BELAJAR MENGAMBIL KEPUTUSAN DARI MASALAH KETEK
Tantangan menulis hari ke-52
"Bu, mengajar di kelasnya si Monica, gak?" tanya Bu Heti, ketika istirahat sekolahan. Kami biasa melepas penat mengajar sambil membeli kue-kue kecil, dan dimakan bersama-sama.
"Iya, emangnya, kenapa, Bu?" jawab saya sambil menatapnya tajam.
Bu Heti dan Bu Ade saling berpandangan. Lantas keduanya tertawa serempak, seperti dikomando. Ibu-ibu yang kebetulan agak jauh, seperti diundang karena ada perbincangan yang hot. Mereka langsung mengerumuni meja kerja saya sambil mencicipi penganan yang ada.
"Aku kalo masuk ke kelasnya si Monica, suka pengen gumoh. Kepala pusiiiing!" Bu Ratna yang sedang mengandung tiga bulan, ikut menimpali.
Yang lain ikut menambahkan, dan perbincangan semakin menarik. Saya tersenyum. Ya, mereka sedang memperbincangkan kelas Monica, karena setiap saat kami mengajar di kelas tersebut, ada aroma yang sangat menusuk hidung. Kalau bau keringat biasa anak-anak olah raga, sebetulnya kami tidak terlalu ambil pusing, akan tetapi ini aromanya sangat khas. Anak yang jorok dan jarang sekali mandi. Campuran bau asem yang menyeruak, ditambah dengan bau apek karena bajunya juga kelihatan jarang dicuci, sehingga menimbulkan kombinasi yang sangat luar biasa. Aroma domba.
"Sebetulnya saya sudah memanggil teman sebangkunya untuk memberi tahu..." Bu Leli, yang menjadi wali kelas Monica, merasa sangat bersalah, karena seperti tidak dapat mengatasi masalah.
"Memangnya, sebenarnya siapa yang bau ketek?" Bu Ria menimpali.
Saya membayangkan barisan kedua dari pintu masuk kelas itu. Terbayang wajah Lena. Sebetulnya anaknya manis, apalagi postur tubuhnya tinggi langsing, hanya dia tidak merawat diri saja.
"Ituuuu, si Lenaa. Masak ibu gak tau!" jawab Bu Heti.
Semua lantas semakin bersemangat memperbincangkan Lena. Kasihan sebetulnya. Karena katanya dia anak yang kurang mampu. Tapi, bukan artinya dia tidak bisa merawat kebersihan, apalagi sudah mengganggu lingkungan sekitar, karena kata si Monica, hampir semua temannya, mulai menjauhi Lena gara-gara suka pusing akibat bau keteknya.
Saya tidak bisa membiarkan hal ini terus-terusan terjadi. Lantas berjanji, kalau besok, saya akan menuntaskan kelas si Monica, sebelumnya meminta izin dulu kepada Bu Leli sebagai wali kelasnya. Bu Leli tampak senang dan sama sekali tidak tersinggung. Beliau tidak bertanya, mau ditangani seperti apa. Yang jelas, saya meyakinkan semua, bahwa hal yang akan saya lakukan tidak akan menyinggung perasaan Lena, atau pun teman-temannya.
Hari di mana saya beraksi, tiba juga. Setelah jadwal pelajaran mengajar tiba, saya pun masuk ke kelas Monica dengan hati-hati. Pintu kelas dibuka. Dua langkah dari kaki melangkah, bau aroma Lena yang khas pun, mulai menusuk hidung. Saya bergegas menyimpan tas di meja sambil menghindari aroma tak sedap tersebut. Sebagai pengantar, seperti biasa saya selalu Intermezo ke sana ke mari, hingga akhirnya dihubungkan dengan kebersihan dan kesehatan.
"Barudak, sekarang sedang musim Covid. Kalian sudah tau, segala sesuatu tentunya harus steril, termasuk tubuh kita. Biasakan untuk selalu mencuci tangan, bahkan mandi adalah suatu keharusan. Sebetulnya mandi saja tidak cukup, karena cuaca yang sangat ekstrim, mengakibatkan tubuh kita mengeluarkan bau yang sangat mungkin mengganggu penciuman orang lain."
Tanpa disangka-sangka, hampir semua menoleh ke arah Lena. Lena sepertinya sudah pasrah dan tidak terlalu perduli. Saya lantas melanjutkan obrolan, bahwa ketika kita membuat orang lain merasa terganggu, sebetulnya ada yang tidak beres dengan diri kita. Dan itu harus diperbaiki, kalau tidak mau hidup kita tidak nyaman.
"Kemarin, ketika ibu ke supermarket, ibu di rumah selalu membeli bedak tabur. Penggunaannya sangat gampang. Ketika kalian selesai mandi, taburkan sedikit bedak tersebut ke daerah ketek. Dan, ibu ingat, kalau di kelas ini, semuanya aktif-aktif pergerakannya, sehingga semua guru memperbincangkan kelas kalian. Jadi, ibu berinisiatif untuk membagikan bedak tabur ini, satu orang dapat satu biji. Pokoknya, semua harus mandi dan gunakan bedak taburnya!"
Saya lantas bergegas mengambil bedak tabur yang dibeli kemarin sore. Semua kebagian, tanpa kecuali. Anak-anak merasa gembira karena mendapatkan barang gratisan. Begitu pula Lena. Wajahnya terlihat berseri-seri.
"Bu, kok bisa, kelas saya jadi gak bau bawang lagi?" Bu Leli terheran-heran ketika esok lusanya, keadaan kelas berubah. Semua yang memiliki jadwal di kelas tersebut pun mengiyakan.
Saya ceritakan taktik saya kemarin sambil tertawa-tawa. Bu Heti sampai geleng-geleng kepala sambil mengacungkan jempol.
"Yang jelas, saya tidak menyudutkan si Lena secara langsung, Bu-Ibu, tapi saya ajukan saja buat seluruh penghuni kelas itu, dan saya pikir, itu tidak akan menyinggung siapa pun!"
Yang lain hanya manggut-mqnggut dan ikut merasa senang karena dapat mengajar dengan tenang dan nyaman kembali. Tragedi bau ketek di kelasnya si Monica, terselesaikan sudah.
Saya bersemangat, lantas bergegas ke kamar mandi karena lupa kalau hari ini belum memberi ketek saya bedak tabur. Wkwkwk
Penulis adalah Guru SMKN 1 Cianjur
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
