Perempuan Tangguh Bermandi Prestasi
Tantangan Hari ke-33
#TantanganGurusiana
Pagi di kabutnya subuh aku menyusuri jalan setapak. Kiri kanan ditumbuhi semak dan rumput-rumput liar. Suara kodok terdengar sahut bersahutan. Tak terbesit sedikit pun rasa takut kalau ada bintang berbisa ingin menganggu. Aku terus berjalan menuju barua tempat pemandian umum desaku. Maklum masa itu belum ada namanya sumur atau pun kamar mandi di rumah penduduk, termasuk rumahku.
Setiap pagi ember kecil lengkap berisi peralatan mandi ditemani handuk lusuh aku bawa setengah berlari ke barua demi mendapatkan antrian pertama untuk mandi. Telat sedikit saja bisa- bisa aku terlambat pergi ke sekolah. Dinginnya pagi tak pernah kuhiraukan apalagi ketika sumber mata air langsung menguyur tubuh, air itu terasa hangat. Mungkin itulah yang membuat aku betah mandi di barua.
Perjuanganku sebelum berangkat sekolah sejauh 3 kilometer lengkap sudah Sebab sebelum berangkat aku harus mengambil dagangan dulu di rumah tetangga. Bakpao salah satu cemilan masa itu menjadi teman setiaku menapaki jalan penuh kerikil demi mencapai cita-cita. Tiba disekolah teman-teman langsung menyerbu daganganku. Satu persatu bakpao yang kubawa ludes. Belum jam istirahat biasanya tinggal 1 atau 2 lagi.
Saat jam pelajaran berlangsung tak pernah aku lewatkan sedetik pun. Kalau masih bisa ditahan aku tidak akan izin ke luar. Aku selalu menyimak apa yang disampaikan guru. Mungkin karena itu hingga membuat aku mampu meraih juara di kelas. Nasibku memang tak seberuntung teman-teman yang lain. Aku tinggal bersama ibu dan dua adikku. Ayah sudah tiada sejak aku duduk di kelas 4.
“ Salma selamat ya, kamu memang anak pintar. Kamu satu-satunya siswa yang lolos di Kabupaten kita melaju ke provinsi,” ujar Bapak kepala sekolah usai upacara bendera.
“ Tidak sia-sia usahamu Salma selama 4 bulan ini kamu berlatih terus menerus siang malam hingga meraih juara olimpide matematika,” Bu Ani walikelas sekaligus pelatihku ikut memberi selamat.
Kabar bahagia itu aku tumpahkan bersama ibu dan dua adikku Salim dan Ali. Ibu sampai meneteskan air mata terharu sekaligus bangga dengan prestasi yang aku raih. Dua adikku masih duduk di kelas 4 dan 1 SD juga ikut senang melihat aku tersenyum bahagia.
“Kalian bertiga adalah harta paling berharga dalam hidup ibu, ibu banting tulang kerja keras demi kalian. Kebahagian kalian adalah kebanggaan buat ibu. Salma putri ibu yang luar biasa, meski engkau masih kelas 6 tapi bantuanmu sungguh melebihi usiamu. Ibu bersyukur sekali dianugerahi buah hati yang rajin dan pintar-pintar seperti kalian semua anak-anakku ,” ibu merangkul kami semua.
Ibu wanita tegar dan penyabar yang pernah aku jumpai di dunia ini. Sejak kepergian ayah beliau tak pernah mengeluh. Meski profesi beliau sebagai buruh cuci keliling namun beliau tak pernah malu dan gengsi. Pekerjaan apa pun beliau lakukan asalkan halal. Demi menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Ayah meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu aku tak tega melihat ibu banting tulang sendiri. Adik-adikku juga butuh uang. Sering kami tanpa uang jajan berangkat ke sekolah. Untung bos bakpou ku baik. Kami bertiga selalu dikasih bakpao satu seorang sebelum berangkat sekolah.
Pernah suatu siang ibu menerima tamu seorang laki-laki. Kami melihat ibu duduk berhadap-hadapan, namun ibu tampaknya tak banyak bicara. Kebetulan kami bertiga baru pulang sekolah.
Apa yang terjadi pada ibu mereka, siapakah laki-laki itu, penasaran? Silakan tunggu kelanjutan ceritanya ya........
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan