Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENGEMAS STAND UP COMEDY MENJADI SEBUAH PROJECT WORK DALAM PEMBELAJARAN

MENGEMAS STAND UP COMEDY MENJADI SEBUAH PROJECT WORK DALAM PEMBELAJARAN

Tantangan menulis hari ke-8

Dalam mencari sebuah formula pembelajaran, pendidik harus terus berusaha dan merumuskan cara agar pembelajaran yang diberikan menjadi lebih menarik dan menantang peserta didik untuk dapat mempelajari, mengerjakan, tapi tetap enjoy dan selalu ingin belajar dengan kita. Susah? Lumayan. Belum tentu berhasil juga. Namun ingat, semua yang kita lakukan tidak harus selalu langsung sukses dengan mulus. Saya jadi teringat Albert Einstein yang melakukan percobaan selama 1000 kali hingga menghasilkan sebuah adikarya yang dapat kita nikmati sampai sekarang. Siapa sangka pesulap Houdini pernah gagal melepaskan diri dari penjara yang tidak terkunci sama sekali? Dari cerita Einstein, kita mendapat inspirasi bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda dan akan tercapai jika kita serius menekuninya, sedangkan dari Houdini adalah, kita jangan sampai terjebak mental gara-gara pemikiran kita yang negatif tentang sesuatu hal. Sesuatu yang sebetulnya sangat mudah, namun menjadi sulit karena kita beranggapan bahwa hal tersebut memang sulit.

Tidak harus menjadi seorang Einstein atau Houdini, minimal kita bisa menemukan formula teknik pembelajaran tersendiri sehingga peserta didik senang dengan pelajaran kita. Apalagi sekarang banyak sekali sumber yang dapat kita jadikan ide.

Saya tertarik dengan Stand Up Comedy yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi. Beberapa jebolan acara tersebut, sudah menjadi orang yang bisa dianggap sukses. Dan ternyata, acara ini lumayan digemari oleh kaum milenial, sehingga saya memutuskan untuk memasukkan Stand Up Comedy sebagai Project Work dalam pelajaran saya. Mengapa haraus Stand Up Comedy?

Padanan kata Stand Up Comedy adalah lawakan tunggal. Jadi sang komika (yang melakukan Stand Up Comedy) membawakan materi lawakannya di depan penonton langsung. Materi yang dibawakan adalah cerita lucu, dan mengandung unsur kritik sosial kemasyarakatan. Konten tersebut dikonsep sesuai dengan yang mereka lihat, alami dan menggelitik untuk digulirkan. Biasanya dilakukan satu orang, namun ternyata ada juga yang berbentuk grup, sehingga apabila diterapkan di beberapa mata pelajaran, saya kira sangat bisa. Bahkan dapat menjadi sebuah projek kerja untuk peserta didik. Kita sebagai pendidik dapat mengarahkan peserta didik sehingga mampu menghasilkan sebuah produk.

Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Stand Up Comedy sangat cocok apabila dimasukkan ke dalam materi Teks Anekdot. Namun, apabila kita ingin melaksanakan secara tematik dengan beberapa guru mata pelajaran lain, saya kira sangat bisa. Guru Bahasa Indonesia, guru Ppkn, sejarah, agama, misalnya dapat berkolaborasi dalam projek ini, sehingga dalam satu materi, siswa hanya mengerjakan satu projek ini saja. (mapel yang akan berkolaborasi mencocokkan KD/CP-nya sehingga menjadi KD yang paling pas untuk dikolaborasikan.Sedangkan tugas siswa membuat materi itu sendiri (materi yang dihasilkan merupakan gabungan dari hasil survei dalam kehidupan sehari-hari mereka yang digabungkan). Guru Bahasa Indonesia dapat menilai dari keterampilan berbahasanya, mimic/ ekspresi, gestur, dan tentu saja isi dari naskah teks cerita anekdot tersebut, begitu pula dengan guru mata pelajaran yang lain. Tinggal dicocokkan dengan kebutuhan aspek penilaian mereka. Misalnya untuk guru ppkn, bisa menilai dari cara mereka berbicara, dan bertutur, kemudian dikaitkan pula dengan profil pelajar Pancasila. Begitu seterusnya.

Sedangkan cara penilaian, dilakukan dengan hibryd. Agar peserta didik tidak tampil berulang-ulang dengan konten yang sama, maka ketika bermain, harus sekaligus direkam. Jadi Ketika guru A selesai menilai di kelas A, maka hasil rekaman peserta didik kelas A, diberikan kepada guru yang belum masuk ke kelas yang sama, begitu pula guru yang B dan yang lainnya, sehingga menjadi efektif. Peserta didik juga dapat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Sekali mengerjakan projek dari beberapa mata pelajaran.

Dengan Stand Up Comedy, peserta didik dituntut untuk berpikir kritis, lebih kreatif, peka terhadap lingkungan, menjalani hidup lebih menyenangkan, tidak stress, membangun kerja sama dan kebersamaan yang lebih baik, dan tentunya dapat menangkap fenomena sosial yang ada di sekitar mereka.

Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Guru SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post