ASAL MULA TARIAN BARONGSAI, TERNYATA BEGINI
Tantangan menulis hari ke-30
DI Hari Raya Imlek, ada beberapa tradisi yang sudah lama kita tahu. Selain Barongsai, juga ada pesta kembang api, memakai baju baru yang serba merah dengan unsur emasnya, makan bersama keluarga besar (tentu tak ketinggalan dengan penganan dodol keranjangnya), dan tradisi yang paling banyak dinanti-nanti adalah bagi-bagi angpau.
Walaupun muslim, tapi saya suka melihat atraksi Barongsai yang memang selalu ada setiap tahun di Cianjur. Warga masyarakat Cianjur pun selalu memenuhi jalanan yang memang sengaja ditutup untuk kepentingan karnaval ini. Sepanjang jalan utama selalu dipenuhi penonton, dan mereka selalu tertib dengan mengosongkan badan jalan sekadar untuk memberi jalan kepada orang-orang yang berbaris dan berkarnaval. Selain Barongsai, ada pula rombongan pelajar yang memainkan drum band. Yang paling banyak menarik penonton adalah kalau rombongan pemain Wushu dan para penari lewat. Liukan badan, baju yang dipakai serta keseragaman mereka di dalam beratraksi, memang sangat memukau. Pedang Wushu yang panjang berkelebatan di udara dan berkilat terang diterpa sinar matahari. Sangat indah.
Keindahan para pemain Wushu dilengkapi oleh datangnya pemain Barongsai dengan pakaian khasnya. Menurut Enci-enci, salah satu yang punya toko di sini, tari Barongsai merupakan lambing kebahagiaan dan keberuntungan. Kami yang menyaksikan tak segan untuk memberi mereka angpau untuk yang memainkan Barongsai. Pemberi berharap berkah Ketika memberi angpau kepada sang penari. Ternyata tarian Barongsai juga dipercaya oleh kaum Konghucu, ampuh untuk mengusir roh jahat. Mahluk jahat ini Bernama Nian. Ada beberapa versi sejarah Barongsai.
Konon, zaman dahulu, Nian akan memakan semua penduduk desa yang ditemuinya. Terutama anak-anak, karena dia sangat suka. Oleh karena itu, penduduk selalu bersembunyi dan sangat takut ke luar rumah. Namun ada seorang pria tua yang sangat pemberani. Dia memutuskan untuk menghadapinya dengan keluar malam-malam. Pria tua tersebut lantas membunyikan petasan untuk melawan NIan. Keesokan harinya, penduduk desa pada keluar dan mendapati pria tersebut baik-baik saja dan tidak dimakan oleh Nian. Semua menjadi sangat gembira dan bahagia. Nah, sejak saat itu, Ketika Imlek, penduduk selalu menyalakan petasan dan kembang api untuk menakut-nakuti Nian.
Ada lagi yang menyebutkan, Pada saat Dinasti Qing, ada monster yang sangat meresahkan dan menimbulkan ketakutan seluruh warga. Muncullah singa atau Barongsai yang menghalangi pergerakan monster tersebut. Monster itu kalah dan berlari meninggalkan kampung tersebut. Singa pun pergi. Monster menjadi sakit hati, dan akan membalas dendam. Masyarakat panik karena mereka tidak mengetahui keberadaan singa yang telah menolongnya. Akhirnya mereka berinisiatif untuk membuat kostum singa seperti yang kita lihat sekarang. Mereka berhasil karena monster sangat ketakutan. Begitulah awal mula mengapa di setiap Hari Raya Imlek, selalu ada Barongsai.
Namun, semua itu sepertinya tidak akan saya saksikan di tanggal 1 Februari tahun 2022 ini, karena kita yang ada di Indonesia harus mengikuti anjuran pemerintah untuk selalu berjaga dan terus memakai protocol kesehatan. Berdasarkan SE No 02 Tahun 2022, pelaksanaan Hari Raya Tahun Baru Imlek 2573 Kongzili pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua kelenteng/miao/litang/xuetang dengan catatan harus digelar secara terbatas, maksimal 10% (sesuai level PPKM daerah), dari kapasitas tempat perayaan. Kemudian umat tidak dianjurkan untuk keluar kota dan/atau mudik. Tak ketinggalan, Kementrian Agama juga mengimbau agar Imlek saat ini dirayakan dengan penuh kesederhanaan serta menghindari keramaian dan kebiasaan kumpul dengan kerabat dalam jumlah yang besar. Dengan demikian, perayaan Imlek yang biasanya jalanan dipenuhi dengan tari-tarian khas dan pesta kembang api, sepertinya tidak akan ada. Padahal Barongsai dan kembang api adalah hal-hal khas dan selalu dirindui, bahkan ditunggu-tunggu. Tidak hanya bagi pemeluk agama Konghucu.
Untuk mengantisipasi pelonjakan Omicron ini, maka Bapak Mentri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta seluruh umat Konghucu untuk mematuhi protokol Kesehatan di dalam merayakan Tahun Baru Imlek 2573. Perlu kita ketahuhi, kasus penularan lokal varian Omicron dari hari ke hari kian meningkat tajam. Per tiga hari yang lalu, baru 29.000 kasus, tanggal 29 Januari kemarin sudah mencapai angka 43.000 kasus. Mengerikan memang. Beliau juga beramanat untuk merayakan hari besar ini dengan penuh kesederhanaan dan kebermanfaatan tanpa mereduksi maknanya.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan