PERJALANAN MALAM SEUSAI PERTENGKARAN
Tantangan menulis hari ke-48
Selepas pertengkaran hebatku dengan suami, tanpa banyak basa basi. kuambil kunci kontak mobil. Dia tidak berusaha menahanku untuk ke luar rumah. padahal waktu sudah menunjukkan pukul 20.35. Kubanting pintu dengan kasar sekali. Hawa di luar cukup dingin menusuk kulitku yang tak sempat mengenakan jaket. Angin lumayan agak besar, rambutku yang sebahu bergoyang goyang dibuatnya.
Pelan, kudorong pintu pagar, supaya terbuka lebar. Deritannya memecah malam yang sepi sekali. Biasanya pada jam-jam segini, tukang bakwan ada yang lewat, ... entah, malam ini dia tidak ada....
Kustarter pelan mobil, hingga mesin menyala, pelan ... mulai kususuri jalanan yang sangat lenggang. Terus terang, tak pernah aku keluar malam, namun malam ini aku harus pergi dari rumah. Entah, mau ke mana ... ke rumah teman, atau sekadar keliling kota, yang penting pergi.
Rumahku memang agak menjorok dari jalanan utama ... masih termasuk kampung juga, kanan kiri rumah penduduk kecil kecil dan rapat berpenerangan lampu 10 wattan. Kira kira 2 kilo dari jarak rumahku, rumah penduduk mulai jarang jarang...pemandangan tidak lagi lampu rumah, namun sawah sawah, pohon bambu, dan gemericik air yang mengalir sepanjang jalan yang kulalui.
Hati mulai berbisik tak nyaman. Aku melihat ke kaca spion depan mobil, melihat suasana di belakang, sangat lenggang, aku menghembuskan nafas lega. Kususuri lagi jalanan, kuputuskan untuk menyetel musik, namun entah karena angin yang lumayan besar, gelombang jelek sekali, akhirnya kumatikan kembali.
Belokan kedua membuat bulu kudukku berdiri, karena di sinilah, orang banyak yang memperbincangkan keangkeran. Nafasku mulai memburu, keringat kecil keluar dari kening. Aku celingukan, kupercepat gerak mobil sehingga daerah angker tadi cepat terlewati. Akhirnya terlihat kembali rumah penduduk walaupun satu sama yang lainnya renggang. Warung nasi mak Ènoh ternyata masih buka. Kebetulan juga, karena semenjak pulang ngantor, sampai aku bertengkar hebat, belum sebutir nasi pun masuk ke dalam perutku. Kuputuskan untuk mampir.
"Mak...kok masih buka...dikira warungnya tutup dari jam 5 sore" Kataku membuka percakapan sambil gemelutuk gigi menahan dingin yang sangat.
"Iya, neng ...lagi mau aja..." Kata mak Ènoh tanpa menoleh ke arahku.
Aku memesan nasi sama ayam goreng bumbu kelapa jagoannya. Tanpa banyak bicara, mak Ènoh melayaniku, termasuk memberi air teh panas kesukaanku.
Tiba-tiba ada mobil dari arah bawah melintas dan tanpa sengaja menyoroti kami. Mataku sedikit menyipit karena lumayan silau. Supir mobil itu mengangguk sambil senyum, namun wajahnya sedikit bengong. Aku balas senyumnya sampai mobil itu menghilang.
Setelah selesai makan, aku lantas menyerahkan uang pas. Dingin sekali tangan mak Ènoh. Aku berpamitan dan langsung menyalakan mobil. Beberapa kali kustarter, mobil tidak mau hidup. Aku mencoba bersabar, namun tetap mobilku mogok. Baru aku sadar, sudah beberapa hari aku tidak mengisi radiator, sehingga memaksa untuk membuka kap mobil.
Beruntung sekali ada dua orang lelaki yang lewat, membawa alat pancing. Kupanggil mereka, namun mereka seperti tak mendengar omonganku. Mereka terus saja berjalan sambil menatap lurus ke depan. Kukeraskan volume suara supaya dua orang lelaki tersebut mendengar. Benar saja keduanya berhenti, dan serempak menoleh ke arahku.
"Pak ... boleh minta bantuan,gak ... maaf ... mobil saya mogok..."Kataku sambil menatap ke arah dua laki laki tersebut. Dua orang yang kuajak ngomong tidak menjawab, hanya menatap dingin dan kaku. Sorot matanya aneh. Kosong nanar, tetapi tajam menghujam jantung.
"Boleh minta toloong,ga...." Suaraku parau, gemetar. tanganku menggenggam erat kap mobil yang masih terbuka. Jantungku berdegup kencang. Dalam hati aku berdoa sebisa mungkin. Dua orang yang baru kusadar berpakaian sama tersebut pelan menghampiriku sambil terus menatap kosong, aku menghindari pandangan keduanya dengan mengalihkan tatapanku ke arah bawah. Jalan kedua orang itu serempak, namun seperti tidak menapak di tanah. Aku mencoba melihat lebih jelas lagi ... yaaa memang tidak menapak ke tanah.
Tiba-tiba dari arah belakang ada mobil dengan lecepatan sangat tinggi sehingga membuat pandanganku silau lagi. Mobil melintas dengan cepat. Aku tak bisa menghentikan mobil truk tersebut, mau berteriak supaya hati hati agar tidak menabrak 2 orang tadi...namun mobil tersebut seperti kilat, dalam hitungan detik sudah lenyap. Aku tak tahu bagaimana dengan nasib dua orang asing tadi. Namun apa yang kulihat, dua orang tadi memang tidak ada.
Aku gugup, lantas melihat lebih jeli lagi, ke mana perginya dua orang berpakaian sama tadi, namun betul betul seperti hilang ditelan malam. Tubuhku semakin bergetar hebat. Kuputuskan untuk meminta air putih saja kepada mak ènoh, dan akan mengerjakan sendiri mengisi radiator.
Namun betapa terkejutnya aku, karena warung nasi tersebut tidak ada siapa siapa. Tidak ada mak ènoh, juga dagangannya. Sayup terdengar tawa kecil mengikik di belakang warung tua mak Ènoh.
Aku bergegas masuk ke dalam mobil namun mobil tidak bisa dibuka. Dengan kekuatan yang tersisa aku berlari, berlari, berlari sampai tubuhku jatuh dan tak sadarkan diri.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
