UJI MENTAL (PENYIKSAAN?) BERKEDOK TANTANGAN
Tantangan menulis hari ke-28
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tantangan adalah hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya). Sejatinya, sebuah tantangan dijadikan pemicu agar yang mengikuti tantangan menjadi lebih terpacu di dalam mencapai sesuatu. Di dalam pencapaian tujuan yang dimaksud, dijelaskan bahwa penantang harus memiliki jiwa untuk belajar mampu mengatasi masalah di dalam proses pencapaiannya. Seberat apapun tujuan tersebut, bagi orang yang memiliki jiwa petarung, dia akan mampu menyelesaikan semuanya dengan cara menikmati proses, walaupun proses tersebut sangat rumit dan panjang. Dan ketika penantang telah sampai di tujuan, tentu ada kepuasan tersendiri dan biasanya menginginkan tantangan yang lebih berat sebagai uji coba mental yang bersangkutan, sekaligus belajar untuk lebih giat lagi.
Beberapa dari program tantangan, saya perhatikan sangat mengasyikan, termasuk tantangan menulis satu hari satu tulisan ini. Dalam menjawab tantangan menulis, bagi yang sudah merasa terbiasa, tentu tidak akan dijadikan masalah yang berat. Namun untuk pemula, lumayan berat juga, di mana kita harus terbiasa menangkap ide yang bisa saja muncul ketika kita sedang tidak berada di depan laptop, atau tidak sedang memegang gawai. Faktor daya ingat menjadi salah satu yang memiliki peran penting di dalam mengatasi masalah tangkap-menangkap ide itu sendiri. Selain tantangan menulis, ada juga tantangan membaca Al-Quran, membaca buku, melakukan kegiatan ekstrim, atau bahkan tantangan memakan sesuatu dengan iming-iming hadiah yang sangat menggiurkan. Ada beragam alasan seseorang mengikuti tantangan. Tergantung tantangan apa yang diikuti.
Untuk yang mengikuti tantangan menulis, banyak alasan seseorang dalam mengikutinya. Bisa jadi agar mereka menjadi disiplin, belajar produktif, bisa karena kerinduan sudah lama tidak menulis, bisa karena eksistensi, gengsi, dan masih banyak lagi. Apalagi ada hadiah yang disediakan panitia, walau ada banyak juga yang tujuannya bukan untuk itu (Hadiah atau sertifikat).
Namun, ada yang berbeda ketika saya menyaksikan siaran kontes Indonesia’s Next Top Model. Dulu, syarat menjadi pemenang ajang model-modelan atau ratu-ratuan, membutuhkan Beauty, Brain, dan Behaviour (3B) saja. Di zaman sekarang, tidak hanya membutuhkan 3B saja, namun menurut saya, seharusnya ditambah lagi dengan Brave (Berani). Mengapa, karena saya lihat, selain tiga B tersebut, ternyata para model pun dituntut untuk berani berpose di tempat dan kondisi yang ditentukan penyelenggara. Contoh nyata, para model diintruksikan untuk berpose dengan lebah yang kapan saja siap menyengat mereka. Ada lagi tantangan yang mengharuskan para peserta berendam di bath tub berisi air es, atau masih banyak lagi tantangan yang lainnya. Mau tidak mau para peserta dituntut untuk mendalami tantangan tersebut demi sebuah kata profesionalisme dan totalitas, juga ajang uji mental.
Tentu saja tantangan yang diberikan menuai pro kontra. Bagi Sebagian orang, tantangan tersebut dipandang masih layak, karena memang sangat berkaitan dengan keprofesionalan, namun di sisi lain, justru menjadi bahan pertanyaan dan kecurigaan, bahwa semua yang dijadikan tantangan yang dianggap membahayakan para peserta itu dipakai untuk kepentingan komersial yang sangat menguntungkan karena dapat mendatangkan cuan bagi pihak penyelenggara. Semua itu dijadikan konten ekstrim dan menarik bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang ekstrim pula.
Selain itu, keamanan para peserta juga menjadi taruhan. Walau ada penanggung jawab program, namun sepertinya acara tersebut perlu ditinjau ulang, jangan sampai seperti sebuah pemaksaan dan penyiksaan demi konten yang bukan hanya sebagai tontonan saja, tapi bisa menjadi sebuah tuntunan kepada yang melihat, sehingga menjadi sebuah ilmu baru yang belum mereka dapatkan.
Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
