekali menatap tajam ke arahku. Kenapa dia menatapku seperti itu, siapakah dia tanyaku dalam hati. Ibu berusaha melempar senyum ke arah kami seolah tidak terjadi apa-apa. Namun tampak dipaksakan. Aku yakin ibu sedang memendam sesuatu.
“ Siapakah orang itu ibu, rasanya baru kali ini kami melihatnya,” entah mengapa kami kompak bertanya. Seolah-olah dikomondokan, Wajah ibu tampak sedikit berubah, gigi ompongnya terlihat lebih jelas, karena geli menawan tawa melihat ulah kami bertiga.
“Sudahlah kalian ganti pakaian gih, habis tu makan dulu. Ibu tadi sudah masak kesukaan kalian.” Hebat sekali wanita tangguh ini pikirku, ia mampu berakting sangat baik di depan buah hatinya, agar mereka tidak cemas melihat kondisi ibu mereka. Setelah selesai makan ibu mengajakku ke dapur. Adik-adikku sudah berangkat mengaji.
“ Laki-laki yang Salma lihat bersama ibu tadi adalah mamakmu kakak tertua ibu tapi beda ayah. Selama ini ia merantau, sejak pergi baru kali ini ia kembali ke kampung kita ini.” Penjelasan ibu mengundang pertanyaan bagiku. Mengapa ia kesannya tidak mau tahu dengan keluarga adiknya sendiri termasuk aku dan dua adikku. Masih terbayang di mata bagaimana ia menatap kami dingin seakan tidak ada hubungan darah sama sekali tanpa mau tegur sapa.
“Lalu apa yang ia lakukan di sini ibu?” ujarku.
Terasa berat lidah ibu menyampaikannya. Aku berusaha meyakinkan ibu agar mau bercerita.
“Mamakmu itu mau mengambil rumah yang kita tinggali ini. Ia ingin menjual rumah ini karena ia tidak ada lagi uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Katanya kita sudah bertahun-tahun menikmati warisan nenek, sekarang giliran dia,” ajarnya ke ibu. Butiran-butiran bening mengalir deras di pipi ibu yang mulai keriput. Tak sanggup beliau menyelesaikan kata-kata. Aku rangkul ibu dan kubawa ke pelukkanku agar beliau tenang.
“Jika ia ambil rumah ini, kita mau tinggal dimana lagi Salma...,” tangisan ibu pecah. Aku berusaha tegar, menenangkan ibu agar suara ibu lebih jelas. “Kita tidak punya apa-apa lagi Nak. Hanya rumah ini satu-satunya harta yang kita miliki. Tak ada tempat lagi bagi kita untuk berteduh,” suara ibu semakin menjadi-jadi. Aku biarkan ibu menumpahkan semua rasa yang beliau risaukan.
“Ibu tenanglah, tuhan tidak akan diam, Allah maha melihat dan maha tahu dengan semua umatnya. Ibu jangan terlalu cemas. Anak-anak ibu akan siap membantu meringankan beban ibu. Dari pada kita selalu ditekan oleh mamak, bagaimana jika sebaiknya kita rundingkan dulu dengan pengulu kita Datuak Majo Kayo,” aku beranikan bicara ke ibu.
Apa yang terjadi ketika Salma dan ibunya menemui pengulunya, bagaima kisah selanjutnya. Silakan disimak cerita ini sampai selesai.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan