Dibalik Senyuman Penjaga Wartel
Tantangan Hari ke-68
#TantanganGurusiana
Belum cukup satu bulan aku tinggal di kampung. Sejak pihak kampus merekomendasikan aku mengajar di SMK Wira Bhakti Payakumbuh. Sebenarnya aku sempat bertanya dalam hati. Mengapa aku yang dipilih mengisi posisi itu, sementara aku bukan sarjana pendidikan. Lagian ada beberapa orang teman sejurusan sama-sama akan diwisuda Maret depan denganku. Rata-rata mereka sarjana pendidikan. Asal daerah pun juga sama. Beribu pertanyaan bersarang di benakku.
Cukup lama aku merenung sendiri mau diterima atau tidak tawaran ketua jurusan tersebut. Satu sisi aku bahagia belum diwisuda aku sudah diminta mengajar ditambah ijazah saja belum punya. Jadi tidak perlu capek melamar sana sini untuk bisa diterima mengajar di sekolah yang terbilang besar itu. Apalagi tempatnya dekat dari kampungku. Jauh di lubuk hati, aku juga ingin jadi dosen, sebab juga ada dekan fakultas menawari. Namun jika aku pilih jadi dosen aku harus meninggalkan ibu seorang diri di kampung sementara aku adalah anak perempuan satu-satunya harapan keluarga penyambung keturunan maklum kami memakai paham matrilinial.
Berbagai pertimbangan juga disarankan oleh dua kakak laki-laki ku. Mereka lebih suka aku menerima tawaran pertama. Sejak ayah meninggal waktu aku semester akhir ibu tinggal sendiri. Kasihan ibu sudah semakin tua. Tiada yang menemani beliau tak ada yang membantu. Mereka semua merantau pulang kampung hanya sekali sebulan sebab juga sudah punya keluarga sendiri. Kakakku pertama sudah menikah sedangkan yang kedua belum tapi ia sudah punya pekerjaan yang mapan.
Keputusan yang berat memang, aku kesampingkan dulu keinginan hati. Akhirnya aku putuskan balik ke kampung dan menerima tawaran pertama. Mungkin itu lebih baik pikirku. Aku yakin mungkin dengan cara ini Allah punya tujuan batinku. Mulai saat itu aku berniat menjalaninya dengan ikhlas dan senang hati. Insyaallah jalan yang aku tempuh ini adalah yang terbaik ucapku dalam hati.
Tempo hari ketua jurusan sudah memberikan nomor telepon kepala sekolah kejuruan tersebut agar segera dihubungi kalau aku bersedia mengajar di sana. Sebab mereka sangat membutuhkan guru ujarnya. Akhirnya aku cari telepon umum di kampungku. Daerahku jauh dari pusat kota jadi untuk menelpon harus pakai telepon rumah atau wartel (warung telekomunikasi). Rumahku tidak punya telepon terpaksalah aku harus mengayuh sepeda sejauh 2 kilometer baru bisa menelpon. Hanya wartel Bahagia satu-satunya yang ada di kampungku waktu itu.
Aku lihat wartel itu penuh, malahan ada juga yang antrian. Termasuk aku harus antri beberapa menit agar dapat menelpon. Aku memang dibesarkan di kampung itu namun beberapa tahun ini aku tinggal di Kota Padang. Maka ada beberapa orang kampungku yang tidak begitu aku kenal, termasuk yang menjaga wartel Bahagia tersebut. Tidak lama aku berbicara dengan kepala sekolah itu, karena aku harus jujur bahwa aku belum punya ijazah wisuda saja belum. Wisuda baru sebulan lagi ujarku. Namun bapak itu menjawab bagi kami tidak perlu ijazah yang penting ibu mau mengajar di sekolah kami balasnya. Aku berjanji insyaallah datang besok hari, terdengar suara bapak itu tertawa senang. Aku pun ikut bahagia dengan responnya.
Ketika akan membayar ke penjaga wartel ternyata uangku tidak cukup, sebenarnya aku malu masa uang tiga ribuan tidak punya. Kuraba saku celanaku ternyata sakunya bolong.
“Jadi kurang uangnya lima ratus ya Da, nanti insyaallah saya bayar,” ujarku memohon ke Uda penjaga wartel tersebut. Ia tersenyum saja sambil menganggukkan kepalanya. Aku perhatikan pemuda itu baru kali ini aku melihatnya.
“ Ndak usah dibayar sekarang, nanti saja bayarnya,” jawab laki-laki itu tersenyum lagi. Mendengar ucapannya aku jadi malu dan segan, masa membayarnya harus nanti. Tetap saja aku bayar sebanyak uang dikantongku. Sisanya aku berjanji akan mengantarkannya kembali.
Beberapa hari kemudian sisa uang menelpon waktu itu aku bayar, tetapi Uda penjaga wartel itu tidak tampak akhirnya aku berikan ke ayahnya kebetulan beliau yang menunggui wartel. Aku minta tolong pada beliau agar disampaikan kepada pemuda tersebut. Aku takut jika aku tetap berutang walaupun hanya sedikit.
Sejak peristiwa itu aku sering melihat pemuda itu lalu lalang di depan rumah maklum rumahku dekat jalan raya. Sering ketika aku berjalan pagi berangkat ke sekolah ia lewat dengan motornya. Aku belum kenal dengannya namun ia selalu tersenyum ke arahku. Kadang-kadang aku berjalan dengan temanku ia selalu mencuri pandang ke arahku. Pernah sekali ia tawari agar boncengan dengannya sampai di jalan besar. Tapi aku tolak sebab aku segan karena belum begitu kenal.
Bersambung................
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan