Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Lelaki Hebatku (3)

Tantangan Hari ke-231

#Tantangangurusiana

Langit redup, Mentari siang itu engan menampakkan dirinya. Ingin aku berteriak berlari memanggil ayah. Semua mata tertunduk iba ke arahku. Seolah mereka tak sanggup menyaksikan ekpresiku terkulai layu. Berat sekali langkah kaki ini aku ayunkan, tubuhku terasa mau rubuh. Aku tak tahu entah siapa yang sudah memapahku turun dari mobil. Pandanganku berkunang-kunang. Aku lihat selendang putih terpasang di persimpangan menuju rumah. Orang-orang berjejer sepanjang jalan memandangku diam terpaku. Tak satu pun berani bicara, mereka hanya menatapku. Perasaan ku mulai tak menentu, jantungku berdesir kencang. Tak sanggup aku mengangkat kakiku masuk rumah.

“ Nak, kamu harus sabar. Ayahmu telah mendahului kita,” bagaikan disambar petir di siang bolong. Tangisku meledak. Suaraku tercekat. Ibu merangkulku erat membenamkan tubuhku di pangkuannya. Isak tangis pun pecah dalam ruangan berukuran 3 kali empat itu. Semua pelayat ikut sedih melihat aku menangis. Ku peluk jasad ayah untuk terakhir kalinya.

Ibu sosok yang paling sabar diantara kami semua. Beliau sangat tenang duduk di dekat tubuh ayah yang sudah membeku. Wanita tegar tanpa keluh kesah. Padahal beliau sadar akan ditinggalkan ayah selamanya. Biasanya mereka hanya berdua menghuni rumah. Seperti tapak dan tumit, kemana ayah di situ ada ibu. Seia sekata mereka berdua. Namun aku lihat tak sedikit pun ibu cemas bila nanti beliau akan tinggal sendiri di rumah. Sebab aku dan kedua kakakku merantau di negeri orang.

Kakak pertamaku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak. Mereka tinggal di luar kota lumayan jauh jaraknya dari rumah. Namun jika ingin menemui ibu akan memakan waktu satu jam jika mengendarai motor atau mobil. Beliaulah sosok tertua pengganti ayah bagiku selain kakak keduaku juga laki-laki. Beberapa bulan sesudah kepergian ayah alhamdulillah aku diwisuda. Tamat dengan waktu tiga setengah tahun dengan predikat Cumlaude ku persembahkan kepada Ibu dan ayah. Berkat Doa ibu dan ayah serta kakak-kakakku aku bisa seperti itu.

Ternyata kerja kerasku selama ini dibalasi oleh allah SWT dengan diterimanya aku bekerja sebagai guru di salah satu sekolah kejuruan favorit di kotaku. Suatu rahmat yang luar biasa bagiku, ayah pergi alhamdillah ada aku yang menggantikan beliau menemanimu ibu di rumah. Tak lama berselang tuhan memang sangat pengasih dan penyayang aku dipertemukan dengan jodohku. Meskipun belum pernah bertatap muka selama ini ternyata hatiku terbuka buatnya.

Proses yang tak begitu lama, semua keluarga menyetujui pria itu sebagai suamiku. Tibalah waktunya akad nikah.

Bersambung....

1/9/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post