Pangeran Kecilku, Bangkitlah
Tantangan Hari Ke-81
#TantanganGurusiana
Beberapa hari ini kembali sang khaliq menguji kesabaran penulis. Dua buah hati penulis di serang panas cukup tinggi. Membuat tubuh munggil mereka terkapar tak berdaya. Begitu besar rasa sayang Allah SWT kepada hambanya. Belum cukup seminggu ayah mereka sembuh dari sakitnya. Mahira anak ketiga penulis begitu lesu dan lemah siang itu. Kuraba keningnya terasa panas sekali. Lalu ia mengeluh kepalanya terasa sakit. Aku pegang kedua tangannya juga terasa panas. Bibirnya memerah tetapi kering. Lalu aku tanya dari tadi sudah minum apa saja. Ia mengaku tak ada minum apa-apa selain air putih. Aku tanya sekali lagi dengan nada agak tinggi beda dari yang pertama. Baru ia menjawab jujur. “Minum minuman dingin, Ibu,” ujarnya lambat kerena takut dimarahi.
Itulah alasan pertama mengapa ia jatuh sakit. Setiap dilarang berhenti minum minuman dingin apalagi minuman kemasan ia tetap ngeyel. Sulit memang melarang mereka untuk minum dan makan instan apalagi yang dingin. Sebab rumahku bagian depannya kedai harian. Kadang tanpa sepengetahuanku mereka minum dan mengambil makanan yang mereka suka namun tak ingat apa akibatnya. Begitu juga si bungsu Arfan selalu mencontoh kelakuan kakaknya itu. Bahkan sering mereka berlomba minum minuman dingin siapa yang cepat habis. Sebagai ibunya yang tahu bahaya jika minum sembarangan. Tak jarang aku memarahi mereka, waktu itu mereka berhenti, tapi esoknya diulang lagi.
Saat seperti itulah nasehat kita didengarkan, sakit dulu baru mengerti dengan kata-kata larangan selama ini. Begitulah anak-anak tidak akan paham dan percaya jika tak merasakan dulu akibatnya, seperti didera sakit dulu. Sebagai seorang ibu aku merasa iba dan sedih yang amat dalam melihat mereka tak berdaya. Baru jalan tiga hari Mahira sakit tiba-tiba si Bungsu juga ikut panas. Aku termasuk orang yang suka panik jika anak-anak jatuh sakit. Ayah mereka mengingatkan jangan terlalu cemas kita carikan obatnya dan berdoa selalu ke tuhan agar mereka sembuh saran suamiku. Semoga mereka lekas sembuh, kalau kita panik maka sakit mereka bertambah ujar imamku menasehatiku.
Bagaimana tidak cemas, melihat mereka terkulai lemah tidak mau makan apa-apa ditambah sekarang lagi marak virus corona membuatku bertambah was-was. Keinginan untuk membawa ke rumah sakit ada namun ragu, takut sampai di rumah sakit tertular covid 19. Akhirnya kami bawa ke bidan saja dan ke tukang urut. Tapi sayang sekali Arfan tidak mau makan obat, mungkin belum terbiasa sebab umurnya masih 3,5 tahun. Mendingan si Kakak berani makan obat walau tidak teratur sesuai arahan bidan. Ia alhamdulillah saat ini sudah sembuh. Tapi buah hatiku si Bungsu masih lemah dan sering mengeluh sakit kepala.
Biasanya ia begitu aktif tidak pernah diam, selalu bergerak. Ada saja yang ia kerjakan. Diamnya hanya kalau sudah tidur. Pandai mengambil hati orang dan rajin membantu meski ia masih balita. Komunikasinya lancar meski kadang sekali-kali lidahnya masih patah-patah sehingga mengundang tawa. Itulah sosok Arfan kecilku. Sekarang semua itu seolah sirna. Ya Allah sembuhkan anakku Arfan, doa itu tak henti bibirku memohon. Cerianya, senyumnya, ketawanya aku rindu. Seisi rumah merindukan dirimu pangeran kecilku menyinari hari-hari penuh arti. Mohon doa teman-teman semua semoga Arfan kecilku sehat kembali gembira bersama menapaki jalan-jalan yang bermakna.
Rumah Cinta Kami, 4/4/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan