Inovasi Guru Penggerak Melalui Media Bekas
Tantangan Hari ke-78
#TantanganGurusiana
Salah satu konsep yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita Nadiem Anwar Makarim dalam memperbaharui wajah pendidikan di Indonesia adalah program Guru Penggerak . Sebagaimana menteri pendidikan menyatakan dalam peringatan Hari Guru Nasional 2019 lalu bahwa guru pengerak hendaknya dapat melakukan perubahan-perubahan kecil yang dimulai dari ruang kelas tanpa menunggu komando. Dengan begitu, bakal terjadi perubahan yang besar pada dunia pendidikan di Indonesia yakni bergerak maju menatap masa depan.
Program guru penggerak tersebut akan berhasil jika semua guru di Indonesia mau melakukannya, agar wajah pendidikan kita semakin baik kedepannya. Apalagi di zaman disrupsi ini dimana perkembangan digitalisasi pendidikan semakin pesat. Pembelajaran online dan pengembangan model pembelajaran dalam jaringan (daring) tumbuh dan berkembang secara aktif. Jika seorang guru tidak menyikapinya secara bijak maka akan ketinggalan dari siswanya. Meskipun teknologi tidak mungkin menggantikan posisi seorang pendidik di hati mereka. Maka seorang guru penggerak terus menciptakan inovasi baru dalam proses belajar mengajar sehingga pembelajaran menjadi aktif, kreatif, inovatif, menarik, dan menyenangkan serta efektif.
Menyikapi program tersebut penulis sebagai guru Bahasa Indonesia MAN Lima Puluh Kota salah satu madrasah Aliyah Negeri di Kab. Lima Puluh Kota Sumbar mencoba melakukan inovasi dalam setiap pembelajaran yang disampaikan. Menggunakan model-model pembelajaran yang kreatif, inovatif, menyenangkan bagi siswa. Termasuk membuat media pembelajaran dari barang-barang bekas hingga dapat dijadikan sebagai alat peraga pembelajaran. Misalnya dalam penyampaian materi menulis puisi, menulis teks eksplanasi, menulis novel dan lain-lain.
Ada dua karya inovatif yang penulis ciptakan dalam menyampaikan materi menulis puisi yaitu kincir kata dan tangga kata. Kedua media pembelajaran digunakan membantu peserta didik melahirkan kata-kata sendiri untuk dikembangkan menjadi puisi yang baik. Penulis merangkai dua alat peraga sederhana berupa kincir kata dan tangga kata terbuat dari kardus bekas.
Kata-kata diambil dari merek kemasan produk yang berbahasa Indonesia sebagai kata kunci bagi siswa guna dikembangkan menjadi rangkaian kata bermakna atau puisi. Penulis sengaja memilih bahan-bahan utama pembuatan media berasal dari bahan bekas sebab penulis terinspirasi dari banyaknya sampah berbagai produk kemasan yang berserakan di sekitar Madrasah. Jadi penulis juga ingin memanfaatkan sampah sebagai media pembelajaran, sehingga mendatangkan manfaat bagi semua kalangan termasuk Madrasah pun terbebas dari sampah.
Alat peraga ini dioperasikan ketika proses pembelajaran berlangsung dengan cara dimainkan. Semua siswa terlibat dalam permainan tersebut, tentunya selalu dikoordinir dan diawasi oleh guru. Akhirnya pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan, tidak ada siswa yang mengantuk atau merasa bosan, semua ikut belajar, menerima pelajaran dengan senang hati. Tujuan pembelajaran pun tercapai yakni siswa mampu menulis puisi dengan baik dan penuh makna.
Contoh proses belajar mengajar seperti di penulis lakukan tersebut berawal dari niat penulis ingin mengubah proses pembelajaran dari yang masih terpaku pada hal-hal yang konvensional atau cara lama yang monoton dan membosankan ke model baru sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan siswanya. Ternyata media pembelajaran ini diapresiasi juga oleh pihak madrasah termasuk kepala. Kedua alat peraga tersebut juga penulis tuliskan dalam bentuk karya inovatif dan best practice, sebab penulis merasakan dampaknya yakni siswa berhasil menuliskan larik demi larik, bait demi bait membentuk sebuah puisi.
Hasil karya tulis penulis tersebut juga mampu menghantarkan penulis memenangkan juara 1 lomba guru berprestasi tingkat provinsi di Kementerian Agama Provinsi Sumbar sehingga membuat bangga keluarga besar madrasah tempat penulis mengabdi. Tidak itu saja secara tidak langsung penulis merasa bersyukur juga dapat berbagi ilmu dengan rekan-rekan sesama guru dalam melahirkan ide menciptakan media pembelajaran atau alat peraga pembelajaran agar dunia pendidikan khususnya di madrasah juga bisa lebih berkembang.
Buah pikiran penulis tersebut pun akhirnya penulis bukukan di bawah bimbingan Mediaguru Indonesia. Jadilah sebagai bahan bacaan bagi siswa dan guru se-Indonesia. Melalui buku tersebut penulis juga ingin menggerakkan literasi tulis baca di madrasah. Semoga terwujud.
Biodata Penulis
Ernawati, S.S adalah salah satu guru MAN Lima Puluh Kota berprestasi tingkat provinsi Sumbar sejak 2014 hingga 2016, juga tahun 2018 berhasil kembali meraih juara 1, biasa disapa Erna. Beliau lahir di Kubang, 07Juni 1978, juga aktif sebagai Pembina OSIM dan ekstra Bengkel Sastra di MAN Lima Puluh Kota Sumbar. Karya tulisnya pernah meraih pemenang Selamat Datang Mas Nadim dan Medeka Belajar yang digelar Mediaguru Indonesia. Buku pertamanya berjudul Jurus Ampuh Menulis Puisi. Karya sastra dan ilmiahnya banyak di muat di media massa lokal dan nasional seperti di Haluan, Padang ekspres, Horison dan jurnal ilmiah nasional lainnya. Beliau sudah banyak melahirkan prestasi bidang kepenulisan dan kesastraan baik tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Guru B. Indonesia ini sesalu setia membimbing siswa-siswinya agar selalu berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. WA. **(censored)**Nomor Kartu Media Guru : 20191025-000675 email gurusiana : **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan