MEMBINA ETIKA SISWA MELALUI KASUS ARTERIA DAHLAN DAN EDY MULYADI
Tantangan menulis hari ke-25
Belum lagi kering masalah yang menimpa Arteria Dahlan terkait omongannya yang menyinggung masyarakat Jawa Barat tentang pelarangan menggunakan Bahasa Sunda di rapat-rapat, kini datang lagi masalah baru. Dia adalah Edy Mulyadi, yang Namanya kini viral karena mengeluarkan pernyataan yang telah menyinggung masyarakat Kalimantan Timur dan Ibu Kota. Pernyataan Edy tersebut, yang kemudian diketahui sebagai eks caleg Partai Keadilan Sejahtera disebut telah menghina Kalimantan Timur dengan menyebutkan bahwa Kalimantan Timur adalah tempat jin buang anak. Tentu saja pernyataan tersebut membuat geram masyarakat adat di Kalimantan. Walaupun Edy telah berusaha meluruskan, maksud perkataan jin buang anak itu adalah perumpamaan untuk tempat yang sangat jauh dari pusat keramaian, namun tetap saja ucapan Edy dianggap sudah melukai hati. Kalimat dari mulut Edy keluar Ketika dia menjadi pembicara di media sosial saat mengkritisi pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur. Bahkan di dalamnya Edy juga mempertanyakan kinerja Prabowo yang dianggap tidak berkutik dengan pemindahan Ibu Kota Negara kita. Perkataan Edy terbilang lantang, namun apa hendak dikata, perumpamaan yang dia pergunakan untuk menggambarkanj auhnya lokasi Ibu Kota Negara malah menjadi boomerang.
Memang masalah slip of tongue, selalu berbuntut Panjang. Beberapa kasus yang pernah terjadi berkaitan dengan salah ucap, akibat tidak control dalam memilih dan memilah kata di antaranya adalah pernah terjadi kepada Basuki Tjahya Purnama yang dianggap penistaan kepada agama, atau tentunya kita masih ingat dengan kasus yang menimpa Cita Citata yang dianggap telah menghina orang Papua, dan masih banyak kasus yang lain. Ini menandakan bahwa menjaga lisan, begitu pula dengan tulisan itu sangat penting, tak terkecuali di era digital. Semua tulisan kita jangan sampai melukai orang, entah itu dengan kesadaran sendiri, terpancing suasana, atau hanya terbawa orang lain, semua harus dihindari.
Begitu pula halnya dengan sebagian siswa kita, kalau kita simak dengan lebih jeli, semakin ke sini, rasanya riskan sekali mendengar, menyimak dan memerhatikan bahasa mereka, baik secara lisan, maupun tulisan. Banyak daari mereka sekarang tidak tahu tingkatan kata mana yang harus dipakai, ketika berbicara/ berkomunikasi dengan orang tua, orang yang lebih tua, rekan sebaya, dan ke yang lebih muda. Misalnya penggunaan bahasa “Aku” ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, atau adab membalas chat guru di grup WA dengan memakai emoji. Tak jarang pula mendengar obrolan siswa yang kasar dan membuat telinga menjadi panas dan kesal di angkot, atau Ketika berada di tempat umum.
Rasanya tidak berlebihan kalau kita selipkan sedikit cerita orang-orang yang pernah salah ucap kepada mereka disela-sela jam mengajar kita, sehingga mereka tahu bahwa etika itu memang harus dijaga dan dipakai. Etika itu bukan hanya hafalan belaka. Betapa kita harus selalu menjaga lisan dengan baik agar kita selalu terhindar dari permasalahan yang rumit. Membina etika siswa adalah tugas kita juga sebagai pendidik, dan ketika mengajar, selipi berita terkini yang mengandung nilai moral sehingga siswa ikut terus perkembangan dunia luar tanpa merasa digurui karena cara penyampaian kepada mereka dilaksanakan dengan santai.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
