Corona Mendekatkan Diri dengan Silsilah
Tantagan Hari ke-79
#TantanganGurusiana
Beberapa hari bediam di rumah dengan segala rutinitas sehari-hari membuat penulis dan seisi rumah punya cara tersendiri untuk mengusir kejenuhan. Dampak virus Corona bagi penulis tidak selamanya negatif. Pasalnya ada beberapa hal manfaat atau hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa covid 19 ini. Biasanya jika pagi menjelang hampir semua isi rumah sibuk masing-masing, kadang tidak sempat untuk bertanya satu sama lain. Jangankan untuk duduk bersama saling bercerita, bertegur sapa sebentar saja sangat sempit waktunya. Penulis maklum sebab anak-anak sekolah hanya si Bungsu Arfan yang belum sekolah. Jadi mereka pagi-pagi sudah berangkat dan pukul 16.00 WIB baru pulang. Ditambah penulis juga pergi pagi pulang sore karena sebagai abdi negara.
Moment libur covid 19 ini membuat penulis dan seisi rumah lebih dekat. Hampir semua pekerjaan rumah diselesaikan bersama. Awalnya memang agak berat bagi mereka untuk turut serta berjibaku di dapur dengan penulis. Tapi karena rasa ingin tahu mereka cukup tinggi, akhirnya mereka mau membantu. Musaddiq anak tertua penulis tidak segan menolong menggilingkan cabe walau dia laki-laki sekarang duduk di kelas X MAN. Dia gantian dengan adiknya Mita yang duduk di kelas 7 MTSN. Perempuan berkacamata itu sangat senang membantu penulis memasak di dapur. Diwaktu bersama itulah penulis bercerita masalah apa saja dengan mereka. Apalagi mereka sudah masuk remaja berbagai masalah remaja pun kami bahas bersama.
Mahira putri ketiga penulis walaupun masih duduk dikelas IV SD ia juga suka bantu-bantu semampu ia. Penulis juga tidak melarang jika ia ingin membantu meraut bumbu masakan. Rasanya penulis bersyukur sekali melihat mereka kompak saling bahu membahu walau sesekali suara gaduh juga terdengar. Tidak mengapa penulis sangat menikmati situasi seperti itu. Suatu masa nanti penulis yakin mereka akan rindu dengan masa-masa seperti itu. Jadi kalau ada kehebohan diantara mereka dalam bekerja penulis dan ayah mereka hanya tersenyum saja. Apalagi tingkah lucu sibungsu kadang membuat seisi rumah sakit perut menahan tawa.
Nenek mereka pun suka bercerita tentang masa lalu. Ketika mereka mulai suntuk mengerjakan tugas, mereka akan mencari neneknya duduk bersama. Maka si nenek dengan sigapnya mulai bercerita. Misalnya tentang asal usul keturunan penulis hingga beliau menunjukkan ranji silsilah keturunan kami. Mereka sangat antusias bertanya siapa-siapa saudara kami. Si nenek tak bosan-bosannya menerangkan satu persatu walau usia beliau sudah memasuki angka 77 tahun. Namun tampaknya ingatan beliau sangat baik. Penulis pun ikut senang melihat mereka suka bertanya sejarah dengan neneknya. Jadi mereka jadi tahu siapa saja saudaranya agar nanti bisa selalu menjalin silaturahim.
Generasi zaman now sebagian besar tidak menarik bagi mereka membahas asal usul keturunan mereka. Mereka sibuk dengan androidnya lupa segalanya. Kadang untuk makan dia sendiri dia tidak ingat. Jangankan untuk mencari tahu siapa saja karib kerabatnya, orang sekelilingnya saja, dimana dia duduk tak dikenalnya sama sekali. Jadi penulis bersyukur sekali ternyata corona mampu mendekatkan anak-anak dengan silsilah keluarganya. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi pembaca.
Kubang, 2/4/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan