Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tanah Pusaka Jadi Petaka

Tantangan Hari ke-88

#TantanganGurusiana

Berbagai kisah sedih, unik, lucu dan memprihatinkan sering terjadi di sekitar kita. Apalagi di masa-masa sulit ini, dimana wabah covid 19 sedang menguras pikiran banyak orang. Tidak hanya di daerah penulis namun di seluruh penjuru dunia telah banyak memakan korban. Sangat menakutkan entah kapan pandemi ini akan berakhir. Lain halnya yang terjadi di sekitar penulis. Masih ada yang sibuk mengurus tanah pusaka. Taat beribadah tapi lupa menjaga silaturahim.

Satu sisi penulis risih dan sempat berpikir apakah dibenak mereka, tidak ada rasa takut akan mati. Mempertangungjawabkan semua perbuatannya selama di dunia. Untuk apa mempermasalahkan tanah pusaka, sedangkan kita tidak tahu dari mana nenek moyang kita mendapatkannya. Apalagi satu keturunan masih saja heboh gara-gara memperebutkan tanah pusaka tersebut. Kita yang hidup sekarang tinggal menerima apa yang sudah diwariskan. Tidak perlu kita saling bermusuhan apalagi sampai ke meja hijau. Malu kita pada leluhur yang sudah bersusah payah mendapatkannya. Sekarang kita ribut, tidak saling tegur sapa bahkan memutus tali silaturahim, sedangkan kita bersaudara ibaratnya satu ranji silsilah keturunan.

Herannya lagi ada yang sedarah kandung saling jelek menjelekan. Bermusuhan seumur hidup karena merasa sakit hati tanah bagian dia dipakai oleh saudaranya tersebut. Jika ini dipertahankan tidak ada gunanya taat beribadah sementara perasaan saudara sendiri tersakiti. Bukankah kita sudah tahu bahwa menyakiti hati saudara atau orang lain sama dengan memutus tali silaturahim. Sedangkan orang yang memutus tali silaturahim tidak akan mencium baunya sorga. Sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nisa’ dan sabda Rasullulah SAW yang berarti “Tidak akan masuk sorga orang yang memutus (persaudaraan)”. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Jubair Bin Muth’im).

Harusnya sudah saatnya kita merenung mengapa tuhan menurunkan bala tentaranya yang kasad mata tak mampu kita lihat dengan mata telanjang ini. Namun mampu menghancurkan tatanan kehidupan manusia sampai luluh lantak tak berbentuk. Semua bidang kehidupan jadi imbasnya mulai permasalahan kemanusiaan, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Mulailah kita sadar tidak ada harta di muka bumi ini yang abadi. Satu hal tidak perlu mengharapkan tanah pusaka, lebih baik hasil keringat kita sendiri, lebih berkah dan halal. Lagi pula kita tahu dari mana asal usul harta yang kita dapatkan. Sedangkan tanah pusaka tidak tahu bagaimana nenek moyang kita memperelohnya, apalagi di Minangkabau banyak fakta yang kita lihat jika menjual tanah pusaka atau memperebutkannya tidak berkah. Kadang sampai sakit-sakitan hingga meninggal. Memang sudah suratan takdir bahwa jodoh, maut dan rezki itu rahasia tuhan. Namun dari peristiwa itu kita bisa belajar dan mengambil hikmah di dalamnya.

Momentum pandemi covid 19 ini marilah kita saling intropeksi diri dan harga menghargai satu sama lain. Agar tercipta kerukunan dan kedamaian antar sesama.

Kubang, 11/4/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post