Lelaki Hebatku
Tantangan hari ke-228
#TantanganGurusiana
Aku mempunyai saudara laki-laki dua orang. Keduanya adalah kakak bagiku. Mereka sudah menikah dan punya keluarga masing-masing. Sebagai anak bungsu aku ditakdirkan tinggal di kampung kelahiranku. Sedangkan kedua kakakku tersebut menetap di daerah yang berbeda karena istri mereka bukan orang kampungku. Walaupun berjauhan tempat namun tetap masih bisa saling mengunjungi sebab masih dalam provinsi yang sama.
Ayahku sudah lama pergi meninggalkan kami semua. Beliau menghadap illahi disaat aku masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Waktu itu aku sedang berkutat dengan penulisan tugas akhirku. Kebetulan skripsiku tempat penelitiannya di kampungku sendiri. Ayah berjanji beliau akan membantu mencarikan narasumber penelitian skripsiku tersebut. Alangkah senangnya hati waktu itu ketika ayah bersedia membantu tanpa aku minta. Beliau sehari-hari memang berkeliling kampung hingga kampung tetangga untuk mencari dagangan. Membeli ayam ke rumah-rumah dan Menjualnya kembali ke toke beliau lakoni setiap hari. Hampir semua orang di daerahku kenal dengan beliau. Jadi tidak susah baginya mencari narasumber untuk aku wawancarai.
Belum sempat niat baik beliau terealisasi, Allah lebih sayang beliau. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa beliau akan pergi secepat itu. Belum sampai satu minggu aku kembali dari kampung bercengkrama dengan beliau. Ternyata Jumat malam tepatnya Oktober 2001 beliau telah mendahului kami anak-anaknya. Hanya ibu yang ada di rumah melapas beliau waktu itu. Rasanya seperti disambar petir disiang bolong saat aku menerima kabar malam itu. “Ayah sedang sakit keras segera pulang, seperti itulah kalimat yang aku terima dari ibu kos tempat aku tinggal.
Tangisku meledak tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Sementara jam dinding masih menunjukkan pukul 02.30 WIB dini hari. Tubuhku seolah tak mampu berdiri pandanganku berkunang-kunang. Hati ini tidak dapat dibohongi terasa sekujur badanku lunglai, layu. Hati kecilku berkata ayahku sudah tidak ada lagi. Mataku nanar menerawang jauh. Tak sanggup aku melangkahkan kaki terbayang sosok kuat, penyabar dan penyayang sedang terbujur kaku di tengah rumah. Butiran-butiran bening tumpah tak terbendung lagi mengalir deras di pipi.
“Uni, biar Mel menemani dan mengantarkan uni sampai di kampung,” adik kosku itu sungguh baik hati mau susah payah mengantarkanku sampai di rumah. Jarak hingga 100 Km pun tak masalah baginya. Ia tempuh tanpa lelah demi keselamatanku selama di mobil umum. Ia takut kalau aku tak jadi sampai di rumah dengan kondisi lemah seperti itu. Sepanjang perjalanan ia selalu menguatkanku agar bersabar. Ia tak pernah bilang ayah sudah tiada. Agar aku tidak semakin cemas.
Hari masih sangat pagi. Tidak ada satu pun kendaraan umum yang berangkat menuju kampungku sepagi itu. Aku ingat kakak laki-lakiku juga tinggal di Padang. Belum ada HP waktu itu. Komunikasi hanya menggunakan telepon rumah atau telepon umum. Aku kehilangan akal kemana akan dihubungi. Untung tempo hari kakakku tersebut memberitahu dimana ia tinggal. Alhamdulillah menantu ibu kos mau mengantarkan kami ke kediaman kakakku nomor dua. Ternyata sampai di situ ia tidak di rumah, ia tidur di rumah temannya kata salah seorang penghuni kost.
Bersambung.......
Kubang, 29/08/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan