Gerakan Seniman Masuk Sekolah, Argumentasi Dimensi, dan Peserta Didik
Gerakan Seniman Masuk Sekolah, Argumentasi Dimensi, dan Peserta Didik
Gerakan Seniman Masuk Sekolah adalah sebuah gerakan dari kemendikbud yang digulirkan semenjak tahun 2018. Gerakan ini dimaksudkan untuk memperluas akses pelajar dalam kegiatan-kegiatan artistik melalui GSMS. Seperti yang kita ketahui pendidikan seni di Indonesia tidak merata, ada sekolah-sekolah yang sangat maju, punya guru kesenian, ekskul, dan seterusnya. Tapi ada pula sekolah-sekolah yang tidak punya akses.
Minggu ini, Cianjur kedatangan seorang artis, personil Bimbo. Kedatangan beliau sepertinya mengawali lagi GSMS yang belum sempat terdengar gaungnya. Kedatangannya di beberapa sekolah yang ada di Cianjur sempat menjadi pertanyaan di kalangan para pengajar. Mengapa harus Bimbo? Kalau segmentasinya lebih ke peserta didik, mengapa harus Bimbo, yang saya yakin, kaum milenial tidak akan tahu siapa beliau. Tidak semua familiar dengan grup yang termasuk musikus legendaris ini.
Tidak ada yang salah. Apakah Bimbo dimasukkan jadwal GSMS, untuk memancing guru-gurunya untuk menyambut baik giat ini? Hanya saja, walaupun tidak ada yang salah, tetap, apabila cakupannya untuk peserta didik, alangkah lebih baiknya apabila yang dihadirkan yang bisa mewakili kaum milenial. Katakanlah Nissa Sabiyan, Fatin Sidqia, atau mengapa tidak Fourtwnthy, Dimensi Argumentasi sekalian? Walaupun secara pengalaman hanya seujung kuku Bimbo, akan tetapi menurut saya, akan lebih mengena, dan akan lebih mengangkat kegiatan ini. Atau bisa saja dari pemusik yang mengharumkan nama negara, atau pemain watak, banyak sekali. Atau dua-duanya. Wakil generasi X, tapi ada wakil kaum milenialnya
Nah, ketika kita mengharapkan agar dampak dari GSMS ini positif, alangkah lebih bagusnya lagi kalau nasib seniman sekolahan (baca= guru senibudaya) lebih diperhatikan. Bukankah cikal bakal peserta didik yang akan menjadi seniman, berawal dari sekolah? Miris melihat kenyataan di lapangan, bahwasanya guru senibudaya di Cianjur setingkat SMK, tidak ada yang PNS. Apakah pemerintahan tidak ada pendataan, atau kebutuhan di lapangan dirasa tidak perlu? Saya rasa ketika mereka menjadi PNS, akan berbanding lurus dengan kinerja di lapangan.
Mendatangkan seniman Ibukota mémang menarik, akan tetapi menghasilkan seniman sekolahan menjadi insan yang lebih bersemangat, akan lebih mulia lagi, mulia karena karya, karena mereka setiap hari harus berhadapan langsung dengan peserta didik.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan