Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Gerakan Literasi Keluarga Mencerdaskan Bangsa

Tantangan hari ke-238

#TantanganGurusiana

Oleh. Ernawati, S.S

Gerakan literasi keluarga, tiga kata tersebut barangkali masih baru di telinga kita. Namun sebenarnya kata-kata itu di dunia pendidikan sudah biasa dipakai dikenal dengan gerakan literasi sekolah (GLS). Sekolah dan keluarga mempunyai hubungan sangat erat satu sama lain. Tumbuh kembang peserta didik tentunya berawal dari rumah tangga. Keluargalah pertama kali berperan penting untuk membentuk prilaku, sikap dan watak anaknya.

Semua didikan kedua orangtuanya akan tercermin pada diri buah hati mereka. Jika keluarga tersebut terbiasa membaca, bercerita, dan menulis otomatis si anak akan terpengaruh dan akan mencontoh. Sebab anak adalah peniru terbaik orang tuanya. Sebaliknya jika anggota keluarga sering berkata kasar, malas membaca secara tidak langsung si anak sudah ikut terkontaminasi. Selaku orang tua bijak tentunya memiliki jurus jitu agar putra putrinya tumbuh menjadi pribadi baik dan pembelajar.

Lingkungan keluarga yang aman dan suasana kondusif akan melahirkan generasi aktif dan produktif. Apalagi di era pandemi Covid 19 ini, waktu siswa lebih banyak di rumah bersama keluarga. Orang tua harus dapat menciptakan kenyaman putra putrinya agar betah belajar di rumah. Salah satunya dengan mengerakkan literasi keluarga. Sesuai pengalaman penulis sebagai orang tua yang mempunyai empat orang anak. Masing-masingnya ada pada setiap tingkat sekolah mulai dari Pendidikan Usia Dini (PAUD), sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah pertama dan Sekolah menengah Atas.

Kemampuan literasi membaca setiap anggota keluarga sudah diperkenalkan sejak mereka masih dalam kandungan. Lantunan ayat suci Al quran selalu diperdengarkan baik dibaca sendiri maupun dengan memutar speker murotal Al quran selama 24 jam sehari. Begitu seterusnya kegiatan literasi Al quran ini tetap berlanjut hingga sekarang.

Memasuki usia dua tahun dimana mereka sudah mulai pandai berbicara penulis bercerita atau mendongeng di dekat mereka. Tujuannya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun dan berakhlak mulia. Sebab melalui cerita rakyat seperti Malin Kundang, Si Kancil, kisah nabi dan rasul serta lainnya itu mampu menanamkan nilai-nilai moral dan pendidikan. Secara tidak lansung mereka takut berbuat tidak baik atau dilarang oleh agama dan norma yang berlaku.

Biasanya kegiatan mendongeng ini juga dilakukan secara bergantian. Sering kali Si Kakak lebih pandai dan lancar bercerita sebab ia sudah mahir membaca dibanding adiknya. Jika ibu dan ayah berhalangan maka sudah ada kakak yang bisa menggantikan. Namun semuanya harus tetap belajar. Caranya dengan membaca buku-buku cerita tersebut. Penulis sengaja menyediakan sumber bacaan tersebut di pustaka mini keluarga. Hal ini penulis lakukan semenjak tamat kuliah. Lemari pajangan pecah belah disulap menjadi Rak buku. Disamping itu penulis juga suka mengoleksi buku sastra dan buku fiksi lainnya, tentu koleksinya semakin hari semakin bertambah. Koleksi buku juga penulis letakkan di ruang tamu, dengan membuat pojok baca khusus. Termasuk buku-buku karangan penulis di Mediaguru juga di pajang di pojok baca ruang tamu tersebut. Setiap tamu yang datang dipersilakan membaca sambil duduk santai.

Salah satu kegiatan rutin seisi rumah adalah magrib mengaji. Semua anggota keluarga sesudah shalat Magrib berjemaah mengaji bersama secara bergantian. Duduk melingkar mendengarkan, menyimak, dan memperbaiki tajwid, panjang pendek bacaan setiap anggota keluarga. Saling memberi koreksi sehingga bacaan menjadi benar dan tercipta keakraban satu sama lain. Termasuk adiknya yang masih berumur 4 tahun juga diajarkan membaca Iqra dan doa-doa pendek. Kegiatan ini berlangsung sampai masuknya waktu shalat Isya setiap harinya. Setelah itu mereka boleh belajar sendiri sesuai sekolah mereka masing-masing hingga masuknya waktu tidur pukul 22.00 WIB.

Kegiatan literasi keluarga juga dilakukan pada sore hari setelah shalat Asar. Waktu santai setelah mandi dimanfaatkan menggerakkan anggota keluarga membaca buku bacaan ringan seperti novel, cerpen, puisi dan buku motivasi lainnya. Boleh dipilih mau membaca atau menulis. Bacaan mereka pun bebas sumbernya, dari pustaka mini atau internet. Akhirnya mereka bisa menulis walaupun baru di diari mereka demi mencerdaskan anak bangsa.

Profil Penulis

Ernawati, S.S adalah salah satu guru B. Indonesia di MAN Lima Puluh Kota biasa disapa Erna. Beliau lahir di Kubang aktif sebagai Pembina OSIM dan ekstra Bengkel Sastra di MAN Lima Puluh Kota Sumbar. Karya tulisnya sudah dibukukan sebagai meraih pemenang Selamat Datang Mas Nadim, Medeka Belajar, Guru Penggerak dan Di rumah Aja, Penggerak Literasi, dan The Power of Kepekso yang digelar Mediaguru Indonesia. Buku pertamanya berjudul Jurus Ampuh Menulis Puisi. Buku keduanya berjudul Suara Kalbu Pembasuh Nurani dan buku ketiganya berjudul Guru Kreatif Guru Produktif. Beberapa Karya sastra dan ilmiahnya sudah di muat di media massa lokal dan nasional seperti di Haluan, Padang ekspres, Horison dan jurnal ilmiah nasional lainnya. Beliau sudah banyak melahirkan prestasi bidang kepenulisan dan kesastraan baik tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Guru B. Indonesia ini selalu setia membimbing siswa-siswinya agar selalu berprestasi dan bermanfaat bagi orang lain. WA. **(censored)**email gurusiana : **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post