Ernawati, S.S

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ucapan Gambaran Kualitas Diri

Tantangan Hari ke-234

#TantanganGurusiana

Prilaku, tindakan dan bahasa seorang mencerminkan hati dan isi pikirannya. Apa pun yang ia tuturkan akan didengar dan diingat. Anehnya era milenial sekarang masih ada sebagian kecil orang seolah tidak mengerti dan cueks dengan itu semua. Kadang ia tidak menjaga tutur kata dan cara bicaranya baik kepada siswa atau wali muridnya. Padahal berbicara menjadi alat komunikasi antarmanusia dan alat pergaulan sehari-hari sebagai makhluk sosial. Mulut yang dipakai untuk berbicara berkaitan erat dengan hati dan pikiran. Luapan dari hati dan pikiran ini keluar berupa ucapan atau perkataan. Mulut pun bisa mewakili hati yang sombong atau hati yang merendah ujar Irwan Sahada dalam Kompas.

Ia juga menambahkan ucapan atau perkataan ini ada yang sifatnya membangun ada pula yang sifatnya menjatuhkan. Ada yang manis ada pula yang pahit. Tanpa disadari bahwa kata-kata yang keluar dari mulut sesungguhnya memiliki kuasa. Bukan mustahil ucapan tersebut bisa menjadi kenyataan. Oleh karena itu, mulut yang baik adalah mulut yang memperkatakan hal-hal yang optimistis, membangun, dan penuh keyakinan. Menjaga mulut Kita dapat mengukur seseorang melalui lontaran ucapannya yang kerap keluar. Ucapan seseorang bisa jadi cermin dirinya sendiri. Melalui ucapannya akan terlihat bagaimana pola hati dan pikirannya, seperti ucapan yang sembrono sampai ucapan yang dipertimbangkan baik-baik. Akibatnya, melalui ucapannya seseorang akan dibenarkan atau dipersalahkan.

Sewajarnyalah sebagai makluk sosial harus pandai memikirkan apa perkataan yang akan ia ucapkan dan tuliskan. Ibarat kata orang Minangkabau “Mangango dulu sebelum mangecek”. Artinya apa yang kita lontarkan harus kita pikirkan dulu, ingat siapa yang akan kita tuju atau lawan bicara kita apakah anak-anak, sama besar, orang tua atau orang yang lebih kecil dari kita. Pandailah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan hanya melepaskan isi perut kita saja. Apalagi langsung mencap lawan bicara kita sombong. Mestinya kita juga harus berkaca dulu apakah kita sudah mampu menjaga bahasa dan tutur kata kita. Apakah tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Jika hal seperti ini kita sadari maka kita juga intropeksi diri dulu baru kita berbicara.

Apabila tidak dapat menjaga mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tak bermanfaat, memaki, mencela, menghina, memfitnah, berkata kotor, menghujat, bahkan mengancam. itulah orang yang “lancang mulut” biasanya sok tahu, senang menuding orang lain dan mengurai kekurangan orang tertentu dari segi negatifnya saja. Model seperti ini hanya memicu perselisihan saja. Peribahasa mengatakan “karena mulut badan binasa” ini berarti mendapat musibah akibat perkataannya sendiri.

Perkataan yang kurang bijak dan sembrono dan tak dipikirkan segala akibatnya menuai masalah baru. Menjaga bahasa atau memelihara kata-kata adalah tindakan bijak. Demi kebaikan diri sendiri dan orang lain. Bagaimana dengan mulut Anda? Mari kita intropeksi diri.

Dikutip dari berbagai sumber

Kubang, 4/09/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post