Erni Wardhani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MANDEK, KENAIKAN PANGKAT GURU BIKIN RIBET?

MANDEK, KENAIKAN PANGKAT GURU BIKIN RIBET?

Tantangan menulis hari ke-34

Pemerintah setiap tahun selalu menekankan kepada para pendidik untuk segera mengusulkan pangkat apabila masa kita sudah waktunya. Ini terjadi karena di lapangan banyak sekali pendidik yang mandeg dan tidak menguruskan kenaikan pangkatnya. Paling banyak di golongan IIId. Banyak yang seakan patah arang untuk mencoba mengusulkan kenaikan pangkatnya. Lebih parah lagi, ternyata banyak yang sudah belasan tahun tidak diurus. Itulah sebabnya pemerintah menjadi terus-menerus menyemangati seluruh pendidik untuk tetap menaikkan pangkatnya ke golongan berikutnya.

Permasalahan sedikitnya pendidik yang mengusulkan kenaikan pangkat bukan hal yang baru. Ini berlangsung hampir setiap tahun.

Di lapangan, ternyata ada beberapa alasan yang menyebabkan para pendidik tersebut seolah enggan untuk mengusulkan kenaikan pangkatnya. Di antaranya adalah:

1.      1. Adanya syarat menulis karya tulis ilmiah

Menulis karya ilmiah, dianggap menjadi salah satu pemicu banyaknya guru untuk tidak mengusulkan kenailkan pangkat. Terus terang, ini memang agak berat karena tidak semua orang mampu menuliskan karya ilmiah, akan tetapi di sisi lain, seharusnya pendidik mampu membuatnya, toh untuk menyelesaikan kuliah dulu, mereka juga bisa mengerjakan skripsi. Jadi tidak ada yang harus merasa diberatkan.

2.      2. Tidak adanya sanksi yang tegas bagi pendidik yang tidak mengusulkan kenaikan pangkat

Sanksi sebetulnya sudah muncul, akan tetapi di dalam praktiknya ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bisa jadi ini juga sebetulnya karena pemerintah menilai dari beberapa aspek sehingga sanksi yang sudah digulirkan menjadi dianggap tidak bertaring. Kalau keadaan seperti ini terus, ke depan, maka pendidik yang mengusulkan kenaikan pangkat, akan tetap sama sepeti tahun-tahun sebelumnya.

 

3.      3.Merasa dipersulit oleh sistem

Tidak sedikit pendidik yang mengeluhkan, merasa dipersulit oleh sistem. Misalnya, susah turunnya SK jafung, PAK, dengan alasan yang kadang beragam dan tidak masuk akal.  Dari KCD disuruh ke Dinas, dari dinas dilempar ke BKD, dari BKD harus ke KCD. Ketika dikejar sampai ke BKD, malah ada yang bertanya mengapa tidak lewat KCD. Hal seperti itu dirasa menjadi pertanyaan yang memang memerlukan jawaban dari semua pihak sehingga para guru menjadi lebih tenang, mengingat mereka begitu bersusah payah berusaha demi golnya kenaikan pangkat mereka.

4.      4.Masih ada man behind the screen

Kejadian di beberapa kota mengajarkan kepada kita bahwa di lapangan masih ada atraksi maut permainan amplop yang tersembunyi secara sistematis dan terstruktur. Hal tersebut sudah sepantasnya untuk dibasmi sampai ke akar-akaarnya.  Tak tanggung, beredar rumor, amplop untuk bisa melenggang hingga mendapatkan PAK bisa sampai angka yang tidak sedikit.

5.      5.Kurang adanya motivasi dari pimpinan

Sejujurnya, hal ini memang bukan tugas utama dari seorang pimpinan, namun Ketika mampu memompa semangat bawahannya, maka hal ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

6.       6.Merasa sudah cukup sampai di golongan tersebut

7.      7. Masih adanya ketidakkompakkan tim penilai

Perbedaan persepsi antartim penilai menyebabkan adanya perbedaan hasil di lapangan. Dengan adanya perbedaan ini menyebabkan rasa ketidakadilan sehingga menimbulkan kekecewaan mendalam, dann bisa saja menimbulkan trauma yang berkepanjangan.

Contoh: Guru A dan guru B sama-sama mengajukan kenaikan pangkat. Ketika di akhir, si Guru A lolos, sedangkan guru B tidak lolos, dan yang menyebabkan ketidaklolosannya tersebut adalah PKG, sementara baik itu PKG guru A, maupun PKG guru B, aplikasinya sama, file dan berkas yang diswrahkan sama, tapi mengapa Ketika diumumkan, ada salah satu dari mereka yang tidak lolos. Itu hanya contoh satu dari sekian banyaknya kejadian di lapangan.

8.      8.Birokrasi yang Berbelit

Untuk SLTA, karena menginduk ke provinsi, maka untuk mempermudah birokrasi maka di setiap kabupaten kota ada kantor cabang dinas (di Jawa Barat). Oleh sebab itu, hal yang berhubungan dengan kenaikan pangkat/golongan, apabila ada permasalahan, maka kita hanya berkomunikasi dengan kantor cabang dinas. Namun, kenyataannya, permasalahan yang kita hadapi malah tidak dapat diselesaikan oleh kantor cabang dinas kita, bahkan meminta kita untuk langsung ke BKD.

Demikian beberapa alasan mengapa banyak pendidik yang tidak mengajukan kenaikan pangkat. Namun pemerintah provinsi juga sudah melakukan yang terbaik untuk mengatasi beberapa masalah di atas, diantaranya dengan memunculkan aplikasi daring untuk memudahkan para guru untuk mengusulkan kenaikan pangkat yang mudah-mudahan akan menjadi solusi buat kita semua.

 Penulis adalah guru SMKN 1 Cianjur

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post