Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Arfan Masuk PAUD

Tantangan ke 213

#TantanganGurusiana

 

Pagi ini si Bungsu Arfan girang sekali. Siapa pun yang ia jumpai akan tertawa dibuatnya. Bibir mungilnya selalu berkata “Arfan sudah sekolah,” ujarnya dengan gayanya yang lucu. Aku  tersenyum geli melihat ulahnya, maklum umurnya baru empat tahun namun semangat sekolahnya luar biasa. Padahal baru pagi ini ia mendaftar di PAUD. Tampaknya  sekolah baginya seperti mendapatkan mainan baru.

Sejak ia melihat beberapa anak seumurannya pergi sekolah. Putra bontotku itu juga ingin sekali sekolah padahal usianya masih kecil dari mereka. Kasihan rasanya melihat ia merengek terus agar diantar ke sekolah. Padahal pandemi Covid 19 masih belum pergi. Untung tempat gurunya dekat dari rumah, jadi tidak perlu jauh mengantarnya.

Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali ia minta dimandikan dan dipakaikan baju baru. Awalnya aku berpikir ada apa tumben Arfan kelakuannya baik sekali. Padahal biasanya kalau dimandikan pagi-pagi ia akan menolak karena masih dingin. Tapi sekarang sangat mencengangkan, ternyata kakaknya bilang kalau Arfan mau sekolah sesudah bangun pagi harus mandi dulu, baru ke sekolah memakai pakaian yang rapi dan bersih. Barangkali kata-kata itu tinggal di hatinya. Aku tersenyum  bahagia sambil ikut menyiapkan segala sesuatunya termasuk bekal sarapan yang akan ia bawa.

Sebelum berangkat semua anggota keluarga ia salami sambil berkata “Arfan sudah besar, Arfan sekolah dulu ya Nek,” ujarnya sambil  mencium tangan nenek. Semua tertawa melihat kepolasan dan semangat mengebu-gebunya untuk masuk sekolah. Semoga semangatnya tidak pernah pudar menimba ilmu ujarku lirih. Kebetulan yang mengantar ayah dan kakaknya, sebab aku harus berangkat juga ke tempat aku bertugas. Ternyata sekolahnya hanya sampai pukul 10.00 WIB. Jadi hanya  dua jam ia sekolah. Kakaknya Mahira juga bahagia dapat mengantarkan dan menjemput adiknya sekolah.

Hari pertama masuk sekolah, awalnya saat baru sampai Arfan kecil diam-diam saja mengamati semua tingkah teman barunya. Eh.. baru beberapa menit keluar sifat aslinya semua mainan yang ada di rumah guru itu ia keluarkan hingga berserakkan di lantai. Gurunya hanya tersenyum. “ Ya begitulah anak-anak, emang itu kerjanya,” kelihatan sekali ibu guru itu sangat paham dan mengerti dengan kelakuan anak-anak. Tampak ia sudah biasa menghadapi bocah-bocah. Aku tersenyum mendengar cerita ayahnya. Semoga Arfan tumbuh jadi anak yang sholeh dan pintar ya ujarku padanya.

 

Kubang, 13/08/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post