Kekalahan Timnas dan Belajar Menulis dari Rumus Bermain Bola
Tantangan Hari ke-2
Kekalahan Timnas kali ini dalam berjuang untuk mendapatkan piala AFF, tidak membuat televisi yang ada di rumah menjadi hancur berantakan. Tidak pula membuat mood saya menjadi ambyar. Saya masih bisa memiliki hati yang tegar ternyata, walau beberapa saat lamanya sempat tertegun. Saya kapok percaya sama peramal yang bergentayangan di dunia maya. Mereka dengan begitu meyakinkan, menghipnotis hampir seluruh penyuka bola di tanah air untuk memercayai semua ramalannya, setelah dua perkiraan sebelumnya memang selalu tepat. Saya hanya tidak berguru dari pengalaman Kang Yana, orang yang berhasil nge-prank rakyat Indonesia atas tingkah lakunya yang seolah-olah raib secara misterius. Ya, jelas-jelas banyak peramal, ngaco dalam mencari Kang Yana, tapi lagi-lagi kita selalu terhipnotIs dengan apa yang mereka ramalkan. Jujur, saya sudah tenang, Ketika Indonesia diramalkan akan menang 2-0 dari Thailand.
Tapi harapan hanyalah harapan, walau memang Timnas kita bermain sangat bagus dan juga sportif. Ini adalah kali keenam mereka gagal merebut piala AFF. Apanya yang salah? Semua sudah bermain dengan cantik, dengan usaha masing-masing. Menurut manager Timnas kita, Shin Tae- Yong, yang menjadi penyebab utama adalah karena mereka kalah pengalaman saja. Mereka masih sangat muda sehingga belum mampu menahan tekanan tampil di partai final AFF.
Menurut saya, Timnas anehnya selalu tampil menawan di awal saja. Tampil gemilang di akhir juga harus, dan itu yang belum bisa dilakukan sampai saat ini. Tapi, justru kekalahan ini yang membuat saya merenung dan menghubungkan dengan pengalaman menulis. Saya menjadi terinspirasi dari kekalahan Timnas. Kita boleh belum jadi penulis yang baik dan jauh dari kata unggul, maksudnya dengan pakem kepenulisan yang semestinya. Bagaimana cara bertahan menulis agar konsisten, bagaimana penulis berada di titik tertentu dalam situasi kehilangan ide. Bagaimana bergerak seirama saat penulis yang lain telah lebih dahulu menguasai kepenulisan. Bagaimana penulis harus memperhitungkan dan terus membaca tulisan orang lain, bagaimana caranya membayangi penulis yang lain, dan masih banyak lagi.
Timnas dan kita sama-sama masih harus belajar dan mempelajari skill individu, penggemblengan fisik dan mental, dan tentu saja taktik dan strategi. Bermain sepak bola dan menulis itu bukan hanya soal menendang dan asal menulis, menyundul dan hanya mengirimkan tulisan demi menggugurkan kewajiban tantangan menulis. Lebih dari itu, pentingnya improvisasi dari hasil banyak membaca, sehingga tulisan yang kita buat memiliki ruh yang berbeda, walau menulis dengan materi yang sama.
Penulis adalah Guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan