Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
INDONESIA, POTRET PAGI INI

INDONESIA, POTRET PAGI INI

Tantangan menulis hari ke-24

Inilah potret kesejahteraan yang belum merata yang dapat saya tangkap hari ini. Gegara rebutan penumpang, acara dinas rutin saya ke sekolah menjadi sedikit terhambat. Masalahnya karena satu sama lain tidak saling pengertian.

Saya memerhatikan sosok sopir, yang angkotnya saya tumpangi, angkot 09, kira kira berumur 25 tahun, mendadak beringas. Turun dari mobil yang sudah dipalangkan sebelumnya kepada angkot yang menyerobot penumpang yang menjadi haknya (angkot 04B). Dengan amarah yang membludak, dia berani menantang sopir angkot yang jauh jauh berusia lebih tua.

Kurang lebih 10 menit, mereka bersitegang saling mempertahankan pendapat. Sopir 09 merasa bahwa penumpang yang menyetop berada di jalurnya, tidak boleh naik ke angkot lain selain 09, sedangkan sopir 04B merasa, daripada tidak diangkut, karena melihat angkot 09 penuh, lebih baik diangkut. Mereka saling mengeluarkan sumpah serapah, tentu dengan nada dan intonasi tinggi. Penumpang yang berada di angkot 09, ada yang panik karena takut, ada pula yang panik karena kesiangan, mulai tidak nyaman. Termasuk aku, yang setiap hari selalu berusaha sudah berada di kantor pada pukul 06.30. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 06.40, dan mulai tidak nyaman.

Sopir angkot 09 akhirnya kembali masuk, setelah ada beberapa warga yang mencoba menengahi pertikaian tersebut, yang saya taksir juga, seandainya tidak ada warga yang turun tangan, saya yakin mereka akan berkelahi. Nafas pemuda 25 tahunan itu masih terlihat menggelegak menahan amarah. Para penumpang mengucap syukur, karena acara berkelahi tidak jadi. Tampak sang sopir 04B membanting pintu dan mendahului mobil kami, melaju dengan kecepatan lumayan tinggi.

Sopir yang membawaku masih menggerutu dan mulai menyalakan mesin. Sumpah serapah keluar dari mulutnya yang sedikit bergetar.

" Dasar orang tua tak tahu aturan...."

" Dasar belegug..."

" Gak mikir..."

" Sopir m*nyet..."

Seorang ibu yang duduk di jok panjang menyarankan supaya yang muda harusnya mengalah, toh rezeki sudah ada yang mengatur. Namun sopir merasa, harus ada yang berani membetulkan tindakan yang salah, walaupun usia lebih tua. Dalam hal ini, saya setuju dengan sopir, karena menurut saya, yang salah harus dibetulkan.

" Saya juga butuh makan, Bu ... saya punya anak istri yang harus saya nafkahi, semua sama mengais rezeki..."

Begitu sopir membela diri.

Saya tidak banyak bicara, hanya mendengarkan sopir yang mulai bercerita, bahwa dirinya harus menghidupi anaknya yang berjumlah 2 orang, serta istri yang selalu protes kalau uang setoran datang telat. Belum lagi utang piutang yang numpuk. Terdengar anak SMA mengusulkan supaya sopir ikut acara Mikrofon Pelunas Hutang, sebuah reality show yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta Indosiar setiap pukul 17.00 wib. Saya ikut tersenyum mendengar celutukan anak tersebut.

Ternyata cerita tidak berhenti di situ, ibu yang berada di sisiku mulai curhat, menceritakan kehidupan pahitnya, gara gara ekonomi kurang, meninggalkan suami ke Saudi Arabia, uang selalu dikirim kepada suami, namun dipakai kawin lagi. Cerita silih berganti. Suasana yang tadi mencekam, sedikit demi sedikit mulai cair karena cerita pengalaman si ibu tadi. Sampai tanpa terasa, aku sudah sampai di depan kantor.

Gambaran kejadian pagi ini menyadarkan saya betapa kesejahteraan masyarakat masih jauh dari apa yang diharapkan. Kesejahteraan yang tidak merata, akan membuat orang cenderung merasa lebih benar, egois, bahkan sampai dapat menghalalkan segala cara. Tingkat kesejahteraan yang tidak merata akhirnya menimbulkan jiwa jiwa yang pesimis, selalu berfikiran negatif, serta cenderung tidak percaya kepada orang lain. Tentu ini menjadi PR yang tidak dapat dianggap sepele. Peranan pemerintah untuk melakukan pembangunan ekonomi khususnya, merupakan kunci menuju masyarakat yang lebih makmur.

Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post