Pelangi di ufuk Senja
Tantangan Hari ke-135
#TantanganGurusina 365
Ketika hembusan angin senja membelai rambut hitamku, membuat tenang dalam relung hati, saat semuanya terasa sunyi terpenjara sepi, kerlingan bola mataku tertuju menikmati indahnya senja yang hendak berlalu. Ketenangan terhenti sesaat ketika seorang yang tak sedikitpun ku kenal menghampiri, dia menyapa bersama iringan senyumnya.
“Boleh kenalan? “ ucapnya membuyarkan lamunanku,
Hingga detik itu perkenalan menjadi hangat, lelaki itu ternyata seorang siswa di SMK favorit di pusat kota. Dia bernama Idris, dia duduk manis di depanku mengenakkan kaos hitam dan jeans, dia tampak keren waktu itu, satu hal yang aku kenang saat perjumpaan itu, humorisnya yang menjadikan suasana sepiku menjadi berarti kembali, melenyapkan segala beban yang mendesak di otakku.
**
Senja berlalu, hari berganti seiring dengan keakrapanku dengan Idris. Ketika itu tepat saat bulan suci ramadhan. Kita berjanji menikmati hidangan buka puasa bersama. Tapi niat itu ku urungkan karna orang tuaku tak memberi izin sedikitpun untuk keluar dengan alasan apapun itu. Sungguh aku tak terima, aku membantah ucapan Ayah, hingga saat ketegangan itu Ayah memukulku, Ibu hanya bisa menyaksikan kejadian menyedihkan itu ,aku berlari melampiaskan pedihku pada pintu kamar yang ku hempaskan begitu kuat, malam itu hanya isak tangis yang menemaniku, semuanya membuat dadaku tersa sesak, mengingat kecewanya Idris atas penolakkanku, mengingat marahnya Ayah saat aku berani membantahnya, bagaimana tidak, di matanya semua yang ku lakukan tak pernah benar, semua yang ingin ku lakukan selalu di kekang olehnya. Cukup sabar selama ini ku menghadapi ayah. Tapi malam ini aku benar- benar tidak kuat lagi . Tuhan... Kenapa hidupku seperti ini, Ayah tak adil padaku. Ayah hanya sayang pada kakakku, Kakakku July yang selalu di manjakan olehnya, padahal kita sama, sama-sama anak kandung ayah dan ibu. Tapi mengapa? Beginikah selalu? Sampai kapan Tuhan.
**
Ku putuskan pagi ini pergi dari rumah tanpa sepengetahuan ayah , saat perjalanan aku asik mencek handphone yang dari kemarin tak ku mainkan sedikitpun. Ternyata Idris telah berulang kali mencoba menghubungiku, aku lupa karna kejadian semalam yang menekanku.
“Kita janjian ya, pulang sekolah aku tunggu”Suara Idris terdengar jelas di sebrang sana.
Hingga senja telah tiba menyapa seperti saat yang lalu. Tapi tak ku temukan sedikitpun tanda-tanda keberadaan Idris. Hanya segelintir angin senja yang menemani kegelisahanku saat itu. Aku sedih karna pelangi senja tak menemaniku saat ini.
**
“Dari mana kamu seharian, senang kali kamu pergi gak pamitan, pintar kamu sekarang, belajar darimana?” ucap ayah kembali membuat dadaku terasa sesak, tapi ku urungkan niat untuk membantah ayah seperti kemarin.
“Ayah aku minta maaf berani membantah ayah, kemarin sudah berani pada ayah, maafin aku ayah” tuturku pada Ayah.
Ayah hanya diam bersama linangan air mata, aku heran mengapa air mata Ayah berlinang tak seperti biasanya. Ayah berlari ke arahku dan membawaku dalam pelukannya. Ayah membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Bahkan yang tak terbayangkan oleh otakku, Ayah juga minta maaf padaku di sela isak tangisnya, hingga kacamata Ayahku jatuh.
“Ayah, aku telah memaafkan Ayah jauh sebelum Ayah mau minta maaf” ucapku pada Ayah.
“Maafkan Ayah yang selama ini berlaku tak adil padamu dan Kak July, Ayah selalu memanjakan Kak July di depanmu. Maafkan Ayah sayang”
“Tak mengapa Ayah” ucapku pada Ayah.
**
Hari berlalu jauh meninggalkan bulan yang suci, berjalannya waktu tanpa ada lagi pelangi senjaku , aku sempat berfikir mengapa dia menghilang begitu saja. Menghilang semenjak hubunganku dengan Ayah sangat membaik, aku heran mengapa dia begini. Terakhirku ingat dia mengajakku bertemu di tempat pertama kali kami bertemu. Tapi sayang waktu itu aku sedang bersama dengan Ayah dan kakakku, aku tak bisa menemuinya. Dan kini akhirnya berbulan-bulan aku terkatung-katung mencari kabar tentang pelangi senjaku, handphonenya berulang kali ku hubungi tetapi tetap saja tidak aktif, ku coba menunggunya setiap sore di tempat kami bertemu dulu. Namun hasilnya nihil, dia benar-benar menghilang di telan bumi, aku bingung dan sempat sakit dengan keadaan itu.
**
“Aiss.. ada telvon buad kamu ni,” suara nyaring Kak July membuyarkan lamunanku. Ternyata itu telepon dari Alif teman dekat Idris. Alif menjelaskan semua yang terjadi dengan Idris, alasan mengapa Idris tidak mengaktifkan handphonenya . Idris jatuh sakit selama 2 minggu. Dia tak ingin menambah kesedihanku dengan keadaannya yang sedang sakit, sampai akhirnya Idris tak sanggup bertahan melawan sakitnya. Hingga pada pertengahan bulan suci ramadhan Idris menghembuskan nafas terakhirnya.
Tuhan... aku benar-benar tidak percaya dengan semua itu, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Aku meminta Alif untuk mengantarku ke makan Idris, Alif mau dan berjanji mengantarku kesana.
**
Sore kini telah tiba, saatnya aku berangkat menuju makan Idris, tepat pada hari yang telah ku sepakati dengan Alif. Hari yang sangat ku tunggu-tunggu, tapi nyatanya handphone Alif gak bisa di hubungi . Aku benar-benar kesal dan sedih, aku putuskan untuk pergi ke tempat dulu ku bertemu dengan Idris. Namun tak ku temui siapa-siapa, aku sedih sekali Tuhan. Air mata ku jatuh membasahi pipi. Hingga senja berlalu pergi menuju bulan purnama, aku tetap saja menunggu keajaiban datang menemanik . Nyatanya tak ku temui keajaiban itu. Pukul 19.05 tepat tertera di pergelangan tangan kiriku, aku pulang membawa kecewa yang bersemayam dalam kalbuku.
**
Pagi sunyi kembali menyapa sepiku, sepi yang biasa menemani kala bayangan Idris telah berlalu. Aku hanyut dalam kenangan masalaluku, aku larut dalam tangis penyesalanku. Mengapa dulu aku tak menemuinya, mengapa aku acuhkan dia, saat dia ada, aku menyesal. Mengapa dia pergi sebelum sempat ku membalas perasaannya. Mengapa dia pergi secepat ini, mengapa dia tinggalkan aku sendiri. Hariku penuh dengan mengapa? Mengapa? Dan mengapa?? Air mata yang setia menemani sunyiku tanpanya.
**
Seminggu sudah aku down saat menerima kenyataan pahit ini, bahkan sangat down. Karna sampai saat ini belum ku temukan dimana makam Idris itu, aku tidak tau dimana! Aku sangat sedih dengan keadaan ini, aku terkatung-katung mencari keberadaannya. Aku tak tau harus bagaimana lagi, harus kepada siapa mengadu kepahitan ini. Hidupku terasa hambar dan kosong tanpa kepastian.
(Maisayarah)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan