Mengajar Sastra dengan Interaktif dan Mengasah Pola Pikir Kritis
Tantangan Hari ke-144
#TantanganGurusiana 365
Berprofesi sebagai guru Bahasa dan sastra Indonesia seharusnya ia mampu berkreasi, melakukan inovasi, dan menggunakan media pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan. Menciptakan wahana tukar pengalaman dalam melakukan inovasi dan menggunakan media pembelajaran yang secara empiris, terbukti memfasilitasi pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan bagi siswa.
Proses belajar mengajar akan berlangsung baik dan mencapai sasaran jika guru Bahasa dan sastra pandai memilih dalam membuat perencanaan pembelajaran yang inovatif. Para guru sastra khususnya harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat agar siswa mampu mengikuti kegiatan belajar dengan asyik dan menyenangkan.
Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia perlu memperhatikan dan memilih mana model pembelajaran yang tepat untuk anak didiknya. Mengingat masa usia puber lebih banyak didominasi oleh masa mencari jati diri, maka model pembelajaran yang ditetapkan tentu mengakomodasikan kepentingan yang bergejolak, unjuk diri dan mencari jati diri.
Selama ini strategi pembelajaran khususnya sastra di kelas cendrung bertujuan siswa mengingat informasi yang faktual. Buku teks dirancang, siswa membaca atau diberi informasi, lalu terjadi proses memorisasi. Tujuan – tujuan pembelajaran dirumuskan sejelas mungkin untuk keperluan secara ketat.
Aktivitas belajar mengikuti buku teks. Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan. Seseorang dikatakan telah belajar apabila ia mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajarinya.
Saat ini bukan strategi pembelajaran seperti itu yang cocok dipakai, karena dianggap monoton tidak menarik dan kurang memancing kreatif dan inovasi peserta didik. Contohnya dalam membaca puisi. Siswa tidak perlu lagi diwajibkan mendeklamasikan puisi dan menginfrovisasikan puisi seperti model atau orang lain, namun mereka bebas mengekpresikan sesuai kemampuan yang mereka miliki dan pengalamannya sendiri.
Interaktif siswa sangat kurang dan tidak mengasah pola berpikir kritis siswa. Akhirnya siswa cepat bosan dan malas berpikir. Seharusnya manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi arti pada pengetahuan sesuai dengan pengamatannya. Pengetahuan itu rekaan dan tidak stabil.
Oleh karena pengetahuan itu adalah konstruksi manusia dan secara konstan manusia mengalami pengalaman-pengalaman baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil. Dan memahaminyapun senantiasa bersifat tidak lengkap. Pemahaman akan semakin mendalam dan kuat jika diuji perlu melalui pengalaman-pengalaman baru.
Untuk itu siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Artinya siswa harus menemukan dan mentransformasi suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itulah dalam proses pembelajaran sastra siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Guru sifatnya sebagai fasilitator dan mengarahkan siswa. Untuk itu cocok sekali dipakai model perolehan konsep dengan pendekatan inkuiri.
Model pembelajaran konsep didasarkan pada pemikiran bahwa manusia sebagai bagian dari lingkungan yang berfikir, mempunyai kemampuan untuk membedakan, mengelompokkan, serta memberi nama pada sesuatu disebut dengan konsep. Pendekatan inkuiri didasarkan pada prinsip bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh dengan rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Model ini didasarkan pada kondisi reseptif siswa dan sifatnya lebih langsung. Karena guru berfungsi sebagai fasilitator.
Model perolehan konsep dengan pendekatan inkuiri adalah untuk membantu siswa agar dapat memahami suatu konsep tertentu dengan langkah kategorisasi atau upaya untuk mengelompokkan sesuatu yang sama atau berbeda dengan konsep yang diperolehnya.
Sesuatu yang berbeda disingkirkan dan yang sama digabungkan untuk membentuk konsep. Langkah selanjutnya menyimpulkan perolehan konsep dari penyimpulan konsep tertentu yang baru diperolehnya.
Model pembelajaran inkuiri juga bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena , dan memecahkan masalah secara ilmiah. Model ini sangat cocok digunakan dalam menulis hasil observasi.
Dalam bentuk paragraf deskriptif dalam cerpen atau novel mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia Kelas X SMA/MA. Membuat siswa senang, asyik mengikuti pembelajaran karena siswa mengalami langsung. Inilah yang disebut dengan mengajar dengan interaktif dan mengasah pola pikir kritis siswa.
Mungkin kita akan terkejut banyak guru-guru sekarang memulai mengajar dengan pertanyaan “ Bagaimana cara saya membuat siswa menghormati saya?” terutama bagi guru yang baru mengajar. Jelas-jelas jika pertanyaan seperti ini masih ada di kepala kita selaku tenaga pendidik dan pengajar tentunya kita tidak akan dapat membuat seorang siswa pun hormat dan menghargai kita selama guru pun tidak mampu menghargai dirinya sendiri.
Sebenarnya yang perlu ditekankan pada siswa bukan bagaimana membuat siswa menghormati kita tapi mereka mampu menghormati dirinya sendiri. Jika ini telah terlaksana proses belajar mengajar pun khususnya sastra akan terasa damai dan menyenangkan.
Jika kita ingin siswa menghormati kita, kita harus menghormati mereka sebagai sesama manusia yang berhak akan harga diri manusia. Kita harus menerima kelebihan dan kelemahan mereka, sebab mungkin saja lingkungan, gaya hidup mereka berbeda dengan yang kita alami sendiri. Dengan kata lain mereka adalah anak-anak yang masih muda, belum berpengalaman, butuh perhatian meskipun mereka pandai(cerdas).
Kita tidak dapat memaksakan apa yang mereka buat harus sama dengan apa yang kita harapkan. Dalam membuat keputusan-keputusan yang logis, matang dan cerdas sekalipun tidak bisa kita paksakan selama kita juga tidak mencontohkannya.
Disinilah kesempatan guru sastra memberi contoh itu. Dari pada membuang waktu kita mengkritik dan meremehkan siswa karena cara bepakaiannya, cara pergaulannya, menyontek waktu membuat PR. Lebih baik menjadi guru sastra yang mampu membawa siswa siswinya aktif, kreatif, dan inovatif. Hidup sastra!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan