KUMPULAN CERITA LUCU KETIKA MENJADI PEMBINA UPACARA, SIAPA PERNAH MENGALAMI?
Tantangan hari ke-19
Ada cerita lucu di sekolah X, saking tidak maunya seorang guru menjadi pembina upacara, ketika dia hendak menyampaikan amanat, tiba-tiba saja gigi palsunya copot dan loncat ke depan, sehingga peserta upacara menjadi gaduh. Situasi upacara pun menjadi tidak karuan. Dengan gemetar, si guru memungut gigi palsu tersebut dan tidak melanjutkan tugasnya. Hal tersebut menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan, sehingga guru tersebut trauma menjadi pembina upacara. Sampai akhir masa jabatannya, tak sekali pun dia bersedia lagi menjadi pembina upacara.
Ada lagi cerita di sekolah Y, saking takutnya tidak hapal saat tampil, si guru meminta dibuatkan materi pembina upacara di jauh-jauh hari (dua bulan sebelum hari H), kemudian menghapal materi tersebut supaya dapat diingat di luar kepala. Hapalan materi tersebut sampai ke alam mimpi dan terbawa ngelindur seolah sedang menjadi pembina upacara.
Bahkan ada cerita lain lagi di sekola Z, karena grogi, ketika giliran berbicara, dia hanya mematung tanpa dapat berkata apa-apa. Untung kesiswaannya siap tanggap, langsung menghampiri dan mengambil mikrofon, kemudian berpura-pura ada gangguan teknis, sehingga si guru terselamatkan dari bahan tertawaan.
Atau ada lagi yang terjatuh gara-gara tidak konsen pada pijakan. Akhirnya ketika berdiri, kaki dan tangannya terlihat bergetar hebat saking groginya. Lucu tapi menjadi kenangan yang indah.
Beberapa cerita di atas, menjadi gambaran bahwa menjadi pembina upacara bukanlah hal yang mudah. Saking susahnya, sampai ada sekolah yang mengocok giliran tampil sebagaimana layaknya sedang arisan. Semua menjadi harap-harap cemas. Bedanya, untuk pengundian pembina upacara, mereka tidak mengharapkan namanya yang keluar. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena yang senior beralasan ingin memberikan kesempatan kepada yang lebih junior, dan yang junior merasa senior mau enaknya sendiri, akhirnya biar ada keputusan, dilakukan pengocokan. Sekalinya nama keluar, kebanyakan berharap turun hujan dengan lebat di tengah pelaksanaan upacara sebelum amanat pembina upacara dilaksanakan.
Menjadi pembina upacara memang susah-susah gampang. Bagi sebagian orang, barangkali bukan menjadi sesuatu yang susah. Tetapi bagi sebagian orang lagi, ternyata di lapangan menunjukkan bahwa menjadi pembina upacara itu adalah sesuatu yang sangat dihindari. Bukan hanya karena tidak terbiasa ditonton oleh ratusan siswa dan guru, namun juga memiliki aura yang membutuhkan adrenalin tertentu. Padahal kalau diingat-ingat lagi, kita sudah terbiasa berbicara di depan siswa.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang enggan menjadi pembina upacara. Jam terbang merupakan penyebab yang paling utama. Semakin seseorang memiliki jam terbang yang banyak, maka makin terbiasa pula orang tersebut tampil di depan. Walaupun materi kurang menohok, namun karena jam terbang yang tinggi, maka dia akan dapat berimprovisasi.
Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penguasaan materi. Materi yang akan kita bahas, untuk orang yang jam terbangnya belum banyak, haruslah betul-betul dikuasai, sehingga ketika kita tampil, kita tidak akan kehilangan kata-kata. Yang tidak kalah penting adalah kondisi badan kita harus fit, serta mental yang kuat. Ketika badan kita kurang fit untuk tampil, dapat dipastikan apa yang akan kita bicarakan menjadi tidak focus. Salah-salah malah jadi ngawur.
Banyak sekolah akhirnya rela mengeluarkan dana tersendiri khusus bagi pembina upacara, mengingat banyak sekali guru yang selalu beralasan ketika diintruksikan untuk tampil, padahal jauh hari sebelumnya sudah dijadwalkan sehingga tidak mendadak. Cara seperti itu lumayan menjadi solusi, namun di lain pihak malah menimbulkan masalah baru. Timbulnya joki pembina upacara. Sehingga yang diberi tugas, memberikan dana tersebut kepada yang mau menggantikannya, dan ini yang dikhawatirkan sehingga yang tidak mau tampil semakin keenakan dan tidak mau berusaha untuk dapat belajar dari ketidaksiapan mereka.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan