Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Gara-gara Arfan, Aku Jadi Malu (Pentigraf)

Tantangan Hari ke-185

#TantanganGurusiana  365

Magrib malam itu aku, anakku, dan ayahnya sholat berjemaah di masjid. Sebelum berangkat azan sudah bergema. Padahal Arfan kecilku belum pukul 18.15 WIB sudah siaga menunggu ayahnya agar segera ke masjid. Habis mandi sore ia langsung  mencari pakaian bersih sendiri di rak lemari kain. Celana dan bajunya sudah aku susun rapi sehabis distrika, jadi putra kecilku itu sudah tahu mana baju yang pantas dibawa shalat ke masjid walau umurnya masih empat tahun. Ia pandai mencari sendiri tanpa dikomoando dari ku. Sebelum berangkat terpaksa kami buat perjajian dulu dengan Si Bungsuku ini. Pasalnya ia anak yang aktif. Pernah jemaah sedang shalat ia berlarian di belakang saf jemaah. Aku takut jemaah terganggu dengan keaktifannya. Ia tidak mau diam apalagi duduk berlama-lama. Ada saja yang akan dikerjaan putra lucuku ini hingga mengundang gelak tawa. Agar tidak terulang lagi seperti kejadian di atas makanya kami buat kesepakatan dulu bahwa tidak boleh heboh dan main-main di masjid. Ternyata ia setuju dengan  menyatakan “paham Bu”.

 Peci berwarna merah bata ada liris kotak-kota di tengahnya  salah satu benda kesayangannya yang tidak boleh tinggal. Sejadah kecil berbentuk persegi panjang hadiah lomba menyanyi abangnya tempo hari  juga teman setianya kala mau ke masjid. Rakaat pertama Arfan kecilku masih tenang berdiri di sampingku mendengrkan suara imam yang merdu membaca  surat pendek. Masuk rakaat kedua ia mulai berlari ke belakang saf. Tak lama setelah itu ia datang membawa sarung dan satu sejadah kecil yang ia bentangkan persis di depanku. Sampai sholat berakhir ia masih asyik membentangkan sejadah tersebut. Tak biasanya sarung dan sajadah itu aku lihat. Lalu aku tanya siapa yang punya sarung dan sejadahnya. Tapi ia tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah belakang. Aku tanya lagi apakah sarung itu diambil di rak belakang, ia hanya tersenyum. Zikirku terus saja aku lanjutkan, sebab aku berpikir mungkin saja betul punya masjid.

Tiba-tiba ada dua orang laki-laki, seorang bapak dan anaknya mengode-ngode dari saf laki-laki meminta sarung dan sajadah tersebut. Syukurlah sarung ia berikan pada mereka sedangkan sejadah tidak mau ia berikan. Aku masih berpikir biarlah nanti saja sebelum pulang di kembalikan ke raknya. Di luar masjid  dua orang ayah dan anak tadi sudah senyum-senyum menunggu kami. Di tangan Arfan masih ada sejadah tadi dan ia tidak mau meninggalkannya di rak kain masjid. Dua orang itu meminta dengan lembut sejadah yang ada di pelukan Arfan.  Ia masih tetap bertahan walau berbagai cara membujuknya. Aku pikir sejadah itu milik masjid ternyata  dugaanku salah. Setelah ayah anak tersebut bicara “ ndak apa-apa ambil saja sajadah itu buat adek.” Aku jadi malu ternyata sejadah itu miliknya. Aku bujuk sekuat tenaga anakku agar mau mengembalikannya. Alhamdulillah akhirnya  ia mau setelah  diberi penjelasan panjang lebar. Ia takut akan di bakar api neraka karena sudah mengambil barang orang. Bungsuku ini mau memberikan meskipun kami harus mengejar bapak dan anak tersebut yang sudah berlalu pergi.

 Kubang, 17/07/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post