Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Digantung Tak Bertali

Tantangan Hari ke-70

#TantanganGurusiana

Lama aku berpikir, hampir setiap malam aku memohon pertolongan lewat doa-doa dalam sujudku. Berat sekali bagiku menjawab permohonan etek Da Muklis tersebut. Entah mengapa jauh di lubuk hatiku aku tak sanggup memberikan keputusan. Tidak seperti biasanya, sebenarnya sebelum keluarga Da muklis datang ada juga beberapa nama lebih dulu melamar ke keluargaku. Namun aku bisa memutuskan untuk menolaknya tanpa banyak pertimbangan. Kali ini memang sungguh berat bagiku untuk memilih antara teman dekatku dengan Da Muklis.

Dia teman kuliahku merantau setelah diwisuda sedangkan waktu itu aku belum tamat. Ia lebih dulu dari ku dua tahun. Ia ingin mengadu nasib sekalian merubah hidup katanya ke negeri orang. Apalagi peluang di sana lebih besar diterima bekerja, itu alasannya berangkat padaku. Sebenarnya berat bagiku melepaskannya tapi aku takut ia akan kecewa aku larang. Sementara aku masih kuliah apalah dayaku. Hanya doa yang selalu aku kirimkan agar ia berhasil di tanah orang.

Beberapa bulan ia di sana datanglah surat diantarkan Pak Pos ke kost ku menyatakan bahwa ia dalam keadaan sehat dan sudah diterima sebagai guru kontrak. Meskipun di daerah perbatasan provinsi tapi aku juga ikut senang. Enam bulan kemudian ia pulang kampung karena memang sekolah lagi liburan. Kira-kira seminggu ia di kampung lalu ia datang ke Padang menemuiku. Bukan main bahagia rasanya hatiku orang yang dirindu berada di dekatku. Tapi itu hanya sebentar karena ia harus balik lagi ke tempat tugasnya. Belum puas rasanya bercerita ternyata ia harus pergi. Sebagai orang yang menyayanginya ku lepaskan ia kembali ke tanah seberang.

Butiran - butiran bening tak kuasa ku menahannya, mengalir deras seperti air mengalir. Berusaha aku sembunyikan di balik sapu tangan yang aku pegang. Saat mobil Jatra yang ia tumpangi berlalu dari pandanganku. Hal seperti Itu lebih empat kali aku rasakan setiap enam bulannya. Kali terakhir aku melepasnya pergi ketika kota Bukittingi menjadi saksi kesedihanku menahan perpisahan. Kaca mobil kubuka agar mataku diterpa angin sehingga sembab mataku tak jelas dilihat orang. Entah mengapa terlintas dalam benakku mungkinkah ini yang terakhir kalinya aku melihat senyum di bibirnya batinku sendiri ketika menuju kampung.

Sejak saat itu tiada kabar yang kuterima. Sepucuk surat pun tak ada sampai ke tanganku. Sejak aku tinggal di kampung komunikasi kami nyaris terputus. Aku tidak mengerti mengapa jadinya seperti itu. Padahal sebelumnya ia berjanji dengan kakakku akan datang melamarku sesuai tanggal yang ia berikan. Tiba waktunya janji itu tak pernah ditepati. Jangankan surat telepon pun tak ada sama sekali. Terasa hancur hatiku karena ia telah melupakan janjinya. Seperti tertelan bumi tak ada kabar berita.

Kedua kakakku sudah mulai tidak percaya dengannya. Mereka curiga kalau aku hanya untuk dia permainkan.

“Kalau begitu tipenya, tak usah ditunggu lagi dia. Apa yang bisa kita pegang, janjinya saja tidak ia tepati,” ujar kakak tertuaku dengan sedikit emosi.

Aku tak mampu membantah kata-katanya, tak tahu apa yang harus aku perbuat. Bagaimana aku akan mempertahankan pilihan hatiku. Memang betul kata-kata kakakku. Aku seperti digantung tak bertali. Kemana aku akan mengadu, tiada tempat bagiku untuk bertanya dimana dia sekarang. Dia jauh dimata alamat pun aku tak punya. Mendengar ocehan semua keluarga aku tak sanggub menangkisnya. Aku coba bertahan dengan pilihanku ternyata itu sangat berat, menunggu yang tak pasti.

Suasana batinku masih labil, tiba-tiba ada seorang pemuda berhati lembut dan sabar ingin mengisinya. Lama sekali aku baru bisa memutuskan, tapi anehnya laki-laki itu tak pernah memaksaku untuk menjawabnya segera. Ia begitu sabar menunggu memberiku waktu tanpa ada batas. Shalat Istikharah selalu aku tunaikan agar aku diberikan kekuatan untuk memilih, mana yang terbaik bagiku. Sementara semua keluarga sudah mendesak agar aku menjatuhkan pilihan. Aku yakin Allah maha tahu hanya kepadaNya aku memohon pertolongan. Sering setiap malam menjelang pipiku basah karena air mata berdoa agar aku diberikan kekuatan untuk memilih yang terbaik.

Di hari yang ketiga puluh tuhan menguatkan hatiku untuk memberikan jawaban pasti. Aku sadar keluarga bagiku adalah segalanya, hati dan perasaan seseorang adalah milik sang pencipta dialah yang mampu membolak balikkan itu semua. Dengan sadar aku terima semua permintaan keluargaku, berangsur-angsur aku belajar untuk mengenal Da Mukhlis lebih dalam.

Bersambung....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post