Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENGUJI KESETIAAN

MENGUJI KESETIAAN

Tantangan hari ke-6

Menguji kesetiaan bukanlah sesuatu yang tabu. Bahkan banyak artikel yang membahas dan mengulas bagaimana cara untuk menguji kesetiaan. Terutama menguji kesetiaan kepada pasangan, dan hal itu juga bukan hal yang negatif. Tetapi melakukan hal itu kepada suami ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Seperti pengalaman saya. Bukan tidak percaya kepada suami, tapi penasaran saja karena akhir-akhir ini, saya sering melihat suami senyum-senyum sendiri sambil memegang gawai. Entah, apa yang sedang dilihat atau dibacanya. Yang jelas, tingkah lakunya memancing untuk menyelidiki sambil mencari info, siapa tahu ada yang memberi lampu terang tentang arti senyum-senyum suami. Kesal, jelas. Apalagi kalau sedang ngobrol, tidak ada eye contact sama sekali. Fokus dengan gawainya.

Saat itu, saya pulang kerja, dan tiba-tiba saja muncul ide untuk mengerjainnya. Dengan senyum dikulum, saya tidak langsung naik angkot, sengaja menyempatkan diri untuk membeli nomor baru terlebih dahulu ke kios seberang. Lalu bergegas membeli kartu sim. Penjaga counter dengan sigap melayani. Sebuah kartu sim dia sodorkan. Karena ingin cepat, saya meminta penjaga counter tersebut untuk mengaktifkan langsung.

“Mana data pribadi Ibu?” katanya sambil memasukkan kartu baru tersebut ke dalam gawaiku.

“Ah, punya data Aa saja, gak apa-apa … ini tuh buat hp anak saya, kebetulan KTP Ibu ketinggalan!”

Cekatan juga dia memasukkan data. Tidak sampai lima menit, kartu sudah dapat dioperasikan. Sesudah dibayar, saya kemudian naik angkot. Otak berputar. Bagaimana caranya untuk menguji kesetiaan suami lewat nomor baru, dan harus malam ini.

Saya tersenyum. Penasaran sekali ingin tahu, bagaimana reaksi suami kalau menerima pesan dari nomor yang tak dikenal.

Pergantian hari terasa sangat lama dan jadi melelahkan. Suami yang biasanya jarang di rumah, mendadak duduk manis di depan tv. Niat untuk ngerjain, agak sedikit ditahan. Maklum kalau ada orangnya, nanti malah ketahuan akal-akalan kita. Untung, tidak begitu lama, ada telepon yang masuk dari temannya, dan mengajak suami untuk menemuinya ke tempat yang disebutkan.

Yés. Saya Bahagia karena rencana untuk ngerjain suami akan terlaksana malam ini. Kira-kira dua jam dari suami pergi, saya mulai menyusun kata-kata. Biar terasa SKSD. So kenal so dekat.

"Assalamualaikum, Kang Dadang, sombong banget."

Saya memancing obrolan dengan kalimat yang kira-kira akan menarik perhatiannya.

5 menit, 10 menit tidak ada jawaban. Saya pikir, mungkin belum ada waktu luang untuk merespon jawaban, maklum, kalau suami sudah ngobrol, apalagi berbicara proyek, sering tidak fokus ke gawai. Atau bisa jadi disilent, atau bisa juga sedang dicas. Banyak sekali kemungkinan. Intinya, jadi wanita itu jangan over thinking. Harus selalu positif dan percaya diri. Tapi ternyata, kalau terlalu lama, malah jadi boomerang buat kita.

Di SMS sudah, tapi tidak ada respon. Akhirnya dichat lewat Whatsapp. Whatsapp sengaja memakai foto profil yang agak berbeda. Gambar bibir yang sedikit terbuka, merekah, dengan lidah yang sedikit dikeluarkan. Warna bibir merah menggoda, sedikit basah. Menurut saya, sangat sensual.

Tapia apa boleh dikata, jangankan dibalas, pesan dari saya malah masih belum dibaca. Ceklis belum berubah warna.

"Kang Dadang, ini Dini, ih mani somseu."

Masih tidak dibalas. Karena penasaran, akhirnya saya telepon. Tapi supaya suami tidak mengenali suara, saya berinisiatif untuk menutup gawai dengan kerudung, bekas tadi yang saya pakai ke kantor. Kerudung dilipat beberapa kali, semoga membantu memfilter suara.

"Tuuuuuut...tuuuuutttt"

Saya senyum simpul begitu terdengar nada telepon mulai nyambung.

"Hallow..." suara suami terdengar. Dingin.

"Iya, Kanggg, sehaaaat?" suara saya buat manja-manja merayu.

"Ini dengan siapa, ya?" Sepertinya dia tidak mengenali suara saya. Sebetulnya ingin tertawa, tapi saya coba tahan.

"Ih, Kang Dadang mani somseu ichhh...ieu Dini, temen SMA,"

Klik. tuuuuuutttt...tutttttt.

Hénpon mati. Saya tertegun. Dimatikan, atau habis pulsa. Karena penasaran, saya telepon lagi. Diangkat. Dengan penuh antusias, saya bicara panjang lebar.

Dasar sial, bicara sudah Panjang lebar, tetapi tidak direspon, ternyata telepon sengaja dibiarkan meracau sendiri. Kesal tapi Bahagia juga, ternyata suami tidak menanggapi telepon iseng.

Singkat cerita, suami pulang. Saya pura-pura tidak ada kejadian apa-apa. Setelah memberinya kopi panas, saya pun duduk di sampingnya.

Tangannya meletakkan gawai di atas meja dan melepas kaos kaki, kemudian melemparkannya ke sudut ruangan. Saya ambil gawainya, pura-pura mau minta transfer pulsa.

"Ayah, siapa ini yang nelepon, kok sampai beberapa kali begini? Mana gak ada namanya … dari cewek, ya? Ceroscosku.

"Cewek kurang setengah Ons." Katanya sambil mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, kemudian dengan santai masuk ke kamar mandi.

Gustiiiii, Ya Allah, saya disebut cewek kurang setengah ons oleh suami sendiri. Perasaan campur aduk, sedih tapi ingin tertawa.

Akhirnya saya malu sendiri. Sejak saat itu, saya tidak terlalu ingin tahu semua hal tentang dia. Yang jelas, selalu berpikir positif, dan tetap percaya diri. Itu saja.

Penulis adalah pengajar di SMKN 1 Cianjur

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post