Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Merdeka Belajar Bermain Drama

Tantangan Hari ke-53

#TantanganGurusiana

Merdeka Belajar dua kata baru dalam dunia pendidikan yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Anwar Makarim. Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya kebebasan. Kebebasan yang menyenangkan, sesuai dengan jiwa penulis yang bebas dan tidak suka tekanan apalagi intimidasi.

Program merdeka belajar tersebut penulis sambut dengan suka cita pasalnya dalam proses pebelajaran memang sangat dibutuhkan merdeka belajar baik bagi siswa maupun gurunya. Seperti yang penulis lakukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di MAN Lima Puluh Kota dalam materi bermain drama. Sebenarnya apa pun materi pelajaran penulis selalu menerapkan merdeka belajar dengan harapan agar semua siswa terlibat langsung dalam pembelajaran aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan.

Guru jangan hanya sekedar memberikan informasi. Seharusnya menggunakan teknik mengajar yang tidak menoton dan jangan membosankan bagi siswa. Sehingga optimal memberi kesempatan bagi siswa yang kurang aktif untuk berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Jika pembelajaran tidak menarik minat siswa, akan berdampak pada rendahnya prestasi belajar. Namun dengan adanya merdeka belajar peserta didik akan merasa bebas dan berani melahirkan ide-idenya sendiri, mereka tidak merasa malu diketawakan teman dan tidak takut salah.

Keterampilan bermain drama atau bermain peran diajarkan kepada siswa mulai dari tingkat dasar sampai sekolah menengah atas seperti di Madrasah Aliyah (MA), sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan contoh kehidupan yang dipentaskan dengan baik. Mengapresiasikan sebuah drama bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pemahaman melainkan mempertajam kepekaan perasaan, penalaran, serta kepekaan siswa terhadap masalah kemanusiaan. Selain penerapan model, metode dan strategi yang tepat, juga sangat menentukan adalah peranan guru dalam proses pembelajaran artinya medeka belajar perlu diterapkan.

Pada pembelajaran bermain drama siswa diberi kekebasan untuk mengamati kehidupan nyata terlebih dahulu. Misalnya bagaimana kehidupan di pasar, di Sekolah Luar Biasa (SLB) bahkan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) juga bisa. Pengalaman tersebut akan membawa dampak pada diri peserta didik dalam menghayati dan memerankan masing-masing karakter tokoh yang akan mereka bawakan.

Tentunya di awal pertemuan guru sudah memberikan naskah yang akan diperankan oleh siswa. Selanjutnya siswa diajak memahami isi cerita dan memahami karakter masing-masing tokoh. Siswa di bagi guru menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan diberikan naskah drama yang akan mereka mainkan. Selanjutnya guru akan menayangkan contoh drama di depan kelas. Sesudah mereka menonton semua siswa akan berlatih akting yang dikomandokan langsung oleh guru.

Guru akan memberikan kekebasan kepada peserta didik untuk berekspresi sesuai isi cerita yang mereka mainkan. Selama dialog, gerak gerik dan ekspresi yang mereka tampilkan tidak ke luar dari aturan naskah yang ada, guru akan memberikan kebebasan. Merdeka bagi mereka menggunakan properti dan memakai media yang ada. Akhirnya pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Seluruh ide dan inspirasi mereka terbuka, muncul dengan sendirinya apalagi siswa madrasah adalah remaja yang memiliki imajinasi yang tinggi. Punya kretivitas dan inovasi dalam segala hal untuk melahirkan berbagai ekspresi dan dialog yang menarik sehingga drama yang tampil seolah-olah hidup.

Pementasan drama tidak selamanya langsung tampil di depan kelas, penulis juga menugaskan siswa merekam langsung penampilan drama mereka menggunakan kamera DSLR atau kamera ponsel. Hasilnya seperti menonton sinetron di televisi penulis disuguhi tampilan drama yang menarik. Baik dari segi akting. Siswa sangat menghayati peran dan karakter yang mereka bawakan. Cara pengambilan gambar dan editan yang baik menambah drama mereka enak untuk dilihat. Akhirnya drama mereka diunggah ke you tube agar diberi penilaian oleh penonton, mana yang paling banyak like nya berarti bisa di rekomendasikan nilainya jadi baik.

Jadi merdeka belajar menurut penulis guru memiliki kebebasan melahirkan ide dalam menggunakan model pembelajaran. Syaratnya siswa paham dan senang mengikuti pembelajaran tersebut, dengan demikian siswa pun merasa punya kebebasan dalam berkreasi dan berinovasi. Akhirnya prestasi belajar siswa pun meningkat. Siswa menjadi mampu dan terampil sehingga berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Biodata Penulis

Ernawati, S.S adalah salah satu guru MAN Lima Puluh Kota berprestasi tingkat provinsi Sumbar sejak 2014 hingga 2016, juga tahun 2018 berhasil kembali meraih juara 1, biasa disapa Erna. Beliau lahir di Kubang, 07Juni 1978, juga aktif sebagai pembina ekstra Bengkel Sastra di MAN Lima Puluh Kota Sumbar. Karya sastra dan ilmiahnya banyak di muat di media massa lokal dan nasional seperti di Haluan, Padang ekspres, Horison dan jurnal ilmiah nasional lainnya. Beliau sudah banyak melahirkan prestasi bidang kepenulisan dan kesastraan baik tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Guru B. Indonesia ini sesalu setia membimbing siswa-siswinya agar selalu berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. WA. **(censored)**Nomor Kartu Media Guru : 20191025-000675 email gurusiana : **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post